
“Kamu sedang apa di sini, Fred?” tanya Allan menatap curiga.
Freddie tersenyum getir, menatap lantai seolah mencari jawaban di sana. “Aku sedang mengunjungi seseorang.”
Allan manggut-manggut sambil mengusap dagunya. “Sepertinya yang kamu kunjungi orang istimewa ya, pakai bawa bunga mawar merah segala.” Ia tersenyum. Bola matanya memutar menatap Freddie dan Ayra bergantian. Melihat rona merah di wajah kedua orang itu, Allan sudah menebak ada sesuatu di antara mereka.
“Iya. Ini sebenarnya untuk ...” Freddie menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian melirik kesana-kemari demi mendapat sebuah alasan. “Untuk salah satu suster di sini!” Jawaban konyol Freddie membuat Allan ternganga.
“Oh, jadi ceritanya kamu sedang ada hubungan spesial dengan salah satu suster di sini, ya?”
Freddie menepuk jidatnya. Apa lagi saat menatap wajah Ayra yang sudah menunjukkan rasa kesal.
Sialan kamu, Allan! makinya dalam hati.
Sedangkan wajah Ayra sudah sangat masam, lalu tanpa sepatah kata pun masuk ke dalam meninggalkan mereka.
“Ya sudah, Fred. Lanjutkan pendekatan kamu dengan suster di sini. Kali aja jodoh.” Ia tersenyum, sebelum menggandeng anak dan istrinya meninggalkan tempat itu.
*****
__ADS_1
“Mas kenapa sih, dari tadi senyum-senyum terus?” tanya Giany memperhatikan suaminya yang sejak meninggalkan panti rehabilitasi terus tersenyum.
“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”
“Apa sih?” Giany menatap Allan penuh tanya. Karena tidak biasanya Allan senyum-senyum sendiri tanpa sebab yang jelas.
Allan lalu mengurangi kecepatan laju mobil, kemudian sesekali melirik Giany. “Kamu tidak perhatikan sesuatu yang lain tadi?”
“Yang mana?”
Allan kembali tertawa mengingat betapa paniknya Freddie menyembunyikan bunga mawar merah yang sengaja dibawa untuk Ayra. Namun, terpaksa ia berikan kepada salah seorang perawat hingga menimbulkan salah paham hingga Ayra merajuk.
“Itu si Fred ... Sepertinya dia sedang pendekatan dengan Ayra. Kamu tidak lihat dia bawa bunga?”
“Tapi kamu tidak perhatikan ekspresi Ayra, kan?” ujar Allan sambil tertawa. “Aku yakin setelah hari ini si Freddie butuh banyak bunga untuk membujuk Ayra.”
Meskipun masih bingung, namun Giany berusaha menangkap apa maksud suaminya. “Jadi maksud Mas Bu Ayra ada hubungan spesial dengan Pak Freddie?”
“Iya, Sayang.” Allan bernapas lega. Tawanya sudah berganti menjadi senyum. “Aku harap Ayra juga akan menemukan kebahagiaannya seperti kita. Freddie itu laki-laki yang baik. Aku sudah lama mengenalnya.”
__ADS_1
“Apa dia masih sendiri?”
“Beberapa tahun lalu cerai sama istrinya.”
“Kenapa cerai?”
“Mana aku tahu, Sayang. Itu urusan mereka.”
Giany tersenyum, lalu menoleh ke belakang. Maysha tampak sangat bahagia setelah bertemu Ayra. Ia terus memeluk boneka pemberian Ayra. “Senang ya Sayang, habis ketemu ibu?”
Maysha mengangguk dengan senyum sumringah. “Senang, Bunda.”
“Nanti minggu depan kita lihat ibu lagi ya. Mau kan?”
“Mau, Bunda.” Maysha mencondongkan kepalanya, lalu menciumi wajah Giany beberapa kali. “Maysha sayang Bunda, Maysha juga sayang ibu.”
“Bunda juga Sayang Maysha.”
Di sana Allan tersenyum senang melihat kedekatan Maysha dan Giany. Ia juga kagum karena Giany dapat membuat Maysha menerima Ayra sebagai ibunya. Selain itu, semua perkembangan Maysha selama ini adalah berkat kasih sayang Giany yang begitu tulus kepada putrinya.
__ADS_1
Giany ... Kamu membuat aku bangga menjadi perebut istri orang.
****