
Cemburu terhadap masa lalu adalah sesuatu yang normal dalam setiap hubungan baru, yang kadang melambangkan besarnya cinta seseorang.
Bohong jika wanita bernama Giany Namira tidak merasakan cemburu setelah mengetahui masa lalu suaminya. Cinta yang besar terhadap Allan membuatnya merasa takut kehilangan. Apalagi setelah melihat dan mengetahui standar cinta masa lalu suaminya. Wanita-wanita di sekitar Allan memiliki kecantikan luar biasa hingga membuatnya kurang percaya diri. Bahkan semalam saat tidur pun Giany bermimpi buruk.
Sore ini, Giany sudah menghabiskan waktu satu jam berada di sebuah ruangan di mana terdapat banyak kenangan masa lalu. Di dalam ruangan itu tersimpan album foto keluarga suaminya.
Giany tersenyum ketika menemukan sebuah album foto yang berisi masa kecil hingga remaja Allan. Melalui foto-foto itu, ia dapat menilai seperti apa suaminya di masa kecil dan remajanya. Allan sangat aktif dalam berbagai kegiatan semasa sekolah dan kuliah.
“Ternyata dari kecil Mas Allan memang bandel ...” Senyum masih menghiasi wajahnya.
Ia membuka Album lainnya dan menemukan foto Allan dan beberapa sahabatnya. “Wah, ini pasti Dokter Willy, Dokter Marchel dan Wira. Ternyata mereka berteman sejak SMP ya.”
__ADS_1
Giany menutup lembaran album dan meletakkan di lemari. Sudah ada beberapa album yang sudah ia lihat isinya.
Pandangannya kemudian mengarah pada beberapa album foto yang belum sempat dibuka. Satu di antaranya berhasil menarik perhatiannya. Sebuah album bersampul warna pink, dengan pita cantik dan unik di atasnya.
"Sampul albumnya lucu dan unik." Giany duduk di sofa dan meletakkan album di pangkuannya. Begitu membuka lembar pertama, sepasang bola matanya melebar.
Baru melihat halaman pertama saja sudah membuat dadanya terasa sesak, udara sejuk dari hembusan pendingin ruangan seakan tak cukup untuknya bernapas. Betapa tidak, ia disuguhkan foto pernikahan dengan konsep yang sangat romantis. Berbeda jauh saat pernikahannya dengan Allan, di mana Allan memilih menikah dengan konsep sederhana tanpa sebuah pesta meriah.
“Jangan buka!” Giany menutup kembali album berisi foto kebersamaan Allan dengan Ayra. Ia menarik napas dalam-dalam setelahnya. “Di sini pasti isinya Mas Allan sama Bu Ayra semua.”
Ia sudah hampir menangis di sana, tetapi didorong oleh rasa penasaran, akhirnya kembali meraih album itu dan membukanya.
__ADS_1
Dari beberapa foto, Giany dapat melihat betapa Allan sangat mencintai Ayra di masa lalu. Setiap pelukan, genggaman tangan, dan tatapan di antara keduanya menyiratkan cinta yang besar. Buliran air mata mengalir ketika ia menemukan satu foto Allan dan Ayra yang sedang berciuman dengan pemandangan Menara Eiffel di belakangnya.
“Sepertinya ini adalah foto bulan madu mereka di awal pernikahan. Wah, mereka bulan madunya di Paris.” Giany tenggelam dalam pikirannya sendiri. Di masa lalu, ia pernah menyimpan sebuah harapan yang bagi orang biasa sepertinya mustahil untuk terwujud. Bahwa jika menikah nanti, ia berharap memiliki keberuntungan untuk berbulan madu ke Paris.
“Kenapa aku jadi cemburu begini? Dulu Mas Allan memang sangat mencintai Bu Ayra, kan.”
Sementara di lembar lain terdapat foto kebersamaan Allan dan Ayra di sebuah kamar hotel dengan pemandangan indah Kota Paris di balik jendela kaca besar.
Giany merinding melihat betapa posesifnya Allan memeluk Ayra dengan membenamkan ciuman dalam di pipi, di atas tempat tidur yang masih tampak berantakan. Tanpa dapat dikendalikan, otaknya menjelajah memikirkan se-liar apa kegiatan semalam, hingga seprai dan selimut begitu berantakan.
"Aaa kenapa aku jadi panas rasanya? Apa sesakit ini melihat suami bermesraan dengan wanita lain, padahal itu hanya masa lalunya."
__ADS_1
***
Bersambung