
“Ja-jangan, Bu!” Allan hendak merebut ponselnya, namun Bu Dini segera menepis tangan Allan dengan hadiah tepukan di tangan anaknya itu. Membuat laki-laki itu gelagapan.
“Memang kenapa kalau ibu telepon? Pasti ada yang tidak beres kan, makanya kamu tidak mau kalau ibu telepon Babylicious ini.”
“Bukan begitu, Bu.” Allan sudah benar-benar merasa frustasi. Jika kali ini Bu Dini sampai menghubungi nomor itu, Allan bisa malu besar. Rahasia akan terbongkar dan Giany mungkin akan tidak nyaman dengannya jika mengetahui perasaan Allan yang sebenarnya.
“Ya sudah, biar ibu telepon dulu untuk kenalan. Ibu kan harus tahu, seperti apa wanita pilihan kamu. Jangan sampai salah pilih lagi seperti dulu.” Bu Dini menatap ke layar ponsel, menyelidiki nomor kontak Babylicious itu.
Sepasang netranya pun membulat saat mendapati obrolan antara Allan dengan seorang wanita bernama Babylicious yang ternyata adalah Giany. Wanita paruh baya itu pun bernapas lega sambil mengusap dada. Ada seulas senyum yang terlihat di sana.
“Makanya bilang dari tadi,” ujarnya sambil menyerahkan kembali ponsel milik Allan.
“Kan dari tadi sudah dikasih kode. Ibu yang tidak peka.”
“Ya sudah, kirim nomor Dokter Mega di whatsapp saja.”
“Iya, Bu,” jawab Allan sambil menghela napas panjang.
__ADS_1
Rahasia ini membunuhku. batin Allan.
Allan keluar dari rumah dengan terburu-buru setelah terjadi drama rebutan ponsel dengan sang ibu. Hampir saja rahasia besarnya terbongkar. Ia bersandar di mobil sambil mengatur napas yang terasa memburu.
“Huft … Hampir saja terbongkar. Mau ditaruh dimana ini muka kalau sampai ketahuan Giany. Misi merebut istri orang bisa gagal.”
Setelah dirasa cukup lega dan napasnya mulai normal, Allan menyalakan mesin mobil dan segera menuju rumah sakit tempatnya praktek.
🌻🌻🌻
Siang harinya …
Duduk di sebuah kursi panjang, Giany sedang menunggu antrian panjang. Ia melirik arah jarum jam di dinding. Sudah hampir satu jam mereka duduk di sana. Jika Giany terlihat gelisah, maka Bu Dini tampak sangat tenang.
“Bu … Apakah berdosa bagi seorang istri untuk menggugat cerai suaminya?” tanya Giany sambil menatap sedih berkas di pangkuannya.
Ada setitik air mata yang tertahan di sana. Walau bagaimana pun, Desta adalah suaminya dan sudah kewajiban seorang istri untuk berbakti kepada suami.
__ADS_1
Sambil tersenyum, Bu Dini mengusap rambut Giany. “Giany … Terkadang dalam perjalanan biduk rumah tangga ada persoalan yang sangat berat. Pasangan suami istri dituntut untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik dan perceraian itu bukan solusi terbaik. Tapi, perceraian boleh diambil jika sudah tidak ada jalan keluar lain lagi.”
Air mata yang sejak tadi berusaha dibendung oleh Giany akhirnya jebol juga. Berbulan-bulan ia mencoba mempertahankan rumah tangganya dengan Desta. Akan tetapi, yang ia dapat hanyalah kekerasan. Tidak hanya fisik, namun juga psikis yang menimbulkan trauma mendalam.
“Tapi bukankah perceraian itu perbuatan halal yang paling dibenci Allah, Bu?”
“Iya, Giany. Kamu benar, Nak.” Bu Dini menjeda ucapannya dengan helaan napas. “Laki-laki tercipta adalah sebagai pelindung bagi kaum perempuan. Tugas dan kewajiban seorang suami adalah melindungi istrinya, menafkahi lahir dan bathin, membimbing istrinya ke jalan yang benar. Selain itu, melimpahkan kasih dan sayang. Giany, apakah kamu mendapatkan hakmu sebagai istri selama pernikahan?”
Mendengar pertanyaan yang seolah mengoyak hatinya itu, Giany hanya dapat menjawab dengan gelengan kepala dan derai air mata. Jangankan sekedar melindungi, Desta justru menyakiti dan menyiksanya.
“Kalau suami tidak memberikan nafkah dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, maka istri berhak memilih, antara bertahan dan bersabar dengan kondisi yang dialami atau memilih berpisah. Kamu yakin mau menggugat cerai suamimu?”
Giany terdiam selama beberapa saat. Ia merasa bimbang akan keputusannya sendiri.
“Boleh saya tanya sesuatu, Bu?”
“Mau tanya apa, Giany?”
__ADS_1
“Kenapa Dokter Allan cerai dari Bu Ayra, Bu? Kalau dilihat dari pribadi Dokter Allan, bukannya dia menjalankan kewajibannya sebagai suami?”
🌻🌻🌻🌻