Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 68


__ADS_3

Setelah memastikan tidak ada luka serius, dokter mengizinkan Allan untuk pulang, dengan sebuah catatan, tidak boleh beraktivitas berat. Mereka baru saja tiba di rumah. Giany meletakkan sebuah bantal dan membantu Allan merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan sangat hati-hati.


“Pelan-pelan, Mas!” Giany membungkuk, membuat pakaiannya sedikit terkuak di bagian dada. Mata Allan pun melotot saat mendapatkan pemandangan tak biasa itu.


“Awh sakit!” Ia meringis kesakitan saat punggungnya menyentuh bantal, membuat Giany panik bukan kepalang. Padahal sebenarnya tidak ada yang sakit, ia hanya senang jika Giany mengkhawatirkannya. “Mungkin bantalnya harus dua. Punggungku sakit kalau berbaring dengan posisi lurus.”


“Aku tambah bantalnya ya, Mas.” Dengan gerakan cepat, Giany meletakkan satu bantal lagi. Ia membungkukkan tubuhnya untuk membantu sang suami berbaring. Membuat Allan mendapatkan kesempatan lagi untuk mengintip area perbukitan itu.


Gunung Himalaya Nya masih segar. Lumayan lah, mood booster hari ini. Tidak apa-apa kan, mesum sedikit. Sudah halal juga. Allan, Allan, modus saja terus. gerutunya dalam batin.


“Seperti ini sudah enakan?”


Yang enak bukan posisi berbaring nya. Tapi dipeluk sama kamu. batin Allan.


“Lumayan.” Giany menarik selimut menutup tubuh Allan hingga batas pinggang.


“Mas mau aku buatkan teh hangat?” tawarnya.


Allan mengangguk sambil tersenyum. Entah mengapa ia merasa Giany menjadi jauh lebih perhatian dan sedikit posesif. Rasanya tidak masalah jika harus mengalami sakit seperti ini, jika imbalannya perhatian dari Giany.


“Kamu tidak istirahat? Kamu pasti lelah juga kan?”


“Aku tidak apa-apa, Mas. Aku ke dapur sebentar ya ...”


“Jangan lama-lama ...”


"Iya."


Giany tersenyum sebelum melangkah keluar kamar meninggalkan Allan. Saat meyakini Giany sudah benar-benar keluar, ia mengangkat kedua tangannya ke udara, mewakili rasa bahagia atas keberhasilannya dalam mendapatkan perhatian dari istrinya.


“Mumpung sedang sakit enaknya minta apa ya? Apapun pasti dikasih sama Giany kan?” Allan membetulkan posisi berbaringnya, sambil memikirkan akan meminta apa dari sang istri. Sepertinya kesakitan di bagian punggung benar-benar hanya pura-pura. Ia bahkan mampu menggerakkan bagian punggungnya dengan leluasa.

__ADS_1


Diraihnya ponsel yang berada di atas meja, kemudian menghubungi seseorang. Sebelumnya Allan sudah meminta sesorang untuk menyelidiki kebakaran yang terjadi di restoran itu. Ia mencium sesuatu yang mencurigakan, termasuk Giany yang terkurung di kamar mandi.


“Bagaimana?” tanya nya sesaat setelah panggilan terhubung.


“Belum ada petunjuk, Bos! Beberapa kamera cctv yang terpasang di restoran ikut terbakar dan rusak. Saya akan periksa dari sisi lainnya. Semoga ada petunjuk yang tersisa. Polisi juga sedang menyelidiki kejadian ini.”


“Ya sudah, kalau ada info sekecil apapun, kamu kabari saya.”


“Baik, Bos!”


Sambungan terputus. Allan menarik napas dalam. Hanya ada satu nama yang ia curigai dan sudah pasti adalah Ayra. Tetapi ia tidak ingin gegabah dan langsung menuduh tanpa bukti. Yang pasti jika sampai terbukti bersalah, Ayra harus bersiap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Tak lama berselang, Maysha masuk ke dalam kamar. Allan merentangkan tangan, meminta Maysha mendekat. Maysha naik ke tempat tidur dan duduk di sisi sang ayah, membuat Allan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


“Ay-ah sa-kit ya?”


“Tidak, Sayang. Ayah tidak apa-apa. Maysha juga tidak apa-apa kan?”


“Ayah, ibu ja--hat sa-ma Bu-nda.”


Alis Allan berkerut mendengar ucapan Maysha. Walaupun pengucapannya belum sempurna dan masih belepotan, tetapi Allan mampu memahami dengan baik.


“Ibu jahat sama bunda? Jahat kenapa?”


“Maysha li-hat ibu bu-ang ku-nci ka-mar mandi di tem-pat sam-pah, Bunda nya ada di kam-ar ma-ndi.”


Allan mencoba mencerna apa yang sedang coba dijelaskan oleh Maysha. Ia meminta gadis mungil itu mengulang ucapannya hingga beberapa kali, barulah Allan mengerti. Mendadak kemarahan terlihat dari raut wajahnya. Tetapi masih berusaha menyembunyikan.


“Ya sudah, Sayang ... Tidak apa-apa. Yang penting kan bundanya Maysha tidak apa-apa.” Ia kembali memeluk, meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Sebab emosi Maysha adalah sesuatu yang harus selalu dijaga agar tetap stabil.


“Yah, May-sha tid-ak su-ka ibu ...”

__ADS_1


Ayah lebih tidak suka, Nak! batin Allan.


Mendapati wajah sedih Maysha, rasanya Allan tidak tahan. Ia tahu Maysha sangat memuja Giany. Sebabnya lah dirinya juga mengagumi wanita itu sejak awal. Satu hal yang Allan syukuri, setiap usaha yang dilakukan Ayra untuk menjauhkannya dari Giany, malah semakin mendekatkan mereka. Tidak ingin Maysha larut dalam kesedihan, Allan mencoba menghiburnya.


“Maysha mau ayah kasih tahu rahasia, tidak?”


Maysha mengangguk antusias. raut wajah sedih yang tadi terlihat di wajahnya mendadak hilang. Walaupun terkadang rahasia yang dibisikkan Allan lebih layak disebut jebakan.


“Maysha mau punya adik bayi?”


“Mau!” ia menjawab dengan cepat.


“Ayah kasih tahu caranya. Tapi Maysha jangan kasih tahu orang lain.”


“Iya.”


“Nanti malam sebelum tidur, minta sama bunda. Kalau Mayhsa minta, nanti adik bayi Maysha akan tumbuh di perut bunda. Mengerti kan? Mintanya sama bunda, bukan sama oma, apalagi sama Bibi Misa,” ucapnya agak menekan.


Maysha tampak sangat serius mendengarkan bisikan sang ayah, kemudian menjawab dengan anggukan kepala.


“Coba ulang, minta sama bundanya bagaimana?”


“Bunda, May-sha mau pu-nya de-de ba-yi.”


“Nah bagus! Ayah memang pintar!”


"May-sha ...!" ucap Maysha tak terima.


"Iya, Maysha yang pintar. Kan anak ayah!"


🌻

__ADS_1


__ADS_2