Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 65


__ADS_3

Mereka tiba di taman hiburan. Giany turun dari bus dengan pikiran melayang-layang. Mengingat Allan begitu dekat dengan seorang wanita asing yang ia duga adalah Babylicious. Giany mungkin cemburu. Itu hak nya sebagai istri. Tetapi jika mengingat lagi alasannya bisa menikah dengan Allan, akan terlalu egois baginya jika menyimpan perasaan itu.


Anak-anak saling berlarian memasuki sebuah taman hiburan tempat diadakannya lomba mewarnai gambar. Maysha berjalan penuh semangat sambil menggenggam tangan bundanya.


“Bun-da ... Ma-u pizza?” Ia menunjuk sebuah restoran favoritnya.


“Boleh, Sayang. Tapi nanti setelah lombanya selesai ya ...”


“Iya, Bunda.”


Tepuk tangan pun terdengar dari sudut sebuah ruangan. Ayra ada di sana dengan senyum kebencian. Mau apa wanita itu di sana, tentunya untuk sesuatu yang jahat. Menemani Maysha hanyalah sebuah topeng belaka.


“Wah, hebat juga kamu. Selain merayu ayahnya, kamu juga berhasil merayu anaknya sampai bisa memanggil kamu bunda. Dan kamu buat dia lupa siapa wanita yang sudah melahirkannya.” Sindiran pedas itu terucap dengan lancar dari mulut Ayra.


Maysha seketika berpindah ke belakang tubuh Giany untuk bersembunyi. Mata Ayra memicing. Ia tidak terima dengan penolakan itu.


Para ibu-ibu yang hadir di sana menatap sinis Giany. Beberapa di antaranya saling berbisik satu sama lain. Tetapi dasar ibu-ibu, bisik-bisik saja sampai terdengar dari jarak beberapa meter. Mereka seolah sengaja menyudutkan Giany.


“Maysha Sayang, duduknya di sana saja ya?” Tidak ingin Maysha ketakutan, Giany memilih membawanya untuk duduk di sebuah kursi kayu, di sudut ruangan itu. Tetapi Ayra tidak menyerah. Ia kembali melayangkan sindiran.

__ADS_1


“Lihat, Maysha sampai takut dengan ibunya sendiri. Kamu memang wanita yang licik.”


Rasanya Giany tidak tahan lagi. Ia pun berbalik, membalas tatapan tajam Ayra. “Kalau saya licik, lalu Bu Ayra apa namanya? Ibu kandung mana yang tega meninggalkan anaknya yang baru lahir? Dan bagaimana dengan trauma yang di alami Maysha sampai takut bertemu dengan ibu kandungnya sendiri?”


Ayra terdiam seketika. Tangannya mengepal hingga menonjolkan uratnya di punggung tangannya. Wajahnya memerah mewakilkan rasa malu kepada teman-temannya.


“Kalau Bu Ayra memang ibu yang baik, pasti bisa meluluhkan maysha dengan mudah. Dia bukan anak yang sulit untuk didekati, tapi tergantung orangnya tulus atau tidak. Anak kecil itu sensitif, mereka bisa menilai sendiri mana yang tulus, dan mana yang pura-pura.” Tanpa mempedulikan Ayra lagi, Giany membawa Maysha pergi ke sudut ruangan itu. Duduk menunggu lomba dimulai.


Sedangkan Ayra terdiam di tempatnya berdiri. Dari sana menatap penuh kebencian kepada Giany.


****


Maysha sudah siap dengan celemek khas restoran dan topi koki. Ada nama Maysha Hadikusuma yang tertulis di sana. Ia tampak antusias menunggu giliran. Ini adalah pengalaman pertamanya ikut kegiatan seperti ini.


“Bunda May-sha mau bu--at pizza ka-yak kak-ak itu,” ucapnya sambil menunjuk ke dalam dapur di mana dapat terlihat aktivitas beberapa karyawan yang sedang mengajari anak-anak lain cara mengisi toping di atas pizza.


“Iya Sayang. Tunggu giliran ya ... Habis ini giliran Maysha kok.” Gadis kecil itu mengangguk antusias.


Hingga tiba giliran untuk masuk ke dapur. Giany menemaninya.

__ADS_1


Dengan dibantu seorang karyawan restoran, ia mengisi toping di atas pizza. Sangat menyenangkan. Ayra masuk ke sana dan mulai mencari perhatian dari Maysha. Kali ini Giany tidak ingin egois. Ia membiarkan Ayra menemani Maysha walaupun gadis kecil itu sempat menolak. Tetapi Giany berhasil menenangkannya.


Beberapa menit cepat berlalu, Maysha sudah duduk di sudut lain dari restoran yang dikhususkan untuk anak-anak, sambil menunggu pemanggangan pizza buatannya. Giany tidak ikut masuk untuk memberi Ayra ruang agar bisa dekat dengan putrinya.


Gangguan pun kembali hadir saat beberapa teman Ayra menatap sinis Giany. rasanya sangat tidak tahan dengan semua sindiran pedas itu. Hawa panas terasa melingkupi tubuhnya. Ia memilih masuk ke kamar mandi di sudut dapur, membasuh wajahnya dengan air untuk menyegarkan suasana hatinya yang memanas.


Giany mengatur napas beberapa kali untuk menenangkan pikirannya. Bahkan ia tak mendengar ponsel yang sudah beberapa kali berdering.


"Percuma membela diri dari kaum pembenci seperti mereka. Hasilnya sama saja. Lebih baik menghindar. Lagi pula semua tuduhan mereka tidak benar. Aku tidak pernah merayu Mas Allan," ucapnya lalu membasuh lagi wajahnya dengan air.


Rasanya lebih segar ketika dinginnya air terasa menyerap ke pori-porinya.


Hingga beberapa menit kemudian ...


Bunyi alarm tanda bahaya yang berbunyi lama mengagetkan Giany yang masih menyendiri di toilet. Matanya seketika membola. Ia panik.


“Alarmnya bunyi? Memang ada apa?” wanita itu buru-buru menuju pintu toilet, memutar gagangnya beberapa kali. “Terkunci?” Giany panik sambil menggedor-gedor pintu.


🌻

__ADS_1


__ADS_2