Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 145


__ADS_3

Belum ada pembicaraan antara Allan dan Giany sejak beberapa menit lalu. Giany terus menundukkan kepala setelah mendapat pertanyaan yang nyaris membentaknya. Bibirnya mengatup demi menahan agar air mata tidak semakin deras mengalir di wajahnya. Sementara Allan masih bertahan dengan tatapan dinginnya.


“Untuk pertama kalinya kamu membuat aku kecewa. Giany ... Kamu paham adab seorang istri saat akan keluar rumah? Apa susahnya minta izin?”


“Ta-tapi, Mas—”


“Sudah. Mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkan semuanya.” Allan beranjak keluar dari kamar meninggalkan Giany.


Wanita itu diam membisu, tubuhnya terasa lemas, tidak pula memiliki keberanian untuk menyusul suaminya dan menjelaskan segalanya. Lalu, saat telah berhasil mengembalikan kesadarannya yang sempat membuyar, ia berjalan menuju meja rias. Menatap pantulan dirinya di cermin. Dalam hitungan detik, seisi kamar telah penuh dengan suara isak tangis.


Sementara Allan menuju dapur. Ia merasa membutuhkan air mineral dingin demi menetralkan rasa khawatir yang berlebih. Namun, segarnya air mineral yang menyapu tenggorokan terasa tak cukup mampu mengurai rasa panas yang menjalar di tubuhnya.


Allan duduk termenung di sana. Setelah beberapa menit, ia pun tersadar bahwa sikap kerasnya tadi mungkin agak berlebihan.


Hingga tepukan jatuh di bahunya.


“Kamu kenapa, Allan?” Laki-laki itu menoleh. Bu Dini berdiri di sisinya dengan tatapan penuh tanya.


“Tidak apa-apa, Bu. Lagi haus saja.”


“Oh ... Kirain ibu kenapa kamu melamun di sini,” ujarnya dengan senyuman. “Giany sudah tidur?”


“Belum, Bu.”


Sadar dengan nada bicara putranya yang terasa berbeda dari biasanya, Bu Dini pun merasa aneh. Seharusnya Allan senang dengan usaha Giany untuk menyenangkannya dengan tampil lebih cantik, bukan malah sebaliknya.


“Kamu kenapa sih, Nak? Apa ada masalah?”

__ADS_1


Tak ingin masalah dalam rumah tangganya diketahui orang walaupun ibu kandungnya sendiri, Allan memilih diam dan tak mengungkapkan apa yang membuatnya sedih.


“Tidak ada masalah apa-apa, Bu,” jawabnya dengan senyuman yang dapat terbaca oleh sang ibu.


Wanita paruh baya itu lantas duduk di sisi Allan. Ia genggam tangannya erat. “Kamu ribut sama Giany?”


“Tidak, Bu. Ribut kenapa? Semua baik-baik saja.”


Bu Dini tersenyum. Meskipun Allan berusaha menutupi, tetapi ia paham sedang ada yang tak beres. “Kamu tidak suka penampilan Giany yang baru? Dia cantik loh.”


“Suka lah, Bu. Giany biasa aja aku suka, apalagi cantik seperti tadi. Suami mana yang tidak senang kalau istrinya tampil cantik.”


“Kalau kamu senang kenapa murung?” Pertanyaan itu pun membuat benteng pertahanan Allan runtuh. Ia menghela napas panjang.


“Aku hanya tidak mengerti saja dengan Giany, Bu. Ini pertama kalinya dia tidak minta izin keluar rumah. Biasanya mau ke mana pun dia minta izin.”


“Kalau dia minta izin, aku tidak akan mencari sampai sepanik itu, Bu.”


“Tapi tadi sebelum keluar, Giany bilang sama ibu sudah minta izin. Giany tidak mungkin berbohong, kan?”


"Tidak, Bu. Giany sama sekali belum meminta izin untuk keluar. Dan bukan cuma itu, dia tidak bisa dihubungi dan pulang malam-malam.”


Perasaan kecewa dan sedih itu datang lagi. Ia berusaha menghilangkan dengan meneguk sisa air mineral hingga botol kosong.


“Lagi pula kenapa sih, Bu ... Giany harus make over segala. Kan aku sudah bilang aku sayang sama dia apapun bentuknya. Aku lebih suka Gianyku yang sederhana.”


“Tapi apa salahnya kalau dia mau menyenangkan suaminya dengan tampil cantik? Kalau ibu sih dukung saja. Makanya tadi ibu tidak cegah.”

__ADS_1


“Ibu tahu dia mau ke salon?”


“Tahu ... Sebelum pergi, dia bilang sama ibu. Katanya mau kasih kamu kejutan,” jawabnya menjelaskan. “Tapi ibu juga sempat heran sih karena dia tiba-tiba mau ke salon. Setelah dia menghabiskan waktu beres-beres album foto.”


“Beres-beres album foto?”


Bu Dini mengangguk sebagai jawaban.


"Di ruang penyimpanan foto-foto, Bu?" Meskipun penasaran, tapi Allan berusaha menutupi apa yang tengah mengganjal di pikirannya. Tak ingin sang ibu sampai terbebani. “Em ... Ya sudah, Bu. Ini sudah mau larut. Ibu istirahat, ya.”


“Iya. Kamu juga istirahat, Nak.” Bu Dini mengusap bahu putranya. “Allan, kamu harus lebih sabar dan peka. Ingat, ada anak kamu yang sedang tumbuh di rahim Giany. Jangan sampai kamu tanpa sengaja mengucapkan sesuatu yang menyakiti hatinya.”


“Iya, Bu.”


*****


Allan masuk ke sebuah ruangan usai pembicaraan dengan ibunya yang mengatakan Giany mendadak ingin ke salon setelah membereskan ruangan itu. Ia mendekati meja dan menemukan beberapa album yang belum selesai dirapikan.


Laki-laki itu pun membuka album foto satu persatu, hingga akhirnya terkejut dengan temuannya. Foto kemesraannya dengan Ayra.


“Foto-foto ini ...” Ia menarik napas dalam. Akhirnya menemukan sesuatu yang mungkin menjadi penyebab Giany ingin tampil lebih cantik. Sadar dengan kesalahannya yang telah membentak tanpa mendengar penjelasan, ia bergegas menuju kamar.


Begitu tiba di ambang pintu, ia melongokkan kepala ke dalam. Giany tampak sedang duduk di depan meja rias. Ia membuka kerudung yang menutup rambutnya. Lalu kemudian mulai menghapus make up yang membalut wajahnya dengan tissue basah. Namun bukan itu yang membuat Allan membeku, melainkan isak tangis yang perlahan berubah menjadi suara sesegukan karena Giany terus berusaha menahannya.


🌻


bersambung

__ADS_1


__ADS_2