Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 97


__ADS_3

Giany tiba di kantor May-Day. Seperti biasa, ia akan datang di siang hari untuk membawakan suaminya makan siang dan kadang akan menemani hingga jam pulang kantor. Allan selalu punya akal bulus untuk membuat Giany tetap menemaninya.


Waktu 24jam sehari seolah tak pernah cukup bagi Allan untuk dihabiskan bersama sang istri.


“Tidak usah antar saya ke atas, Pak! Pak Joko langsung pulang saja,” ucap Giany saat mobil tiba di depan lobby kantor.


“Bu Giany nanti pulangnya sama bos ya?”


“Iya, Pak. Mas Allan mintanya ditemani lagi hari ini.”


Sambil memainkan ponselnya, Giany melangkah masuk ke dalam gedung kantor. Ia sedang saling berkirim pesan dengan Allan, yang mana membuat senyum terbit di bibirnya.


"Kenapa aku jadi merasa Mas Allan jelmaan Abu Nawas ya?" gumamnya sambil membalas pesan terakhir yang baru saja dikirim Allan.


Beberapa karyawan yang berpapasan pun memberi salam, Giany dengan ramah membalas.

__ADS_1


Melewati meja resepsionis, ia segera menuju lift dan tanpa sengaja menabrak seseorang hingga berkas di tangan orang itu jatuh berhamburan ke lantai.


“Maaf saya tidak sengaja,” ucap Giany sambil membungkuk membantu memunguti kertas yang menghambur. Namun, sepasang bola matanya tiba-tiba melebar saat menyadari siapa yang baru saja ditabraknya. “Ma-mas Desta ... maaf.” Ia reflek berdiri dengan tubuh yang gemetar.


“Tidak apa-apa. Maaf ya, aku yang tidak lihat-lihat.”


Giany mengangguk. Tanpa mengucapkan apapun lagi, ia segera menuju lift. Sementara Desta hanya menatap punggung Giany yang telah menjauh. Ia sadar Giany masih sangat trauma akibat kekerasan yang dilakukannya dulu.


Penyesalan memang letaknya di belakangan seperti dorayaki kesukaan Allan, kalau yang di depan itu namanya serabi hangat. Jadi, tidak akan semudah itu menghilangkan trauma, Ferguso!


Ini adalah hadiah berupa karma untuk Desta—dari para readerlicious yang mengutuk kelakuan buruknya.


“Aaaaa!” Tiba-tiba terdengar suara teriakan menggema, yang mana mengejutkan beberapa orang termasuk Desta. Mereka sontak menoleh ke sumber suara. Mata Desta melotot kala tatapannya tertuju pada pintu lift yang terbuka.


“Giany!” teriaknya bercampur rasa khawatir dan takut. Ia berlari kencang ke arah lift diikuti beberapa karyawan lain.

__ADS_1


Panoramic elevator itu mengalami malfungsi. Pintu terbuka, tetapi tidak ada lift di dalamnya. Giany yang sedang merasa takut kepada Desta pun tak lagi memperhatikan keadaan sekitar sehingga tidak menyadari bahaya yang ada. Ia terjatuh menimpa atap lift yang sedang turun menuju basement.


Desta melirik ke bawah sana dan melihat Giany sedang meringis memegangi pergelangan kakinya. Rasa takut dan khawatir Desta pun semakin menjadi, tetapi Akal sehatnya segera kembali menyadari Giany sedang dalam bahaya jika tidak segera ditolong. Jarak dari lantai satu ke basement cukup jauh.


“Rina, cepat hubungi bagian teknisi, suruh matikan listrik di gedung A!” teriak Desta pada resepsionis.


“Baik, Pak!” jawabnya gemetar. Wanita itu pun segera meraih gagang telepon, lalu menghubungi bagian teknisi.


Dalam beberapa saat suasana sudah menjadi gelap karena aliran listrik telah dimatikan.


Tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri, Desta turun dengan berpegangan pada tali penahan lift, ia terperosok ke bawah sehingga telapak tangannya terluka. Dahinya mengerut, ia mendesis ketika merasakan dengan jelas perih, saat tali penahan lift mengiris kulit tangannya.


Desta segera mendekati Giany yang masih terlihat kesakitan, lalu memastikan tidak ada luka serius di bagian tubuh wanita itu. Beruntung Giany terjatuh saat lift belum jauh turun, sehingga tidak terjadi luka serius.


“Kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit?” tanyanya khawatir, sementara Giany yang masih syok belum sanggup menjawab.

__ADS_1


Ia menatap Desta dan melihat tangannya yang mengeluarkan darah. Giany tidak menyangka jika Desta rela membahayakan diri demi menyelamatkannya.


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2