
Bu Dini mendatangi rumah Pak Ustad Somad tempat Giany sekarang tinggal untuk sementara waktu. Wanita paruh baya itu datang dengan membawa beberapa lembar pakaian untuk Giany, karena selama berada di rumah itu, Giany tidak boleh pulang ke rumah Allan.
Anak perempuan Ustad Somad membawa Bu Dini ke sebuah kamar. Giany tidur di kamar anak gadis sang ustad. Sejak semalam Giany belum keluar kamar sama sekali.
"Giany ..." Suara panggilan Bu Dini membuyarkan lamunan Giany. Ia menatap lekat wajah calon menantunya itu. Matanya sembab dan terlihat jelas bahwa pemilik mata itu habis menangis.
"Ibu ..." Sepasang mata milik Giany yang tadinya sudah kering mulai basah oleh air mata. Ia berlari menghambur memeluk Bu Dini. Suara isak tangis pun seketika memenuhi ruangan berukuran 3x3 meter itu.
"Sudah, Nak, jangan menangis lagi." Bu Dini memeluk sambil mengusap rambut dan punggung Giany.
Tetapi bukannya segera mereda, tangis Giany malah semakin kencang.
***
"Saya harus apa, Bu? Mereka memfitnah saya dan Dokter Allan." Sambil menyeka air matanya dengan jari.
__ADS_1
"Sabar Giany. Mungkin ini sudah jalannya."
"Tapi bagaimana dengan Dokter Allan, Bu? Dokter Allan kan sudah punya piihan sendiri, calon ibunya Maysha."
Bu Dini menatap Giany dengan iba. Sebenarnya ia ingin memberitahu bahwa wanita yang disukai Allan adalah dirinya, tetapi bukanlah haknya untuk membocorkan sesuatu yang masih dirahasiakan Allan. Biarlah nanti Allan sendiri yang mengungkapkan perasaannya terhadap Giany.
Dengan penuh kelembutan, wanita itu mengusap punggung Giany. Mencoba memberitahu bahwa semua akan membaik.
"Allan pasti sudah memikirkan semua keputusannya. Lagi pula cara untuk kamu terbebas dari gangguan mantan suamimu adalah dengan menikah lagi. Kamu tenang saja, Allan pasti menjaga kamu dengan baik."
"Tidak usah peduli dengan omongan seperti itu. Lama-lama juga reda sendiri seiring berjalannya waktu."
Bu Dini memeluk Giany. Ia menyandarkan kepala Giany di bahunya. "Sekarang lebih baik memikirkan persiapan pernikahan kalian. Ibu mau ke butik dulu memesan kebaya untuk kamu."
Alis Giany mengerut menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya itu. Entah perasaan itu berasal dari mana, tetapi ia melihat Bu Dini seperti sangat bahagia.
__ADS_1
Di belahan bumi yang lain ...
Pecahan kaca berhamburan di mana-mana. Kamar yang tadinya bersih dan rapih mendadak bagai sebuah kapal pecah. Ayra yang baru saja mendapat informasi dari orang terpercaya, bagaikan telah kehilangan akal sehatnya.
Rencana licik yang ia gunakan untuk memisahkan Allan dan Giany malah berbalik menjadi pukulan telak baginya. Bukannya diusir dari lingkungan tempat tinggal Allan seperti rencananya, Allan malah dituntut untuk segera menikahi Giany. Sungguh berita itu sangat tidak diharapkan oleh Ayra.
"Arrgghh!!" Suara teriakan Ayra menggema. Membuat seorang wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangganya tidak berani mendekat dan hanya diam di depan pintu kamar.
"Tidak boleh! Allan hanya milik aku. Dia tidak boleh menikah dengan Giany!" teriaknya sambil menghempas beberapa bingkai foto yang tertata rapi di atas meja buffet.
Ayra meringkuk di sisi lemari berbahan kayu jati itu. Menelungkupkan wajahnya di antara ke dua lututnya. Mungkin sepenuh hatinya telah menyesali tindakannya yang tega menyuap beberapa warga dengan sejumlah uang untuk menyebar fitnah kepada Giany dan Allan. Yang malah sangat menguntungkan bagi mantan suaminya itu.
Karma memang ada dan dibayar lunas oleh Ayra.
🌻
__ADS_1
.