
Pandangan Giany menyapu seisi kamar bercat abu-abu itu. Sebuah kamar pengantin yang udah dihias sedemikian rupa. Sangat romantis dengan seprai dan tirai yang indah. Mungkin akan menjadi sebuah tempat yang sempurna jika saja penghuni kamar itu menikah karena saling mencintai, tetapi tidak dengan Giany. Setahunya Allan terpaksa menikahinya karena desakan warga. Terlebih suaminya itu telah memiliki seseorang yang ia cintai bernama Babylicious. Apalah arti seorang Giany yang hanya pengasuh Maysha.
Bagi Giany, mungkin keadaan ini tidak jauh berbeda saat menikah dengan Desta, di mana laki-laki itu memiliki kekasih yang ia cintai, yang membuatnya membenci Giany. Dan kini, dengan Allan pun keadaannya hampir sama.
“Di lemari itu ada pakaian untuk kamu.” Suara Allan memecah kebekuan. Ia menunjuk sebuah lemari besar yang ada di sudut ruangan. “Ibu yang sudah siapkan semua untuk kamu.”
Giany mengangguk pelan. Tubuhnya reflek bereaksi saat Allan berjalan mendekat padanya. Allan dapat melihat dengan jelas betapa wanita itu gemetar dan tampak tidak nyaman berada di kamar yang sama dengannya. Allan mengerti bahwa Giany butuh waktu dan ia akan menunggu sambil mengajarkan makna kasih sayang dari pasangan suami-istri yang sebenarnya.
“Kalau butuh sesuatu bilang saja.”
“Mas ... Apa boleh aku tidur di kamar bawah saja bersama Maysha?” Entah mengapa kalimat yang terdengar bodoh itu lolos begitu saja dari bibir Giany, membuat Allan tersenyum lembut.
“Giany ... Kita sudah menikah. Apa kata ibu dan saudara lainnya kalau kita tidur di kamar yang terpisah? Kamu jangan takut. Sampai kamu mengizinkan, aku tidak akan menyentuh kamu.”
Giany menatap Allan lekat-lekat. Dalam benak bertanya, bagaimana ia tahu apa yang ada di benaknya sekarang? Allan memang seorang laki-laki yang berbeda.
“Terima kasih, Mas.”
Setelahnya ia beranjak menuju lemari. Baru membuka pintunya saja sudah membuat mata Giany membulat. Di dalam lemari itu penuh dengan pakaian baru yang sudah disiapkan ibu mertuanya. Setelah beberapa menit berdiri di depan pintu, pilihannya jatuh pada setelan piyama berwarna biru. Dari banyaknya setelan piyama, hanya yang biru ini yang agak tebal dan tidak begitu tipis.
Dengan membawa jubah mandi dan piyama, Giany masuk ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi ia harus menghabiskan waktu beberapa menit berkutat dengan kancing kebaya. Ia lumayan kesulitan membukanya, karena setengah punggung adalah resleting, dan setengahnya kancing. Tentu saja Giany membutuhkan bantuan seseorang untuk membukanya.
Bagaimana ini. Masa minta bantuan Mas Allan. Kan malu.
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka setengah. Kepala Giany melongok keluar. Terlihat Allan sedang duduk selonjoran di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
“Mas ...”
“Iya ...” Allan menoleh dengan gaya sok keren. Padahal ia tahu apa maksud dan tujuan Giany memanggilnya. Sudah pasti urusan kancing baju. Allan menyembunyikan seringai di wajah mesumnya. “Ada apa?”
Giany masih terlihat malu memikirkan punggung polosnya terlihat oleh Allan. Tetapi akan lebih memalukan jika ia turun ke lantai bawah hanya untuk minta bantuan Bibi Misa atau Bu Dini untuk membantu membuka kancing kebayanya.
“Mas, bisa minta tolong bukakan kancing baju aku di belakang?”
“Oh, iya ... Sini.” Ia masih berpura-pura santai, padahal dalam hati bergejolak.
Kapan lagi bisa lihat punggung mulus ini. Mesum kan tidak apa-apa, sudah halal ini. batin Allan.
Allan berdecak sambil memaki dirinya sendiri.
Padahal duda sama janda ya ... Tapi kelakuannya kayak pasangan yang baru pertama kali menikah. Ada malu-malunya gitu. Menyebalkan!
🌻🌻🌻🌻
Giany baru saja keluar dari kamar mandi. Sudah menggunakan setelan piyama berwarna birunya. Matanya kembali tertuju pada tempat tidur, di mana Allan masih duduk santai sambil memainkan ponselnya.
Giany duduk di depan meja rias. Menyisir rambut panjangnya. Sesekali Allan melirik dengan ekor matanya.
__ADS_1
Cantiknya istriku. Sayang belum boleh disentuh. Tahan Allan, Giany itu korban kekerasan dalam rumah tangga. Untuk menyembuhkan traumanya harus pelan-pelan.
“Giany ... Kamu tidak mengantuk?” tanya Allan setelah melihat mata Giany mulai sayu. Ia sudah hampir satu jam duduk di depan meja rias. Allan tahu istrinya itu lelah dan mengantuk, tetapi malu untuk berada dalam satu tempat tidur dengannya. “Ayo sini!” Sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Ragu-ragu Giany mendekat dan duduk di bibir tempat tidur. Membelakangi Allan.
“Kamu tidur saja. Aku tidak akan mengganggumu.” Dengan penuh kelembutan Allan menarik selimut menutupi tubuh Giany. Ia beri kecupan singkat di kening, membuat Giany merasa merinding.
“Iya, Mas.”
Separuh malam pun terlewati. Pencahayaan kamar temaram karena hanya lampu tidur yang menyala. Giany terbangun saat merasakan sesuatu yang berat berada di atas perutnya.
Ya ampun apa ini? kesadarannya seketika kembali. Ia sempat lupa telah menjadi istri seorang Allan Hadikusuma. Memberanikan diri menoleh, Giany menatap wajah Allan yang sudah tertidur pulas. Dan yang membuat segalanya terasa memanas adalah, ia memeluk Giany seperti bantal guling. Bahkan Giany sampai susah bergerak dibuatnya.
Padahal wanita itu sudah sengaja tidur di ujung ranjang. Allan memeluknya seolah takut jika Giany sampai terjatuh ke lantai.
Perlahan tangan Giany menyentuh tangan Allan yang melingkari perutnya. Ingin memindahkannya, tetapi berat. Dan lagi, ia tidak ingin suaminya terbangun.
Pasrah, Giany memilih memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur, walaupun jantung nya terasa akan melompat keluar. Tanpa ia sadari bahwa seulas senyum kebahagiaan tengah terbit di wajah Allan.
Peluk juga sudah sebuah kemajuan. Semangat Allan. batin Allan.
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1