Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 82


__ADS_3

Allan bangkit dari tempat tidur lalu membenarkan kemeja yang sedikit kusut, kemudian melirik Giany yang tengah menyembunyikan wajahnya akibat rasa malu.


"Mau apa kamu kemari? Minta dipecat ya kamu?" tanyanya ketus.


Amir memindahkan telapak tangan yang menutupi matanya. "Loh, bukan salah saya, Bos. Kan Bos yang tidak tutup pintu. Mana saya tahu kalau Bos sama ibu lagi tidak bisa diganggu."


"Banyak alasan kamu!"


Amir menggaruk punggung lehernya sambil terkekeh. "Itu, Bos. Saya mau tanya ... Bos kapan mau pindah? Biar sama sama Joko siapkan kepindahannya."


"Jadi kamu jauh-jauh datang dari ujung lantai satu ke ujung lantai tiga cuma mau tanya itu!" Pertanyaan Allan terdengar sangat mengintimidasi, membuat Amir merinding.


"Ya, itu kan pertanyaan penting, Bos. Jadi, kapan mau pindah?" Masih berani mengulang pertanyaan yang sama, padahal raut muka sang bos sudah menunjukkan kekesalan level mematikan.


"Kalau kamu tidak turun sekarang, saya pecat kamu tanpa pesangon!"


Amir gelagapan, walaupun ia tahu Allan tidak akan pernah mewujudkan ancaman memecat dan potong gaji, tetap saja ancaman itu membuatnya merinding.


"Si-siap, Bos."


Setelahnya, Amir meninggalkan ujung lantai tiga, menuju ujung lantai satu. Menghindar adalah jalan terbaik baginya jika si bos sudah menunjukkan gejala penurunan imun.


Setelah memastikan Amir tidak berada di sana lagi, Giany pun segera menghampiri suaminya.


"Mas, pulang saja yuk."


"Yang ini tidak dilanjut?" tanyanya dengan raut muka memelas.


Pipi Giany memerah. Kedapatan oleh Amir adalah sesuatu yang sangat memalukan baginya. "Lanjutnya di rumah saja, Mas. Di sini kan tidak ada baju ganti."


"Iya juga sih. Em, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall saja ya. Kamu kan mau beli hape baru."

__ADS_1


🌻


Setelah melihat rumah barunya, Allan membawa Giany mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Sepanjang berkeliling ia tak pernah melepas genggaman tangannya. Hal yang membuat Giany merasa sangat dicintai dan disayangi sebagai seorang istri, karena Allan benar-benar memanjakannya dengan kasih sayang.


Setelah lama berkeliling dan membeli sebuah ponsel dan beberapa barang, mereka menuju sebuah food court. Allan sedang memesan makanan, sementara Giany duduk menunggu di meja di sudut ruangan itu. Ia menatap punggung Allan yang sedang mengantri.


"Baiknya suamiku. Sudah lembut, penyayang, perhatian lagi. Aku sangat beruntung."


Wanita itu melirik beberapa kantongan belanjaannya. Entah mengapa dalam pikirannya membandingkan kehidupan sekarang dengan saat bersama Desta yang sangat jauh berbeda.


"Dulu dengan Mas Desta, jangankan mengajak jalan-jalan seperti sekarang, dia bicara sama aku saja membentak terus."


"Memikirkan apa sih, kok melamun?"


Lamunan Giany membuyar. "Tidak memikirkan apa-apa." Allan meletakkan makanan yang ia pesan dari sebuah food court, menggeser ke hadapan Giany.


"Kok cuma satu?"


Giany terkekeh. Suaminya memang raja modus. Saat kencan seperti sekarang saja masih saja modus. Bedanya sekarang modusnya terang-terangan, tidak lagi sembunyi-sembunyi.


"Bisa aja, Mas."


"Bisa dong. Apalagi kalau makan disuapi kamu. Aku pasti cepat besar."


Giany tertawa mendengar kalimat rayuan suaminya. Kemudian mencubit gemas lengan Allan. "Ini kan tempat umum, Mas?"


"Budu amat! Kalau kamu tidak mau suapin aku, biar aku yang suapin kamu."


"Aku malu dilihat orang."


"Malu kenapa, sama suami sendiri."

__ADS_1


Allan menyodorkan sesendok makanan ke hadapan Giany, membuat wanita itu membuka mulutnya dengan malu-malu, sambil melirik beberapa pengunjung lain, seolah berharap tidak ada yang melihat.


Saat sedang asyik makan berdua, tanpa mereka sadari sepasang mata terus menatap mereka dengan penuh kecemburuan.


Desta geram, terlihat dari rahangnya yang mengeras. Bahkan sebotol air mineral di genggamannya telah remuk. Tak tahan, ia akhirnya menghampiri pasangan pengantin baru itu.


"Wah, hebat ya ... Allan Hadikusuma dengan istri barunya," ucap Desta menyindir, membuat sendok makan ditangan Giany jatuh begitu saja ke lantai.


Sontak wanita itu gemetar ketakutan melihat Desta di sana. Menyadari itu, Allan merangkul bahunya erat.


"Mau apa kamu?" tanya Allan sinis.


Desta terkekeh seraya melayangkan tatapan tidak bersahabat kepada Allan. "Saya cuma mau mengucapkan selamat, karena kamu sudah berhasil merebut istri saya dengan cara yang licik."


Allan membalas dengan tatapan tajam. Ingin menghajar Desta, tetapi bukan saat yang tepat, baginya lebih penting menenangkan Giany yang kini terlihat ketakutan.


"A-ku mau pu-lang, Mas," lirih Giany berbisik ke telinga Allan.


"Iya, Sayang. Kita pulang sekarang ya ..."


Mendengar kata sayang yang disematkan Allan untuk Giany membuat Desta seakan terbakar. Cemburu? Tentu saja.


Allan membantu Giany berdiri dan mengambil beberapa paper bag belanjaannya.


"Giany ..." Dengan lancang Desta meraih pergelangan tangan Giany, membuat Allan naik pitam.


Bugh! Ia reflek melayangkan kepalan tinjunya ke wajah Desta.


"Jangan sentuh istri saya!"


🌻

__ADS_1


__ADS_2