
Mobil yang dikendarai Allan memasuki halaman rumah setelah Amir membuka gerbang. Ia segera turun dan masuk ke dalam rumah. Sepertinya semua penghuni rumah sedang sibuk membereskan beberapa barang, karena besok mereka akan pindah ke rumah baru.
Ada beberapa kotak barang yang berjejer di ruang tengah. Allan mengedarkan pandangannya mencari sosok Giany yang tidak terlihat.
“Ayah!” Maysha berlari dengan riang menyambutnya, sehingga Allan merentangkan tangan untuk memeluk dan mengecup pipi gempil Maysha.
“Anak ayah lagi apa?”
“Lagi ngerjain PR, Ayah ...”
“Wah lagi belajar ya ... Pintar anak ayah.”
Allan menggendong Maysha menuju sofa ruang keluarga dan menemaninya belajar. Allan memperhatikan tulisan tangan Maysha yang masih lumayan berantakan. “Maysha ada PR apa sih?”
“PR tulis surat buat Lyla.”
“Oh, tapi tulisannya dirapiin sedikit, Nak ...”
“Tidak apa-apa, Ayah. Lyla juga belum bisa baca kok, kalau tulisannya jelek kan tidak apa-apa.”
Allan menepuk dahinya. “Iya juga sih. Kalau begitu buat apa menulis surat untuk Lyla coba.” gumamnya sambil mengusap puncak kepala Maysha. “Bundanya mana, Nak?”
“Di kamar oma.”
“Ya sudah, Maysha lanjut nulis suratnya, ayah cari bunda dulu ya.” Allan akan berdiri, namun Maysha menarik ujung lengan kemejanya.
“Ayah, Maysha kapan punya dede bayi kayak Lyla. Masa Lyla sama Chella punya dede baby boy. Maysha tidak punya.”
“Nanti ayah buatin, Sayang. Tapi ada syaratnya. Mau tidak?”
“Mau,” jawab Maysha penuh semangat.
“Ayah mau ke kamar atas sama bunda. Tapi Maysha jangan ikut, nanti kalau Maysha ikut, dede bayinya tidak mau keluar dari perut bunda. Ngerti, kan?”
__ADS_1
“Ngerti, Ayah.”
Allan tersenyum, lalu beranjak menuju kamar Bu Dini untuk mencari sumber imunnya yang sedang turun. Bu Dini tampak sedang sibuk mengemasi barang-barangnya.
“Giany mana ya, Bu?”
“Itu lagi masukin baju-baju ke dalam kotak,” jawab Bu Dini sambil menunjuk ke sudut lemari.
Mendengar suara suaminya, Giany pun menoleh. Allan tidak melihatnya karena terhalangi pintu lemari yang terbuka. "Mas ... Sudah pulang?”
“Iya. Lagi tidak enak badan. Kalau kamu sudah selesai beres-beresnya, cepat ke kamar ya.”
“Iya, Mas.” Giany pun melanjutkan pekerjaannya, sementara Allan naik ke lantai atas.
“Giany, kamu susul Allan saja. Tidak apa-apa yang ini nanti ibu yang kerjakan,” ujar Bu Dini.
“Tapi, Bu—”
“Sudah, kamu lihat Allan dulu. Itu katanya lagi tidak enak badan tadi.”
“Katanya tidak enak badan, Mas. Kenapa?” Sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.
“Aku habis lihat live streaming di kantor, imunku langsung turun.”
"Live streaming apa?"
"Jangan tanya!" Allan menarik lengan Giany hingga jatuh ke pangkuannya. "Sayang, boleh minta tolong pijat, tidak?"
Giany mengangguk diiringi senyum tipis, lalu duduk di belakang punggung Allan. Tangannya bergerak perlahan memijat punggung kokoh itu. "Begini sudah pas, Mas?"
"Iya, Sayang ... Nyaman juga. Ke atas sedikit."
"Di sini?"
__ADS_1
"Iya, pijat terus ke atas."
Allan begitu menikmati lembutnya pijatan tangan Giany yang semakin lama semakin ke atas hingga ke bagian leher. Dan hal itu semakin membangkitkan naluri 'anu' nya. Tangannya pun mengulur meraih jemari halus istrinya itu.
"Kamu sengaja merayu aku dengan pijat-pijat begitu, ya?"
Giany mematung. Meskipun sering menjadi korban modus suaminya, tetapi ia tidak pernah bisa menangkap modus yang baru dengan baik. "Haa merayu? Memangnya aku merayu bagaimana?"
"Kamu kan tahu aku paling sensitif kalau disentuh di bagian leher. Kamu malah sengaja pijat bagian leher."
"Loh, kan mas yang minta aku pijat ke atas-atas terus."
"Kamu banyak alasan ya? bilang saja kalau memang mau merayu aku."
"Tidak, Mas."
Jari-jari Allan bergerak membelai wajah Giany hingga wanita itu merasa merinding. "Ayolah, aku tahu kamu mau apa? Kalau sore-sore begini dan hujan gerimis itu enaknya ngapain coba."
Menyadari gelagat mencurigakan suaminya, Giany pun telah mampu menebak apa keinginan suaminya. "Tapi ini masih sore, Mas. Kalau Maysha datang bagaimana?"
"Maysha kan sibuk belajar. Pokoknya aku tidak mau tahu. Kamu harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab?"
"Iya, tanggung jawab sama si Arnold. Salah kamu sendiri kenapa pijat di leher dan bikin si Arnold bangun."
"Arnold siapa, Mas?"
"Arnold Swasanagerah ... Nanti kalau selesai baru jadi Arnold Swasanaseger." Allan mendorong Giany dengan lembut hingga terbaring di tempat tidur. Sepertinya efek melihat adegan sedot-sedotan yang konon kata Allan lebih kuat dari sedot WC.
Aku harus sedot yang kuat, biar dahsyat kalau menyembur!
_
__ADS_1
Allan mengecup kening Giany setelah berhasil merubah sedotan menjadi semburan dan yang terpenting, merubah nasib Arnold swasanagerah menjadi Arnold Swasanaseger.