Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 49


__ADS_3

"Kenapa muka kamu ditekuk begitu kayak kanebo kering?" tanya Bu Dini begitu mendapati wajah kusut putranya.


Seketika Allan tersadar dari lamunan. Hampir satu jam ia merenungi nasib di dalam sebuah ruangan pribadi. "Ah Ibu ... jangan kebanyakan nonton sinetron, jadi banyak istilah aneh. Masa muka disamakan kanebo kering."


Wanita paruh baya itu terkekeh. "Habis wajah kamu kayak cucian yang belum disetrika. Ganteng tapi kusut."


Hmm... ganteng juga percuma, tidak bisa membuat Giany jatuh cinta.


Bu Dini duduk di sisi Allan dan mengusap bahunya. "Kamu lagi ada masalah?"


Allan mengangguk. "Giany Bu!"


"Memang Giany kenapa?"


"Minta tuntutan untuk si Desta dicabut."


Alis Bu Dini mengerut pertanda bingung. Hampir tidak percaya dengan apa yang diucapkan Allan. "Giany minta tuntutannya dicabut, kok bisa? Laki-laki itu kan sudah menyiksa Giany. Apa jangan-jangan tadi orang tuanya Desta yang minta kepada Giany?"


Masih dengan raut wajah kesal, Allan menarik napas dalam. Sebenarnya ia tidak ingin mencabut tuntutannya untuk memberi Desta sebuah pelajaran berharga dengan mendekam di sel tahanan dalam waktu yang lama. Tetapi hatinya tidak akan tega untuk menolak permintaan Giany.


"Bukan, Bu. Tapi itu keinginan Giany sendiri. Katanya kasihan sama orang tuanya Desta."


Bu Dini menghela napas panjang. "Memang sih kasihan mereka. Orang tuanya baik, tapi kelakuan anaknya begitu. Jadi bagaimana, kamu mau cabut laporannya?"


"Mau bagaimana lagi. Giany yang mau."

__ADS_1


"Kalau dia ganggu Giany lagi bagaimana?"


"Makanya aku kasih syarat, Bu ... bahwa setelah tuntutan dicabut, dia harus menjauh dari Giany dan tidak boleh mengusik lagi."


"Baguslah. Setidaknya Giany akan bebas dari mantan suaminya itu. Sekarang, tinggal usaha kamu untuk merebut hatinya Giany."


Mendadak Allan terlihat lemas mendengar ucapan sang ibu. Sudah banyak usaha yang ia lakukan, tetapi Giany tetap tidak peka dengan segala perhatian yang Allan tunjukkan kepadanya.


🌻


🌻


Ini adalah hari yang membahagiakan bagi semua, terutama bagi Maysha. Karena hari ini adalah pertama kalinya ia memasuki dunia sekolah. Terlebih karena Allan dan Giany yang mengantarnya di hari pertama ini. Dari jauh mereka tampak seperti ayah, ibu dan anak yang harmonis.


"Maysha jangan bandel, ya Sayang... dengar apapun yang ibu guru bilang."


Allan tersenyum senang sambil mengusap pucuk kepala Maysha. Kini gadis kecil itu menunjukkan banyak perkembangan. Bukan hanya tantrum nya yang tidak pernah kumat lagi, ia juga sudah bisa mengucapkan banyak kata, walaupun belum sempurna. Sesuatu yang Allan sangat Allan syukuri sejak kehadiran Giany.


Allan mengecup kening gadis mungil itu. Kemudian bangkit dari posisi berjongkoknya.


"Ya sudah. Ayah kerja dulu ya ... Maysha tidak apa-apa, kan ... Ada kakak Giany yang temani." Maysha mengangguk. Dengan senyum cerah, ia melambaikan tangan kepada sang ayah.


Tanpa mereka sadari, dari jarak yang tidak begitu jauh sepasang mata menatap dengan penuh kecemburuan. Mengetahui putrinya mulai bersekolah, Ayra pun ingin menemani di hari pertamanya. Mendekati Maysha mungkin bisa memuluskan keinginannya untuk kembali kepada Allan. Tetapi baik Allan maupun Maysha tidak pernah memberinya ruang.


_

__ADS_1


Giany membawa Maysha ke sebuah ruangan kelas. Seorang guru wanita menyambut dengan ramah.


"Ini ibunya Maysha, ya ... Wah masih sangat muda ya ..."


Giany tersenyum sipu. "Maaf, Bu ... Sebenarnya saya..."


"Dia bukan ibunya Maysha!" Terdengar suara seorang wanita yang tiba-tiba hadir di sana, membuat mereka serentak menoleh.


Ayra berdiri di hadapan Giany dengan raut wajah judes seperti biasanya.


"Kenalkan, saya Ayra ... ibunya kandungnya Maysha," ucap Ayra dengan menekan kata ibu kandung.


Bu Guru tampak bingung menatap Ayra dan Giany bergantian. "Saya Nindy, guru kelas Maysha. Maaf, tadinya saya pikir ibu ini ibunya Maysha." Sambil menjabat tangan Ayra.


"Dia hanya pengasuh anak saya. Saya lah ibu kandung Maysha." Sambil memberi tatapan menghina ke arah Giany.


"Bukan!" Maysha menyela dan menatap kesal kepada ibu kandungnya itu. Sementara Ayra tampak sangat syok mendengar ucapan Maysha.


Menyadari tatapan tidak suka Maysha kepada Ayra, Giany pun berusaha mencairkan suasana. "Maysha tidak boleh begitu sama ibu ... Sekarang Maysha minta maaf sama ibu ya ..."


Maysha hanya menjawab dengan gelengan kepala, kemudian berbalik memeluk Giany.


"Maysha, ayo sini, Sayang. Maysha tidak kangen sama ibu?"


"Tidak!" jawabnya tanpa menoleh.

__ADS_1


Kecanggungan pun terjadi di sana. Niat Ayra untuk mempermalukan Giany malah berbalik mempermalukan dirinya dengan penolakan Maysha.


🌻


__ADS_2