Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 103


__ADS_3

Setelah mendengar kabar tentang Aluna yang dipecat, Rendy dengan tergesa menuju rumah sakit tempat Desta dirawat untuk memberitahu, karena menurut pengakuan Aluna, ia akan kembali ke kota asalnya hari itu juga.


“Desta gawat!” ucap Rendy saat baru tiba di ruangan Desta.


Desta menoleh dengan terkejut, sesendok makanan yang baru akan mendarat ke mulutnya ia dorong pelan. “Sebentar, Bu,” ucapnya kepada sang ibu yang kini tengah menyuapinya. “Ada apa, Ren? Apa yang gawat?”


Rendy melangkah masuk ke dalam ruang itu dengan mimik muka super panik. Ia mengatur napas yang memburu akibat berlari dari lobby. “Aluna ...”


“Aluna kenapa?” tanya Desta yang detik itu juga langsung ikut panik. Dipikirnya terjadi hal buruk dengan Aluna.


“Aluna dipecat Pak Allan semalam dan hari ini juga, dia mau balik ke Bali.”


“Hah?” Mulut Desta reflek terbuka. Tentu saja berita pemecatan Aluna mengejutkannya. Sebab semalam semuanya terasa baik-baik saja saat bertemu dengan Allan. “Terus sekarang di mana Aluna?”


“Masih di kantor, dia sedang membereskan barang-barangnya.”


Tidak mau kehilangan waktu, Desta pun menarik selimut tipis yang menutupi bagian kaki, lalu hendak turun dari tempat tidur. Sedikit benturan di tangan yang mengalami patah tulang membuatnya meringis kesakitan.


“Kamu mau apa, Desta?” tanya Bu Marwah.


“Mau menyusul Aluna, Mah ... Nanti keburu pergi.”


Bu Marwah menarik tangan kanan putranya. “Tapi, Nak ... Kamu masih sakit, lagi pula tangan kamu ada infusnya.”


Desta menatap Rendy dengan memelas, “Tolong, Ren ... Panggilkan suster, minta tolong lepas jarum infusnya.”


“Em ... Iya, Des. Sebentar aku coba panggilkan.”


Dengan cepat Rendy segera keluar dari ruangan itu untuk mencari bantuan seorang suster. Terjadi perdebatan antara petugas kesehatan dengan Desta yang berlangsung alot. Karena mereka tidak memberi izin bagi Desta untuk meninggalkan rumah sakit. Beruntung, Dokter Willy dengan segala wewenangnya sebagai kepala rumah sakit memberi izin kepada Desta untuk pergi. Tentunya, setelah menerima komando dari Allan.


“Cuma sebentar, mah. Nanti balik ke sini lagi,” ucap Desta berusaha meyakinkan sang ibu. “Lagian Dokter Willy bilang boleh.”


“Tapi Desta—”


“Mah, please! Yang sakit kan tangan, bukan kaki,” seru Desta.

__ADS_1


Bu Marwah menghela napas panjang. Ia akhirnya menyerah. Sebab memang seperti itulah Desta saat sedang menginginkan sesuatu. Meskipun sakit ia akan berusaha mati-matian.


Setelah berhasil meyakinkan Bu Marwah, Desta dan Rendy segera keluar dari rumah sakit untuk menuju kantor May-Day. Berharap semoga semua belum terlambat.


🌻


🌻


Kantor pusat May-Day ....


Aluna baru saja selesai membereskan beberapa barang milik pribadinya. Setelah semalam dipecat, ini adalah hari terakhirnya berada di ruangan itu. Ia melangkah menuju lift untuk turun ke lantai bawah.


Melewati sebuah sebuah ruangan yang menghubungkan gedung A dan gedung B, tiba-tiba terdengar panggilan.


“Aluna!”


Sontak ia menoleh ke sumber suara. Kelopak matanya pun melebar ketika melihat Desta ada di sana.


"Desta ... Kamu?" Mata Aluna seketika berkaca-kaca menatap Desta yang masih menggunakan pakaian pasien rumah sakit, dengan perban yang membalut lengan kirinya.


"Desta, kenapa kamu di sini? Bukannya seharusnya kamu di rumah sakit? Ini kamu masih ..." Ia menyentuh beberapa bagian tubuh Desta yang terbalut perban.


Sementara Rendy memilih masuk dan memberi ruang bagi Desta dan Aluna untuk bicara berdua. Kebetulan saat jam kerja, ruangan itu cukup sepi, sehingga mereka dapat berbicara dengan leluasa.


"Jangan pergi, Lun!"


Aluna mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Aku mau pulang. Lagi pula buat apa aku bertahan hidup sendiri di sini? Aku sudah kehilangan semua. Pekerjaan dan ... Kamu," ucapnya lirih.


"Kamu belum kehilangan aku, Aluna. Maaf, kalau aku banyak membuat kamu sedih dengan kelakuanku yang brengseek. Karena terlalu egois, aku kurang bisa memahami perasaanku sendiri." Tangan kanan Desta meraih jemari Aluna. "Kamu mau kan memberi aku kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahanku? Dokter Allan bilang, Giany berhak memulai hidup baru. Aku juga begitu."


Tidak ada lagi kata yang dapat terucap dari bibir Aluna. Sejatinya, ia dan Desta adalah dua orang yang saling mencintai. Keegoisan Desta untuk mewujudkan mimpinya menikahi Aluna menjadikannya gelap mata dan menyalahkan Giany atas hancurnya rencana indah yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.


Tiada yang salah, bukankah tulang punggung akan menemukan jalan untuk mendapatkan tulang rusuknya, meskipun mungkin dengan perjuangan yang berat?


Aluna melingkarkan tangannya memeluk Desta, yang mana membuat laki-laki itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Awh ... Sakit!"


"Ma-maaf ..."


Desta menatap Aluna penuh cinta. "Lun, kamu mau tidak, menjadi tulang rusukku?"


Mendengar ucapan Desta, Aluna pun terkekeh. "Kamu kenapa jadi puitis begini? Siapa yang ajar?"


"Pak Allan tadi kirim pesan di whatsapp! Katanya kalimat itu romantis untuk melamar. Aku baru mengerti apa maksud pesannya tadi. Rupanya untuk ini."


Tak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaannya, Aluna melingkarkan tangan ke leher Desta, mengecup mesra bibirnya. Sejenak melupakan dunia dan penghuninya.


Tanpa mereka sadari, di sudut sana ada dua orang yang sedang menonton adegan mesranya.


"Dasar karyawan tidak ada akhlak. Cipo*kan untuk pasangan belum halal diharamkan di kantor. Sedot-sedotan lagi. Mana sedotannya lebih kuat dari sedot WC," gerutu Allan sambil menutup mata Pak Ardan dengan telapak tangannya.


"Pak Ardan ... beri peringatan keras kepada mereka. kasih tahu Desta dan Aluna, jangan sampai hal ini tercium karyawan lain. WC aja disedot bau nya bukan main."


"Ba-baik, Pak!" jawab Pak Ardan masih dengan mata tertutup oleh tangan Allan.


"Kalau mereka kedapatan lagi, langsung nikahkan saja!"


"Baik, Pak! Tapi mata saya ... tolong ini tangannya di lepas."


Allan reflek melepas tangannya yang menutup mata pak Ardan. "hehe, maaf."


"Lagian Bapak tutup mata saya, tapi Bapak sendiri tidak tutup mata," protesnya membuat Allan mendelik.


"Pak Ardan ini lama lama ngeselin kayak si Amir ya," sahutnya sambil sesekali melirik Desta dan Aluna. "Sudah ah! Kasih tahu si Beni, saya kembalikan jabatan sama ruangan jeleknya. Misi saya sudah selesai." Lalu tanpa permisi membelakangi Pak Ardan berjalan keluar dari lobby.


Dahi Pak Ardan pun mengerut, bingung dengan tingkah Pak Bos. "Loh, Pak Allan mau kemana? Kita kan ada rapat di gedung B, Pak!"


"Mau pulang! Imun saya lagi turun!"


🌻

__ADS_1


__ADS_2