Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 86


__ADS_3

“May-Day itu artinya apa sih, Mas?” Suara Giany terdengar ragu saat mengucapkan pertanyaan itu.


Ia menatap Allan yang tengah tersenyum ke arahnya. Sejujurnya Giany takut. Ya, takut cemburu, sebab ia menduga May-Day adalah gabungan nama dari Maysha dan Ayra. Walau bagaimana pun Ayra pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Allan.


Sadar Giany. Kamu tidak berhak cemburu kepada masa lalu Mas Allan. Bagaimana pun juga Bu Ayra adalah mantan istri Mas Allan. Sedangkan kamu baru beberapa hari menjadi istri.


“Menurut kamu apa?”


“Apa May itu dari nama Maysha, dan Day itu diambil dari nama—” Giany tidak melanjutkan. Ia mendadak diam, yang mana membuat Allan terkekeh.


Melalui mimik muka Giany, Allan sudah tahu tahu apa yang kini ada di pikiran istrinya. Ia menepuk lembut dahi Giany. “Bukan seperti yang ada di pikiran kamu.”


“Hah, aku pikir—”


“Bukan, Sayang. Ayra juga tidak tahu kalau May-Day itu aku yang mendirikan.”


“Bagaimana bisa? Bu Ayra kan mantan istri Mas.”


“Iya, sih. Tapi Ayra mana pernah tertarik apapun tentang aku. Dia hidup dalam dunia dan ambisinya sendiri. Tapi walaupun begitu hancurnya pernikahan kami bukan sepenuhnya salah Ayra, akulah yang gagal membimbing dia.”


Giany menatap Allan lekat-lekat. Dalam hatinya sungguh mengagumi sosok Allan. Meskipun telah bercerai, tetapi Allan tidak pernah membuka aib Ayra di hadapan orang lain. Tentunya Giany sudah tahu penyebab perceraian mereka dari ibu mertuanya.

__ADS_1


Bagaimana aku tidak jatuh cinta, akhlaknya sebaik ini. Walaupun aku tahu alasan mereka bercerai, tapi Mas Allan tidak pernah menjelekkan Bu Ayra di hadapan aku.


"Terus nama May-Day dari mana?"


“Keinginan untuk mendirikan May-Day ada saat Maysha lahir. Nama May-Day diambil dari kata Maysha’s day, yang berarti harinya Maysha. Jadilah May-Day. Aneh ya ide namanya...” Allan tertawa kecil setelah mengucapkannya.


“Bagus kok, Mas.”


“Kamu masih ada yang mau ditanyakan?”


Giany menggeleng. “Tidak ada.”


“Ya sudah, tidur yuk. Tapi kalau kamu masih mau ngasih sesuatu sebagai tanda terima kasih juga tidak apa-apa. Aku pasrah,” ucapnya membuat Giany mendaratkan cubitan gemas di perutnya.


🌻🌻🌻


Seminggu kemudian ....


Hari peresmian produk baru perusahaan May-Day akhirnya tiba. Giany sedang membantu Allan bersiap-siap menuju sebuah hotel mewah tempat berlangsungnya acara.


“Kalau pakai jas begini aku ganteng ya ...” ucapnya sambil menatap pantulan cermin. “Wah, beruntungnya Bu Allan, punya suami ganteng.”

__ADS_1


Giany terkekeh. “Mas narsis.”


“Tapi kamu suka kan. Aku suami idaman netijen loh. Berdiri, keras dan kuat ...” Ia mengedipkan sebelah mata, membuat Giany tersipu. Giany yang pemalu memang menggemaskan sehingga Allan begitu senang menggodanya.


“Itu slogan produk semen, Mas. Nanti dikira Mas pengusaha semen, bukan pengusaha susu.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Gudang garam saja isinya rokok, bukan garam.”


Akhirnya tawa Giany pun pecah. Untuk pertama kalinya ia tertawa lepas setelah melalui banyak ujian berat dalam hidupnya. Melihat Giany tertawa lepas, Allan menunjukkan wajah pura-pura cemberutnya.


“Dosa loh ngetawain suami.” Ia merangkul bahu Giany dan berbisik, “Kamu harus dapat hukuman ala istri dalam novel, karena sudah berani tidak sopan dengan menertawakan suami.”


Giany mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding disco. Jika Allan sudah mengajarinya cara berterima kasih ala istri dalam novel, lalu seperti apakah bentuk hukumannya? Giany tidak tahu saja, bahwa berterima kasih dan memberi hukuman ala novel itu dijalankan dengan cara yang sama. Yaitu memberi jatah anulicious.


“Hukuman ala istri dalam novel? Hukuman seperti apa itu?” Giany sedang memikirkan suami kejam ala novel yang semalam ia baca.


“Nanti aku ajari cara menjalani hukuman ala istri dalam novel.”


“Apa Mas juga sering menghukum Pak Amir seperti di novel?”


Allan tiba-tiba tersedak udara mendengar pertanyaan polos Giany. “Dikira aku gila apa mau menghukum Amir ala novel. Amit-amit!”

__ADS_1


🌻


__ADS_2