Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 137


__ADS_3

“Mas, ini belinya di mana ya? Sepertinya ini enak.”


Masih dalam perjalanan pulang, Giany memperlihatkan sebuah majalah di mana terdapat gambar makanan yang cukup menggugah selera.


“Oh sushi ... di mall depan ada restoran jepang, mau?”


“Mau ...” jawab Giany dengan tatapan tertuju pada gambar. Hanya dengan melihat gambar saja sudah membuatnya merasa tak sabar untuk melahapnya.


“Ya sudah kita mampir dulu, sekalian kencan.”


"Kencan?"


"Iya. Kita kan baru sekali kencan, yang waktu itu ketemu mantan kamu, hehe."


Bibir Giany mengerucut mendengar Allan menyebut kata mantan. Tetapi dalam beberapa detik kemudian mulai berbinar mengingat kata kencan.


Kencan adalah sesuatu yang jarang terjadi dalam hidupnya. Jangankan berkencan, berpacaran pun tidak pernah sebelumnya. Allan adalah laki-laki pertama yang berhasil membuatnya merasakan cinta dan apa itu dicintai.


Tak berselang lama, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Menghabiskan waktu berdua layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

__ADS_1


Tak ingin kalah dari beberapa pasangan muda yang berpapasan, Allan menggandeng tangan Giany. Sangat romantis bagi keduanya.


Memasuki restoran, Allan memilih meja di sudut yang berdekatan dengan jendela. Seorang pramusaji meletakkan buku menu di meja. Giany meraih buku menu dengan antusias, tetapi terlihat bingung setelahnya.


“Mas aja yang pesan. Namanya aneh-aneh.” Giany menggeser menu ke hadapan suaminya.


“Namanya juga restoran jepang, yang aneh itu kalau restoran jepang menunya seblak, ketoprak , gado-gado.”


Allan kemudian meraih buku menu dan memilih beberapa menu yang tadi diinginkan Giany. alisnya pun ikut berkerut. “Ini sih restoran jepangnya palsu. Menunya bahasa jawa semua. Yakin iku, ono kabe, Tak oyaki, teriakin, su udon.”


“Mas sukanya yang mana?” tanya Giany.


Seketika kelopak mata Giany melebar mendengar ucapan suaminya. Ia melayangkan cubitan keras di pinggang.


“Mas! Kalau ada Miyabi mau pesan?”


“ Ampun, Sayang ... kan bercanda.”


Melihat bibir Giany yang mulai mengerucut, Allan pun segera memesan beberapa menu, Giany tampak sudah tidak sabar, apa lagi setelah melihat gambar-gambar di buku menu.

__ADS_1


Sambil menunggu, mereka mengobrol santai. Hingga tak lama berselang ....


“Allan ... Kamu Allan Hadikusuma, kan?” Suara seorang wanita membuat Allan dan Giany menoleh. Di dekat meja tempat mereka berada, berdiri seorang wanita cantik dengan senyum menawan.


Allan menautkan kedua alisnya, berusaha mengingat wanita yang baru saja menyapanya. "Iya, tapi maaf, Ibu siapa ya?"


"Masa kamu lupa sama aku. Aku Indah."


"Indah?" Allan masih tampak berusaha mengingat. "Indah yang mana ya?"


"Hmm ... Sepertinya terlalu banyak nama Indah dalam hidupmu sampai melupakan aku. Padahal dulu kita sempat pacaran tiga bulan loh. Terus kamu menghilang tanpa kabar."


Detik itu juga bayangan deretan mantan pun bermunculan di benak Allan.


"Oh iya, aku ingat sekarang. Maaf ya ..." ucapnya berusaha ramah. Ia melirik Giany yang menatap wanita itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Sama seperti cara wanita yang mengaku bernama Indah itu menatap Giany.


Wah, jadi dia mantan pacarnya Mas Allan ya ... Cantik sekali. Hampir setara dengan Bu Ayra. batin Giany.


Melihat ekspresi Giany, Allan menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


Ah sial, kenapa harus ketemu mantan di sini sih? Dia kan mantan yang punya dendam sama aku. Bisa terbongkar kebrengsekanku di masa lalu.


__ADS_2