
“Selamat pagi, Sayang ...” ucap Allan penuh semangat sambil menatap wajah polos Giany yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Pagi Mas."
Dengan sisa kantuk, wanita itu melirik arah jarum jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sepasang netra nya pun membulat, gelagapan bangkit dari tempat tidur, tetapi langsung menarik selimut saat menyadari tidak mengenakan apapun di bagian atas tubuhnya.
Tadi selepas menjalankan ibadah subuh, Allan lagi-lagi meminta haknya, sehingga membuat Giany kehabisan tenaga dan ketiduran setelahnya.
“Ya ampun, bagaimana aku bisa tidur lama begini? Aku kan harus memandikan Maysha.”
“Tidak apa-apa sesekali. Dia pasti mengerti kok, kalau ayah dan bundanya sedang sibuk mengerjakan proyek besar.”
“Proyek besar?” Alis Giany mengerut menatap Allan dengan raut muka penuh tanya.
Allan terkekeh, sambil mengedipkan sebelah matanya. “Kamu kan wanita dewasa, masa proyek besar tidak mengerti.”
Wajah Giany sontak memerah. Sepertinya Allan punya kegemaran baru, yaitu menggoda istrinya yang pemalu.
Giany melirik kesana-kemari, mencari piyama yang ia gunakan sebelumnya. “Mas, piyama ku yang tadi mana ya?”
“Aku sembunyikan,” jawabnya santai.
“Hah, kenapa disembunyikan?”
“Biar kamu susah cari. Makanya aku sembunyikan.” Ia tertawa gemas setelahnya. Giany kemudian menggulung selimut hingga batas pundak, ingin turun dari tempat tidur namun Allan menahannya. “Mau ke mana, Sayang?”
“Mandi, Mas. Badanku rasanya lengket.”
__ADS_1
“Sini dulu sebentar.” Menarik lengan Giany hingga menempel ke tubuhnya. “Cipoklicious dulu.”
Entah mengapa Giany merasa merinding melihat kelakuan Allan pagi ini. Apakah semalam ia mabuk saat mendaki gunung Himalaya? Giany tidak tahu.
“Ci-cipok—apa?”
“Cipoklicious, biar kayak anak muda.”
Giany terkekeh. Suaminya itu punya banyak istilah yang aneh. Mulai dari babylicious, jellicious, sekarang cipoklicious. Mungkin kedepannya akan ada istilah wikilicious, wifelicious dan unyulicious. Silakan anda trevelicious dengan otak masing-masing. Yang penting lidah tidak keseleolicious saat mengucapkan.
Ciuman singkat ia berikan di bibir sang suami. Benar-benar singkat, hingga Allan mengerucutkan bibir dengan mimik muka cemberut. “Tidak ada rasanya.” Giany tersenyum sipu menatapnya. Kemudian memberi lagi ciuman yang agak lama.
Berdiri meninggalkan Allan yang hanya menggunakan celana boxer, Giany meraih jubah mandinya. Mata Allan masih mengikuti ke mana langkah kaki Giany.
“Sayang ...”
“Mau mandi bareng?”
Giany terperanjat mendengar kalimat rayuan itu. Tentu saja ia akan malu setengah mati jika harus mandi bersama. Walaupun sejatinya mereka telah melakukan sebuah penyatuan yang mana tidak ada lagi rahasia yang tertutupi di antara keduanya.
Tidak ingin berlama-lama, Giany masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Allan memintanya berendam di air hangat untuk mengurangi rasa lelah akibat aktivitas menguras tenaga yang mereka lalui.
Sambil berendam, ia tersenyum sipu. Allan benar-benar memberinya rasa damai dan bahagia, hingga lupa dengan segala rasa sakit yang ia alami sebelumnya.
🌻
🌻
__ADS_1
Giany sudah berganti pakaian saat Allan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
“Ini pakaiannya, Mas.” Ia menggeser pakaian di atas meja rias tetapi Allan seolah tidak punya niat untuk mengenakan pakaian. Sepertinya lebih senang dengan handuk saja. Kebetulan ini adalah akhir pekan, jadi ia akan menghabiskan waktu dengan berdua saja di kamar. Semoga Amir maupun Maysha tidak menjadi orang ketiga di antara mereka.
“Hari ini ada rencana kemana?”
“Tidak ada, Mas. Mau di rumah saja menemani Maysha.”
“Lalu aku bagaimana?”
“Loh memangnya Mas kenapa?”
“Aku kan juga butuh ditemani. Aku lebih membutuhkan kamu dari pada Maysha tahu ...”
Allan menarik tubuh Giany dan menggendongnya ke sebuah sofa panjang yang berada di sudut kamar, membuat Giany gelagapan. “Ma-mas mau apa?”
Allan memposisikan tubuhnya di atas Giany. Menggoda dengan sentuhan di mana-mana. “Aku butuh meningkatkan imun dan iman, biar aman.”
“A-apa lagi itu, Mas?”
“Kamu kapan peka nya sih?” Bertanya dengan gemas, sambil memberi kecupan sayang di bibir.
“Allan!”
Allan mengernyit, lalu menoleh ke arah pintu. “Ibu?”
Bu Dini berada di ambang pintu dengan membawa nampan berisi menu sarapan untuk Giany. “Kalian kalau mau anu tutup pintu dulu, masa pintunya terbuka lebar begini?” protesnya sambil melangkah masuk dengan santai, meletakkan nampan berisi sarapan di atas meja.
__ADS_1
🌻