
“Mas, aku ke toilet sebentar ya,” ucap Giany berdiri dari duduknya.
“Iya, jangan lama, Sayang!”
"Iya, sebentar, cuma mau cuci muka. Gerah, Mas."
Allan terkekeh. Nada bicara Giany yang terkesan ketus justru malah sangat menggemaskan baginya.
Bu Allan Bu Allan ... Kalau lagi cemburu kamu makin imut tahu. batinnya.
Giany segera masuk ke toilet khusu wanita. Mungkin membasuh wajahnya dengan air akan mampu menetralkan perasaannya dari panasnya api cemburu setelah mendengar kisah kenakalan suaminya di masa lalu. Ya, Allan yang sekarang sangatlah berbeda dengan Allan di masa lalu.
Ia menyalakan kran air dan membasuh wajahnya dengan air di wastafel. Dinginnya air pun terasa menembus pori-pori. Lumayan mengurasi rasa gerah.
Hmm segarnya! Kenapa ya, cuma tanya-tanya masa lalu jadi panas sendiri.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu toilet wanita itu kembali terbuka. Seorang wanita masuk dan berdiri di belakang punggung Giany.
Saat mendongakkan kepala untuk menatap pantulan cermin, penglihatan Giany menangkap sosok Indah yang berdiri tepat di belakang dengan senyum sinis. Tetapi ia memilih untuk tidak mengindahkannya atas permintaan sang suami.
Ia lantas memilih keluar. Namun, baru dua kali kakinya melangkah, tangan wanita itu sudah mencengkram lengannya.
“Kamu mau apa?” tanya Giany menatap wanita itu.
Giany tak menanggapi, ia melepas tangan Indah yang mencengkram lengannya. Lagi pula peringatan Allan untuk tidak menanggapi Indah sudah cukup bagi Giany untuk mawas diri. Ia tidak ingin terlibat masalah apapun, apalagi ribut dengan mantan kekasih suaminya.
“Maaf, saya mau keluar.”
“Tunggu dulu dong. Kan kita bisa ngobrol sebentar.” Indah berdiri di samping Giany dengan menyandarkan pinggangnya di wastafel. “Apa kamu tahu seperti apa suami kamu di masa kuliah dulu?”
__ADS_1
“Pentingnya apa buat saya tahu masa lalu Mas Allan. Bukankah yang terpenting adalah masa sekarang?”
“Iya sih. Tapi masa kamu tidak penasaran seperti apa Allan semasa kuliah.” Ia tersenyum menatap Giany. “Apa kamu pernah dengar, Allan itu suka gonta-ganti pacar. Dia playboy. Oh, ya ... Selain itu dia pernah menghamili salah satu dosen di kampus.”
Menghela napas panjang, Giany lantas tersenyum setelahnya, membuat kepercayaan diri wanita itu sedikit luntur. Indah mungkin berpikir menceritakan masa lalu akan membuat istri muda Allan kepanasan.
“Jadi kamu menyusul saya ke toilet cuma mau cerita itu ya? Apa mungkin kamu adalah salah satu dari deretan mantan yang belum bisa move on?”
Indah menarik napas dalam-dalam demi memenuhi kebutuhan oksigen dalam paru-parunya. Sungguh, ucapan Giany membuat napasnya terasa berat. Sebab ia memang belum dapat melupakan Allan yang penuh pesona.
Giany tersenyum, lalu mengusap bahu wanita cantik itu. “Kalau begitu, saya minta maaf atas nama Mas Allan, karena sudah menjadikan kamu bahan taruhan dengan teman-temannya. Namanya juga masa lalu. Siapapun bisa khilaf.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Giany segera keluar dari toilet, meninggalkan Indah yang masih membeku dengan wajah yang mendadak pucat karena malu. Menyusul ke toilet sepertinya keputusan yang salah, niat memanas-manasi Giany malah berbalik membakarnya.
\*\*\*\*
__ADS_1