
Seminggu berlalu tanpa terasa. Ini adalah hari yang telah ditunggu oleh Allan, hari pernikahan dengan seorang wanita yang telah merebut seluruh hatinya, Giany Namira. Seminggu belakangan dilalui dengan berat. Ada banyak hal terjadi dan kadang menguras emosi.
Berbagai gangguan dari Ayra terus berdatangan. Fitnah dan tuduhan kerap dilayangkan kepada Allan dan Giany. Layaknya karang yang dihempas ombak, semuanya teratasi dengan mudah oleh Allan.
Pagi ini, ia sudah duduk dengan mantap di hadapan seorang penghulu. Dengan kemeja putih berbalut jas hitam. Giany duduk di sisinya dengan kebaya putih yang semakin memancarkan aura kecantikannya. Tetapi wajahnya tidak dapat dikatakan bahagia. Ia murung dan nyaris menangis.
Ini adalah pernikahan keduanya. Dan sialnya, keduanya dilaksanakan karena terpaksa. Tanpa berharap dicintai ataupun mencintai. Mungkin memang takdir sengaja mempermainkannya. Ya, pikiran itulah yang sekarang menari-nari di benak wanita muda itu.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Giany Namira binti Aiman Firdaus dengan mahar seperangkat alat shalat dan uang senilai dua puluh satu juta rupiah dibayar tunai.” Suara Allan terdengar lantang mengucapkan ijab qabul. Sebuah kalimat sakral yang telah merubah seluruh hidup Giany mulai detik itu. Terdengar pula sahutan beberapa orang saksi yang secara bersamaan menyerukan kata sah.
Irama jantung giany berdegup kencang, entah dengan alasan apa. Tapi suara lembut dan merdu itu berhasil menggetarkan hatinya.
Wanita itu menjatuhkan setitik air mata yang sejak tadi berusaha ditahan. Ekor matanya perlahan melirik seorang pria yang kini resmi menjadi suaminya. Tangannya mengulur mencium punggung tangan Allan. Ia semakin berdebar saat merasakan dengan jelas lembutnya bibir Allan menyentuh keningnya.
Sangat berbeda ketika menikah dengan Desta, dimana tidak ada senyuman dan kecupan yang ia dapat dari suaminya. Hari pertama menjadi istri Desta pun disambut dengan hadiah tamparan keras di kedua sisi wajahnya, yang akhirnya menimbulkan trauma mendalam. Allan mungkin seseorang yang berbeda dengan Desta, tetapi Giany tidak berani mengharap lebih. Karena sejatinya pernikahan ini adalah sebuah paksaan.
Pernikahan yang digelar secara sederhana itu pun hanya dihadiri oleh para tetangga dan teman-teman Allan. Mereka saling bergantian mengucapkan selamat. Ada yang memuji keberuntungan Allan yang mendapatkan seorang istri cantik dan juga masih sangat muda. Meskipun tak jarang mereka harus mengusap dada ketika mendengar bisik-bisik antara para tetangga yang membicarakan kasus penggerebekan minggu lalu.
__ADS_1
Tetapi bukan Allan namanya jika peduli. Karena baginya memiliki Giany sudah lebih dari cukup. Sedangkan bagi Giany, mungkin sama seperti pernikahan pertamanya. Hampa, tidak ada keluarga atau pun teman.
“Kalau capek kamu istirahat saja,” ucap Allan yang sekarang berdiri di sisi kanan Giany.
“Tidak apa-apa.” Suara Giany terdengar dingin dan kaku, meskipun begitu lembut di telinga Allan. Laki-laki itu sadar bahwa Giany adalah wanita yang berbeda, dengan hati yang pernah terluka.
Bu Dini dan si kecil Maysha hadir di tengah mereka, memeluk dan mengucapkan selamat. Melihat adanya jarak antara pasangan pengantin baru itu, Bu Dini mengusap bahu putranya.
“Tidak apa-apa Allan, perlahan tunjukkan kepada Giany kasih sayang yang sebenarnya dalam rumah tangga, yang tidak pernah dia dapatkan dari pernikahan pertamanya,” bisiknya.
Dari jarak aman, ada dua wajah suram yang menatap tajam ke arah masjid tempat berlangsungnya akad nikah itu.
Ayra mengusap air mata penyesalan yang mengalir di pipinya. Semua upayanya untuk memisahkan Giany dan Allan malah berbalik.
Sementara Desta yang berada di sudut lain terlihat pasrah. Ia tidak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan Giany. Hanya penyesalan yang kini membelenggunya.
🌻
__ADS_1
Malam hari ...
Suasana rumah sudah mulai tenang kembali. Beberapa kerabat dekat sudah pulang ke rumah masing-masing. Beberapa di antaranya ada yang masih menginap untuk malam ini. Giany masuk ke dalam kamar yang mulai malam ini akan ia tempati berdua dengan Allan.
Allan baru saja keluar dari kamar mandi. Terlihat sangat segar dan sempurna meskipun hanya dengan pakaian santai. Giany yang masih kaku berdiri mematung di ambang pintu. Seperti ragu untuk melangkah masuk. Ia bahkan masih menggunakan kebaya putihnya.
“Mau mandi? Kamu pasti gerah seharian menyalami tamu,” ucap Allan.
“I-iya, Dokter.”
“Kok masih panggil dokter sih? Mas dong! Mulai hari ini aku kan suami kamu.”
Giany menunduk. Jarinya reflek saling meremas. “Iya, Mas. Ma-maaf ...”
Akhirnya .... Batin Allan bersorak bahagia.
🌻🌻🌻
__ADS_1