Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 130


__ADS_3

Kelopak mata Allan reflek terbuka ketika meraba tempat di sisinya dan tak menemukan sosok Giany di sana. Kepalanya mendongak, bola matanya berputar menyapu setiap sudut kamar itu untuk mencari. Namun, tak terlihat istrinya. Hanya si kecil Maysha yang terlelap di sisinya. Ia membenarkan selimut yang melorot demi melindungi gadis kecil itu dari dinginnya hembusan udara dari pendingin ruangan.


Allan pun beranjak dan menyalakan lampu kamar. Memeriksa di kamar mandi, namun juga kosong. Giany sedang tidak berada di kamar, entah kemana.


“Giany kemana ya? Tidak biasanya dia keluar kamar di jam seperti ini. Apa dia lapar dan sedang ke dapur?” Allan bermonolog.


Ia segera keluar kamar dan menuju dapur, akan tetapi saat melewati ruang tengah, lampu dapur padam, yang menandai ketiadaan Giany di sana.


“Di mana sih dia? Kalau di kamar Maysha kan tidak mungkin, soalnya Maysha tidur sama kami,” ucap Allan dalam batin.


Tak menemukan jawaban, ia memilih mencari ke beberapa sudut rumah besar itu. Kamar ibu, ruang keluarga lantai dua, home theater, dan lantai tiga bahkan balkon rumah, tetap tak menemukannya.


Allan pun bergegas kembali ke lantai satu. saat menuruni anak tangga terakhir, ia melirik ke arah kolam renang. Terkejut melihat Giany duduk membelakang di sisi kola renang.


“Giany? Dia sedang apa di kolam renang malam_malam?” Allan segera menyusulnya.

__ADS_1


Dari jarak beberapa meter, ia dapat mendengar isak tangis yang menyayat hati. Giany sedang menangis. Tapi kenapa? Pertanyaan demi pertanyaan tiba-tiba muncul di benak laki-laki itu.


“Sayang ... Kamu sedang apa di sini sendirian?”


Seketika isak tangis itu terhenti. Bahu Giany terlihat terangkat menandakan terkejut saat mendengar suara Allan. Wanita itu tampak menyeka air matanya dan menoleh seraya tersenyum. “Mas ... Maaf, aku tidak bisa tidur. Jadi ke mari.”


Meskipun ia berusaha terlihat baik-baik saja, namun Allan tahu ada sesuatu yang tidak beres. Giany sedang menyembunyikan sesuatu. Ia sedih dan Allan dapat melihat dari raut wajah dan tatapannya.


Allan mengusap ujung mata Giany, bulu matanya yang lentik masih tampak basah meskipun Giany telah menyekanya. Jangan lupakan mata sembab dan hidung berair karena kebanyakan menangis.


“Tidak, Mas,” jawabnya diiringi gelengan kepala.


Allan duduk di sisinya. Detik itu juga ia dekap erat tubuh itu dan mengusap rambut serta punggungnya. “Kamu bukan seseorang yang bisa berbohong. Lagi pula, tadi aku dengar kamu nangis. Boleh aku tahu apa yang membuat kamu sedih?”


Giany melepaskan pelukan. Ia tatap dalam-dalam manik hitam suaminya. Ia tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Allan, karena Allan terlalu mengenal dirinya. Pandangan Giany menunduk, ia belum sanggup mengatakan seseuatu yang membuat hatinya begitu sedih.

__ADS_1


“Kenapa? Cerita aja, Sayang. Aku siap dengar kok.”


“Aku ...” ucapannya menggantung. Otaknya berpikir bagaimana menyusun kalimat yang tidak akan menyinggung perasaan suaminya.


“Aku apa?” Allan menatapnya lekat-lekat.


Lelehan air mata kembali membasahi wajah Giany ketika mulutnya hendak mengatakan sesuatu. Dadanya terasa sangat sesak. “Aku takut Mas akan marah.”


“Kenapa harus marah?” Allan menyeka air mata di pipi Giany, lalu mengecup kelopak matanya, kanan dan kiri.


“Aku teringat anakku, Mas. Aku memimpikan menggendong bayi laki-laki beberapa kali dan entah kenapa, aku merasa sangat merindukannya. Aku adalah ibu yang jahat, karena kurang berhati-hati aku mencelakainya, sementara di sini aku hidup bahagia dan tidak kekurangan apapun. Tapi belum pernah sekali pun mengunjungi makamnya. Bahkan wajahnya seperti apa, aku tidak tahu.” Giany semakin terisak hingga air matanya berderai.


Allan diam dan masih menatapnya dalam. Giany menyeka sisa air mata, mendongak menatap suaminya.


“Apa aku boleh melihat makamnya walaupun hanya sekali? Apa Mas akan keberatan? Rayyanku ... Aku sangat merindukannya.”

__ADS_1


__ADS_2