Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 102


__ADS_3

“Loh, Ben ... kok dipecat?” ucap Allan membuat Beni dan Pak Ardan menatapnya. Sementara para tetanggalicious sudah semakin memucat. Kali ini tamatlah riwayat mereka jika Beni benar-benar memecatnya.


“Kesalahan mereka sudah fatal, Pak! Bu Giany hampir celaka karena keteledoran mereka” jawab Beni. Jika tengah berada dalam satu ruangan dengan karyawan lain, ia akan bersikap formal terhadap Allan. Berbeda jika sedang berdua, di mana ia akan menjadi karyawan paling tidak sopan di dunia.


Allan menghela napas panjang sambil melirik ketiga orang di hadapannya. Ia merasa iba jika mengingat usia Pak Burhan, Pak Heri dan Pak Jefri yang tidak muda lagi. Tentu mereka akan kesulitan mencari pekerjaan lain jika dipecat.


“Ben ... Secara hukum, kita tidak bisa memecat sembarangan. Lagi pula Giany tidak apa-apa. Desta juga tidak terluka serius.”


“Maksud Bapak, mereka dimaafkan begitu saja?” tanya Beni heran.


“Terserah kamu, asal tidak dengan pemecatan. Kejadian kemarin bisa jadi bahan pembelajaran supaya lain kali lebih berhati-hati. Kasih SP saja lah ...”


Mendengar ucapan Allan, Pak Ardan pun menyela, “Maaf Pak Allan, tapi Pak Burhan dan Pak Hery sudah tiga kali menerima surat peringatan, sedangkan Pak Jefri dua kali. Jadi tidak melanggar hukum kalau Pak Beni memecat mereka saat ini juga.”


Kening Allan mengerut, lalu menatap Pak Ardan. “Memang mereka habis melakukan pelanggaran apa sampai kena SP tiga kali?”


“Jelasin, Pak Ardan!” sahut Beni.


“Salah satunya ... Telat masuk kantor lebih dari lima kali dalam sebulan tanpa alasan jelas, sebelumnya Pak Burhan juga pernah melakukan kelalaian sampai gudang hampir terbakar dan ada beberapa pelanggaran kerja lain dari masing-masing. Semua tertulis di dalam surat peringatan mereka, Pak.”


Allan akhirnya mengangguk tanda mengerti, tetapi tak cukup membuatnya tega untuk memecat. Apalagi ketiga orang ini adalah tetangganya sendiri, yang mana bagi Allan tetangga merupakan kerabat terdekat. Dan ia wajib untuk berbuat baik kepada mereka.

__ADS_1


“Pak Burhan, Pak Hery dan Pak Jefri, silakan kembali bekerja dulu. Saya akan bicarakan ini dengan Pak Beni,” ujar Allan masih dengan keramahan yang sama. “Pak Ardan juga, ya ... Silakan kembali bekerja dulu.”


“Baik, Pak,” jawab mereka bersama.


Mereka kemudian keluar dari ruangan itu, meninggalkan Beni dan Allan berdua.


"Jadi kamu tidak mau memecat mereka?" tanya Beni dengan ketus.


"Jangan, Ben. Kasihan, mereka itu tulang punggung dalam keluarga. Malah ada yang anaknya masih kecil. Kamu tega memecat?"


"Aku kan harus profesional, Paduka Allan Hadikusuma yang terhormat! Memangnya kamu memecat Aluna tanpa alasan jelas," dengusnya dengan kesal.


Allan terkekeh, ia tahu Beni terkejut mendengar berita tentang Allan yang tiba-tiba memecat Aluna tanpa sebab. "Aku pecat Aluna untuk tujuan tertentu."


"Aku mau ngasih si Desta tulang rusuk."


"Tulang rusuk?" sentaknya dengan alis berkerut. "Jangan gila, bos itu tugasnya ngasih gaji, bukan ngasih tulang rusuk."


"Ya kali mereka masih ada jodoh, Si Desta jadi tulang punggungnya Aluna. Kasihan Desta yang belum punya tulang rusuk. Soalnya tulang rusukku yang dia pinjam sudah kuambil kembali."


Mendengar ucapan Allan membuat Beni menoleh. "Jadi ceritanya Desta yang pinjam tulang rusukmu? Bukan sebaliknya kamu yang rebut tulang rusuknya Desta? Pantes kamu mau bikin mereka dekat lagi, buat gantiin tulang rusuknya si Desta yang kamu rebut."

__ADS_1


Allan melotot tajam ke arah Beni layaknya seekor elang yang siap mencengkram kelinci. Tidak terima jika Beni menyebutnya merebut tulang rusuk dari Desta.


"Tidaklah, Desta yang pinjam. Giany itu tulang rusuk yang diciptakan hanya untuk Allan Hadikusuma. Aku hanya kalah cepat dari Desta. Jadi statusnya, tetap desta yang pinjam tulang rusukku."


"Sadar woy, kamu itu pebinor. Desta duluan yang menikah sama Giany. Kamu malah tidak terima kenyataan pedih bahwa kamu merebut tulang rusuk orang."


"Kamu yang sadar, biar tidak bicara sembarangan. Aku hanya menjemput tulang rusukku. Soalnya dia salah alamat."


Beni menutupi seringainya dengan jari. "Maksud kamu jodoh salah alamat gitu?"


"Nah itu mengerti. Desta itu tulang punggung yang tidak tahu diri, Ben. Sudah pinjam tulang rusuk orang, malah disiksa."


"Oh gitu ..." Beni mengangguk tanda mengerti. "Jadi kalau si Desta yang pinjam tulang rusukmu, terus waktu sama Ayra, kamu pinjam tulang rusuknya siapa?"


Allan terdiam membuat Beni tertawa lantang.


"Sebenarnya tulang punggung yang tidak tahu diri itu kamu, bukan Desta. Sudah pinjam tulang rusuk orang, malah disewakan ke agensi model," ucap Beny mengingat Ayra seorang model terkenal.


Sementara wajah Allan sudah mendatar. "Ben, kamu lagi mau latihan bela diri, tidak?"


"Nah, ini tanda-tanda tidak tahu diri yang hakiki. Setelah merebut tulang rusuk orang, sekarang mau patahin tulang punggung orang."

__ADS_1


🌻🌻🌻


Awok awok.


__ADS_2