Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 67


__ADS_3

Giany hampir saja menjatuhkan benda pipih yang berada di genggamannya. Air matanya mengalir begitu saja di kedua sisi pipinya. Tiba-tiba rasa bersalah menjalar di hati. Bagaimana mungkin selama ini ia tidak menyadari segala bentuk perhatian, kepedulian dan perlindungan yang ditunjukkan Allan kepadanya.


Bayang-bayang pertemuannya dengan Allan bermunculan. Bagaimana Allan melindunginya dari Desta, bagaimana Allan menghujaninya dengan perhatian yang sayangnya telat ia pahami sebagai cinta.


“Babylicious itu aku ...”


Wanita itu baru saja mendapati kenyataan tentang siapa sosok Babylicious, seseorang yang dicintai Allan—yang membuatnya begitu penasaran. Membuka pesan WhatsApp yang berisi obrolan dengan Allan, Giany baru menyadari nama kontak Babylicious yang disematkan Allan adalah nomornya.


Ia meletakkan ponsel di pelukannya dan menangis sejadi-jadinya. Amir sampai bingung sendiri mengapa istri tuannya itu tiba-tiba menangis sampai sesegukan.


“Mas Allan ...”


Dalam rasa khawatir tiba-tiba pintu kaca itu terbuka, menampilkan seorang dokter wanita yang keluar dari dalam ruangan itu. Rasanya lutut Giany sudah lemas. Ia tidak akan sanggup jika sesuatu yang buruk terjadi. Bangkit dari duduknya, ia menghampiri sang dokter dengan air mata yang sedari tadi begitu sulit dibendung.


“Dokter ... Suami saya baik-baik saja, kan?” Sebuah pertanyaan yang terucap seolah mewakilkan rasa takut yang teramat. Takut kehilangan yang besar.


Wanita itu tersenyum. “Dokter Allan tidak apa-apa. Hanya luka ringan di bagian punggung. Begitu sadar sudah boleh dibawa pulang.”


Lega! Hanya itu yang dirasakan Giany. Segala perasaan gundah yang tadi menguasai pikirannya seketika sirna. Tetapi anehnya air mata itu tak kunjung berhenti mengalir. Meskipun segenap rasa khawatir sudah hilang.

__ADS_1


“Boleh saya masuk, Dokter?”


“Silakan.”


Dokter itu kemudian berlalu. Giany melirik Amir yang tampak bersandar di kursi. Laki-laki itu juga terlihat menghembus napas panjang. Lega mendengar kabar tuannya baik-baik saja.


“Pak Amir, saya mau masuk dulu.”


“Silakan, Bu ...”


Giany segera beranjak meninggalkan Amir dan masuk ke dalam. Berjalan melewati beberapa tirai sambil melirik penghuni di dalamnya. Ia mendapati Allan terbaring di balik tirai paling ujung. Suaminya itu belum sadar setelah pingsan tertimpa balok kayu berukuran cukup besar tadi.


“Maafkan aku, Mas ...” Ia berbisik di telinga Allan. Menyandarkan kepalanya di dada bidang dan kokoh itu.


🌻


Perlahan kelopak mata Allan mulai terbuka. Lenguhan mulai terdengar dari bibirnya. Bola matanya memutar menatap langit-langit. Masih antara sadar dan tidak, ia bahkan tidak tahu sedang berada di mana. Namun, di dalam ingatannya hanya ada satu nama, Giany ...


Kesadarannya mulai kembali saat bayang-bayang kejadian tadi muncul dalam ingatannya. Dimana Giany, apakah baik-baik saja? Hanya itu yang ingin ia tahu.

__ADS_1


Laki-laki itu pun menghela napas panjang saat mendapati seorang wanita sedang bersandar di sisi pembaringan dalam posisi telungkup. Ya, itu Giany. Mungkin lelah, sehingga tertidur di sana. Allan mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala sang istri.


Usapan lembut itu pun berhasil membangunkan Giany. Perlahan kepalanya mulai terangkat, jari lentiknya mengusap kelopak matanya.


“Mas sudah sadar?” Terlihat raut kebahagiaan dan rasa khawatir yang menyatu dalam tatapannya. Allan menjawab dengan anggukan dan senyuman tipis.


“Mana yang sakit, Mas?” Bertanya dengan panik sambil menyentuh beberapa bagian tubuh suaminya.


Tentu saja bentuk perhatian itu membuat Allan berbunga-bunga. Ia menatap Giany dengan penuh cinta. “Kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang luka?” Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.


Giany menggeleng, membuat Allan bernapas lega. “Syukurlah. Terus kenapa menangis?” Tangannya terulur menghapus cairan bening yang membasahi wajah istrinya.


Giany tidak dapat mengatakan apapun lagi, ia menjatuhkan kepalanya bersandar di dada Allan. Melingkarkan tangan di tubuh suaminya sambil menangis.


“Maafkan aku, Mas!”


Allan tidak menyahut, dalam benaknya timbul pertanyaan mengapa wanita itu minta maaf. Tetapi segenap pertanyaan itu sirna, berganti menjadi rasa hangat. Ia membalas pelukan itu, kemudian mengusap rambut panjang sang istri. Kapan lagi bisa memeluknya seperti sekarang tanpa modus?


Allan hanya senyum-senyum sendiri menikmati hangatnya pelukan Giany.

__ADS_1


🌻


__ADS_2