
“Selamat malam, Dokter Allan, Bu Dini dan Bu Giany,” ucap Bu Hery mewakili dua temannya. Mereka tampak saling mendorong satu sama lain seakan takut untuk mendekati keluarga itu.
Bu Dini menatap mereka dengan kesal. Layaknya binatang buas yang hendak menerkam mangsanya. Tetapi Allan memberinya kode agar tetap bersabar dan tidak gegabah.
“Mari, Bu. Silakan duduk.” Allan menunjuk sofa panjang di hadapannya sehingga ketiga ibu-ibu rempong itu segera duduk di sana.
Selama beberapa saat semua diam. Dari mimik wajah masing-masing tersirat ketakutan, rasa bersalah dan malu. Entah kemana perginya kesombongan yang sempat mereka tunjukkan saat bertemu dengan Giany kemarin.
“Ka-kami kemari untuk minta maaf sama Bu Giany dan keluarga. Kalau ... se-selama ini perbuatan kami mengganggu.”
“Bukan cuma mengganggu. Tapi juga sangat merugikan. Gara-gara kelakuan kalian bertiga menantu saya jadi takut keluar rumah!” Bu Dini dengan cepat menyela, membuat ketiga wanita itu semakin gemetar.
“Bu ...”
Allan menatap sang ibu. Ia menggelengkan kepala yang berarti ‘jangan’ . Lagi pula yang Allan inginkan hanya agar mereka minta maaf kepada Giany dan tidak mengulangi lagi perbuatannya di kemudian hari.
“Bu Giany ... Kami minta maaf kalau ucapan kami kemarin membuat Ibu sakit hati. Kami mengaku salah.”
Giany melirik Allan, tidak tahu harus berkata apa pada beberapa tetangga nya itu. “Mas ...”
__ADS_1
Allan mengeratkan genggaman tangannya saat merasakan tangan Giany gemetar. Kemudian menganggukkan kepala. “Tidak apa-apa. Itu hak kamu mau memaafkan atau tidak.”
Wanita itu memberanikan diri menatap satu-persatu ibu-ibu julid yang selalu menyebar fitnah tentangnya. Ia menarik napas dalam dan menghembusnya perlahan.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah ikhlas.”
Mendapatkan maaf dari Giany tak serta merta membuat ketiganya bernapas lega. Pasalnya suami-suami mereka masih ada di kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Salah satu dari mereka bahkan sudah menangis.
“Bu Giany, Dokter Allan ... Kalau boleh saya mau minta tolong supaya tuntutan kepada suami saya diringankan. Anak saya masih kecil-kecil. Kalau suami saya dipenjara, kami makan dari mana?” ucap Bu jefri sambil mengusap air mata.
Allan melirik Giany. “Sayang, kamu ikhlas kalau aku cabut tuntutannya?” Giany mengangguk tanda setuju. “Kalau ibu bagaimana?” tanya Allan kepada sang ibu.
“Saya janji tidak akan mengusik keluarga Ibu lagi. Tolong maafkan saya, Bu Dini,” ucap Bu Burhan seraya mengatupkan tangan di depan dada.
Sepertinya Bu Dini benar-benar sedang kesal kepada tetangganya. Terlihat dari wajahnya yang masih jutekly sinisly bin judesly akut. Dan sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas, sekalipun ia sadar dendam itu tidak baik.
“Makanya, Bu ... Punya mulut itu dijaga, jangan sampai kalah sama pant*at!! ****** aja mikir dulu kalau mau kentut, ada yang dengar apa tidak, karena malu kalau sampai ada yang dengar. Masa mulut mau ngomong tidak dipikir dulu. Kalah dong sama pant*at.” Ucapan pedas Bu Dini sontak membungkam mulut-mulut tetangganya. Mereka diam dan saling lirik satu sama lain.
Allan menutupi seringainya dengan jari.
__ADS_1
Ya ampun, kenapa ibu jadi ikutan julid begini sih. Dan kenapa aku malah senang. Astagfirullah, sadar Allan.
“Bu, sudah ...” ucap Allan lembut kepada Bu Dini. Ia menatap tiga wanita di depannya dengan serius setelahnya. “Bu Burhan, Bu Heri dan Bu Jefri. Maafkan ibu saya.”
“Ti-tidak apa-apa, Dokter,” jawab mereka bersamaan.
“Saya akan cabut tuntutan untuk suami ibu. Tapi dengan satu syarat, ibu-ibu harus meluruskan segala fitnah yang beredar tentang istri saya. Jelaskan ke semua warga di kompleks bahwa tuduhan merayu, kumpul kebo dan berselingkuh itu sama sekali tidak benar dan kalian lakukan karena menerima suap dari orang yang tidak bertanggungjawab.”
Ketiga wanita itu menganggukkan kepala. “Baik, Dokter, terima kasih atas kebaikannya.”
🌻
🌻
🌻
🌻
Aku aselinya gak tau loh nulis komedi romantis. Makanya jangan heran kalau garing.
__ADS_1