
“Sama-sama, Pak. Bukankah tetangga adalah kerabat terdekat, jadi harus saling membantu.”
Bu Burhan, Bu Hery dan Bu Jefri yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara dan sekali lagi memohon maaf atas perbuatannya kepada Giany. Ada rasa malu yang besar, terlebih Giany adalah istri dari bos suami mereka.
“Maafkan kami, Bu Giany ... Kami sudah keterlaluan,” ucap wanita itu sambil menyeka air mata penyesalan.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah memaafkan.”
Mereka pun saling mengobrol layaknya tetangga pada umumnya. Tiada lagi tetangga julidly, sinisly dan jutekly. Suasana akrab sudah tercipta. Para tetangga pulang setelah memberikan bingkisan untuk Giany sebagai bentuk permintaan maaf.
“Mas, aku tidak menyangka kalau suami Bu Burhan, Bu Hery dan Bu Jefri bekerja di May-Day,” ujar Giany.
“Kamu juga tidak menyangka kalau Bu Allan adalah istri pemilik May-Day kan?" ucap Allan diiringi tawa khasnya. "Aku juga baru tahu tadi pagi kalau mereka staf gudang.”
“Oh ...”
“Kecelakaan kamu kemarin itu karena lift error. Staf gudang memindahkan barang tapi tidak lihat kapasitas lift. Beni mau pecat mereka, tapi aku larang. Kan kasihan, lagian mereka tetangga kita. Kamu tidak keberatan, kan Sayang?”
“Tidak, Mas. Justru tidak enak kalau Mas pecat mereka.”
“Tapi jangan bilang sama ibu tentang ini ya. Kamu tahu kan, ibu sayang sekali sama kamu. Kalau ibu tahu kecelakaan kemarin karena kelalaian mereka, ibu pasti ngedumel lagi.”
__ADS_1
“Iya, Mas. Tapi apa ibu tahu kalau mereka kerja di May-Day?”
“Belum. Nanti aku kasih tahu deh.”
Mereka kemudian berjalan menuju meja makan. Bu Dini dan Bibi Misa tengah menata makan malam di atas meja, Giany segera meletakkan bingkisan buah ke atas meja, lalu membantu sang mertua menata makanan.
“Tamunya sudah pulang, Nak?” tanya Bu Dini kepada Giany.
“Sudah, Bu. Mereka bawa bingkisan buah itu.”
“Tumben mereka baik,” ucap Bu Dini membuat Giany terkekeh.
“Mereka juga titip salam buat Ibu sama Bibi Misa.”
"Ibu bisa saja."
Makan malam pun berlangsung hangat seperti biasa. Ini adalah makan malam terakhir di rumah itu, karena besok mereka akan memulai lembaran baru di rumah yang baru. Allan makan dengan penuh semangat, masakan Giany terasa sangat nikmat melewati kerongkongannya.
“Ayah ...” panggil Maysha di sela-sela makan malam.
“Hmm...”
__ADS_1
“Mana janji Ayah tadi?”
Allan melirik Maysha dengan penuh tanda tanya. Memikirkan janji apa yang pernah ia katakan kepada anak gadisnya itu. “Memang ayah habis janji apa sama Maysha?”
“Tadi kan Ayah janji mau buatin Maysha dede bayi kalau Maysha tidak ikut ke atas sama Ayah dan Bunda.”
Sontak Allan tersedak makanan, ia terbatuk sambil mengusap dada, kemudian meraih segelas air putih dan meneguk secara tergesa. Sementara Giany menunduk dengan wajah merona merah.
Maysha baru saja membocorkan kelakuan ayahnya di depan seluruh penghuni rumah. Dan tentu saja itu memalukan bagi Allan maupun Giany.
“Hmm ... Tidak enak badan ya, Allan ...” sindir Bu dini seraya memicingkan mata.
Allan menghela napas panjang, lalu mengusap meja makan. “Kayaknya meja makannya harus diganti deh Bu ...”
Sialan juga ini meja makan, minta diganti rupanya. Padahal dia benda mati, tapi lebih nyebelin dari si Amir. Masa semua modus kebongkarnya di meja makan sih, dari sebelum menikah sampai setelah menikah. gerutu Allan dalam batin.
🌻🌻
Bonus malam Minggu.
Sebenarnya nama aku tuh Chicha. Tapi aku rela kalau kalian panggil aku "THOR" asal "R" nya jangan diganti "L" ya .... jangan sampai jempol keseleolicios, bisa gawatttttt!!!! 😂😂😂😂😂🤣🤣🤣
__ADS_1
wkwkwk makasih yaaa buat dukungan kalian untuk Allanlicious. Untuk saat ini, aku tidak berencana pindah lapak, jadi semua jenis halu dari Makassar ke Manchester sampai Madagaskar akan tetap di Noveltoonlicious.
muachhh muachhhh cip*ok basyaahhh gak pake sedotan dan semburan!!!