Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 77


__ADS_3

Setelah mendengar dari Joko tentang Giany yang menangis setelah pulang dari mini market, Bu Dini segera menuju lantai atas. Ia sangat mengkhawatirkan menantu tercintanya. Pintu kamar yang terbuka setengah membuat wanita paruh baya itu mengintip sedikit, untuk memastikan Allan dan Giany tidak sedang anu seperti yang ia temukan tempo hari.


Melihat Allan sedang berusaha menenangkan Giany, Bu Dini akhirnya memilih menunggu Allan di ruang TV yang berada di sebelah kamar. Sudah merupakan tugas Allan seorang untuk menghibur istrinya yang sedang sedih.


“Sudah jangan nangis lagi. Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja. Shoping gitu ke mall. Ibu-ibu kan sukanya belanja. Kamu juga mau beli hape baru kan?”


“Aku malu, Mas. Aku tidak mau keluar rumah dan bertemu tetangga.”


“Kalau begitu shoping nya di rumah saja. Aku panggil karyawan butik seperti waktu itu, mau?”


Giany menggeleng. Ia tidak ingin menghamburkan uang hanya untuk sesuatu yang tidak penting.


“Aku mau di rumah saja.” Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allan. Mencari ketenangan di sana.


Allan mengusap rambutnya dengan sayang. Ia paham, Giany masih sangat muda. Usianya bahkan belum genap 21tahun. Usia transisi dari remaja ke dewasa, di mana seseorang kadang masih cukup labil dan belum bisa mengolah emosinya dengan baik.


Giany sudah berhenti menangis setelah Allan berhasil menenangkannya. Tetapi masalah tadi berdampak cukup serius, karena membuatnya tidak berani keluar rumah lagi. Allan kemudian keluar dari kamar dan mendapati Bu Dini menunggu di ruang TV.


“Allan, bagaimana Giany?” tanyanya dengan raut wajah khawatir.


“Biasalah, Bu. Ketemu tetangga julid.” Ia menjatuhkan tubuhnya di sisi sang ibu.

__ADS_1


“Tetangga mana memangnya yang julid sama Giany? Mau ibu labrak saja sekalian.”


Allan menghela napas. “Namanya Bu Burhan sama Bu Herry. Yang mana sih orangnya, Bu?”


Alis Bu Dini tampak berkerut, lalu kemudian terlihat sangat kesal. “Oh, Bu Burhan sama Bu Hery toh,” ucapnya dengan helaan napas. “Bu Burhan itu yang punya anak namanya Keyshia. Itu loh yang terus nawarin ibu jodohin anaknya sama kamu.”


“Oh. Memang si Keyshia itu janda, Bu?”


“Bukanlah. Masih gadis, usianya tidak jauh dari Giany. Kata ibunya usianya 23tahun. Bu Burhan itu pasti kesal karena kamu menikah dengan Giany, bukan dengan anaknya.”


“Terus?”


“Oh ...” Allan menganggukkan kepala, kemudian tersadar. “Kok kita jadi gibahin anak orang ya, Bu?”


“Iya, ya. Astagfirullah.” Ia mengusap dadanya beberapa kali. “Habis ibu kesal sama orang yang bikin menantu ibu sedih. Awas saja mereka. Besok ibu mau balas kalau lagi beli sayur.”


Allan terkekeh menatap Bu Dini, ibunya itu memang seseorang yang sangat penyayang. Ia tidak akan terima jika ada yang berani menyakiti keluarganya.


"Bu, tapi untung ibu kasih aku nama Allan huruf 'L' nya dua, coba kalau satu. Bisa gawat, Bu!"


"Memang kenapa, Lan? Mau dua atau satu kan ngucapinnya tetap sama."

__ADS_1


"Ya tetap ada bedanya, Bu. Ibu-ibu tetangga kan saling panggil pakai nama suaminya. Bu Burhan, Bu Hery, Bu Syarifudin, Bu Jefry."


Bu Dini mengerutkan dahi. Ia belum menangkap ke mana arah pembicaraan Allan. "Memang kenapa?"


"Coba kalau huruf 'L' nya satu Bu, aku bisa dipanggil sialan, Giany bisa jadi Bualan! Bisa makin syok dia dipanggil Bualan sama tetangga. Belum lagi kalau ada yang julid, nanti mereka sebut Bualan istrinya sialan gimana coba, Bu?"


Sontak Bu Dini tertawa terbahak mendengar ucapan Allan. Ia mencubit lengan anaknya dengan gemas. "Bisa aja kamu tuh, dasar tukang moduslicious!"


Mereka akhirnya tertawa bersama. Allan memang selalu punya cara tak biasa untuk meredakan kemarahan orang-orang di sekitarnya.


Setelah berbincang sebentar dengan Bu Dini, Allan turun ke lantai bawah untuk menemui Joko yang sedang bermain bersama Maysha di ruang keluarga.


“Joko!”


“Iya, Bos.” Joko menurunkan Maysha dari punggungnya. Kemudian mendekat pada sang bos.


“Saya mau semua orang yang disuap Ayra untuk menyebarkan fitnah kepada istri saya diseret ke kantor polisi. Minta mereka untuk membuat klarifikasi di depan media dan minta maaf ke Giany. Kalau perlu klarifikasinya disiarkan langsung. Kalau mereka menolak, saya akan tuntut mereka semua karena sudah menyebarkan fitnah.”


“Baik, Bos!”


🌻

__ADS_1


__ADS_2