
Ponsel milik Allan jatuh begitu saja ke lantai. Amir baru saja menghubunginya dan memberitahu tentang kejadian di restoran. Air matanya hampir saja terjatuh. Seorang wanita yang duduk di sampingnya mengambil ponsel dan meletakkan di meja.
“Ada apa?” tanyanya penasaran.
“Ada kebakaran di taman hiburan. Maysha dan Giany terjebak di sana.” Allan panik, kemudian bangkit dari duduknya. “Siska aku harus pergi ke sana sekarang.”
“Tunggu, aku ikut!” Wanita itu meraih tas dan berjalan dengan tergesa-gesa mengikuti Allan yang sudah melangkah lebih dulu.
Lokasi taman hiburan tidak begitu jauh dari tempatnya berada. Hanya berjarak kurang dari satu kilo meter. Kurang dari tujuh menit perjalanan mereka telah tiba di lokasi kebakaran. Allan mengemudi tanpa mempedulikan kendaraan lain yang hampir ia tabrak karena menyalip.
Pandangannya berkeliling mencari dua orang yang paling berharga di dalam hidupnya. Suasana di lokasi kejadian sudah sangat kacau. Para pengunjung sudah memadati area itu, layaknya sebuah tontonan yang sayangnya cukup mengerikan. Asap mengepul dari bangunan berlantai tiga itu. Api menjalar dengan cepat. Allan sudah hampir gila memikirkan anak dan istrinya.
“Maysha ... Giany!” teriaknya menggelegar.
Pandangannya kembali berkeliling mencari. Riuh suara sirine yang berasal dari pemadam kebakaran menggema. Mereka baru saja tiba, lalu bersiap untuk menjinakkan si jago merah sebelum menjalar ke bangunan lain.
“Bos!” panggilan Joko membuat Allan menoleh. Ia menghembuskan napas lega saat melihat Maysha ada di gendongan Amir.
Tapi tunggu! Dimana Giany? Allan mencari sambil berjalan mendekat. Lalu memeluk putrinya yang menangis ketakutan. Kemudian memeriksa bagian tubuh mungil itu. Memastikan tidak ada lecet sedikitpun.
“Di mana Giany?” tanya nya setengah berteriak kepada dua pria berbadan besar yang ia perintahkan untuk menjaga anak dan istrinya.
Amir dan Joko saling tatap, seolah saling meminta untuk menjawab pertanyaan sang bos.
“Saya belum melihat Bu Giany keluar dari dalam gedung, Bos! Tadi saya dan Amir juga sempat masuk memeriksa di awal kejadian, tapi Bu Giany tidak ada. Kata petugas sudah tidak ada orang di dalam. Semua sudah dievakuasi keluar.”
Allan menjambak rambutnya dengan frustrasi. "Kalau di dalam sudah tidak ada orang, kenapa Giany tidak ada bersama kalian?" Lagi-lagi ia berteriak.
Maysha ia berikan kepada Amir. "Jaga Maysha, saya mau cari Giany ke dalam."
"Tapi Bos, cukup berbahaya masuk ke dalam. Api mulai menjalar." Joko berusaha menghalangi sang bos, tetapi Allan tidak peduli.
__ADS_1
Ia berlari masuk ke dalam gedung itu tanpa mempedulikan apapun lagi. Beberapa petugas yang coba menghalanginya berakhir dengan kepalan tangan keras sang dokter. Ia yakin Giany terjebak di atas sana. Laki-laki itu naik dengan menggunakan tangga darurat, menuju lantai dua yang diberitahukan Amir tempat Giany dan Maysha tadi berada.
"Joko, tolong jaga Nona kecil, aku mau masuk menyusul bos!" Amir menyerahkan Maysha ke tangan Joko. Lalu dengan segera menyusul Allan.
Hawa panas seketika menjalar. Asap seolah melingkupi paru-paru. Allan sampai batuk karena kekurangan oksigen. Kobaran api sudah mulai berkurang, menyisakan rasa panas dan kepulan asap.
"Giany!" Teriaknya sambil memeriksa beberapa bagian bangunan yang dapat ia jangkau. "Kamu dimana Giany?"
Perlahan kelopak mata Giany mulai terbuka saat mendengar namanya dipanggil. Rasanya sudah tidak kuat lagi menyahut. Bernapas pun terasa sangat sulit.
"Giany!" Sayup-sayup panggilan itu terdengar lagi. Giany berusaha mengumpulkan kekuatannya. Ia tidak boleh berakhir di tempat itu.
Mas Allan? Itu suara Mas Allan.
Dengan sisa tenaga ia mencoba memberitahu bahwa dirinya terkurung di sana, meskipun suaranya sudah nyaris tidak ada daya. "Mas! Aku di sini!"
Allan menoleh saat mendengar suara teriakan Giany yang berasal dari toilet di sisi dapur. Ia segera mendekat.
"Iya, Mas," jawabnya sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Allan panik, suara Giany terdengar sudah lemah. Ia memutar gagang pintu itu. Sialnya terkunci.
"Pintunya dikunci dari luar, Mas!"
Allan semakin panik. Tetapi dirinya tidak boleh lengah. Keselamatan Giany adalah hal terpenting sekarang.
"Menjauh dari pintu, aku mau dobrak!"
Mendengar perintah itu, Giany segera menjauh dari pintu dengan menyeret langkahnya. Allan mendobrak beberapa kali, tetapi gagal.
Hingga Amir datang dan membantunya. Dengan sekuat tenaga mereka mendorong pintu hingga berhasil roboh.
__ADS_1
"Giany!"
Allan berlari mendekat, meraih tubuh ringkih itu dan memeluknya. Giany sudah mulai kehabisan tenaga, ia bersandar di dada Allan sambil menangis ketakutan.
"Mas ..." lirihnya sambil mengusap air mata.
"Jangan takut, aku akan bawa kamu keluar dari sini."
Allan dan Amir membantu Giany keluar dari ruangan sempit itu. Ketiga nya sudah dalam kondisi yang cukup lemah karena kesulitan bernapas.
Saat melewati sebuah pintu, sebuah balok kayu terjatuh dari atas. Allan yang menyadari mendorong Amir dan Giany hingga tersungkur.
Bruk!
Balok kayu itu jatuh menghantam tubuh Allan. Suara teriakan Giany pun menggema.
🌻
Hampir satu jam Giany duduk menunggu di depan sebuah ruangan di rumah sakit. Allan dilarikan ke rumah sakit berkat pertolongan petugas pemadam kebakaran setelah tertimpa balok kayu yang terjatuh.
Masih terdengar suara isak tangis di sana. Amir juga ada di sana, menemani Giany menunggu Allan. Ia juga khawatir dengan kondisi sang bos.
"Minum dulu, Bu." Amir menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Giany setelah melihat wajah pucat wanita itu.
Ia meraihnya dan meneguk sedikit. "Terima kasih, Pak."
Giany mengusap air mata. Di tangannya ada ponsel milik Allan. Sedangkan ponsel miliknya mungkin sudah menjadi abu karena tertinggal di restoran.
Ia membuka kunci layar ponsel, hendak menghubungi sang mertua untuk menanyakan kondisi Maysha yang sudah pulang lebih dulu bersama Joko.
Alisnya terlihat mengerut saat mendapati nama kontak teratas. "Babylicious?"
__ADS_1
🌻