Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 71


__ADS_3

Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu terdengar, mengagetkan Allan yang sedang mencoba merayu Giany. Ia melirik pintu dengan kesal dan berjalan ke sana. Membukanya sambil menghunus tatapan tajam. Allan akan memaki siapapun yang berani mengganggunya di jam seperti ini, kecuali Maysha, Ibu dan Bibi Misa. Tampak Amir dengan raut wajah polosnya berdiri di ambang pintu membawa tali tambang di tangannya.


"Mau apa kamu?"


“Ini tali tambangnya, Bos! Katanya tadi buat bunuh diri.”


Allan mendengus. Amir benar-benar tidak paham bahwa pintu kamar yang ia ketuk adalah kamar pengantin baru.


“Itu buat kamu. Sekarang kamu kembali ke pos. Ikat tangan dan kaki sendiri biar tidak ngelayap kemana-mana, terutama malam ini. Jangan ganggu saya!” Lalu menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Allan mengusap dada setelahnya. Amir benar-benar seolah sedang menguji kesabaran. Padahal siapa juga yang tadi meminta tali tambang untuk bunuh diri? Mungkin Amir harus mandi buang sial, karena terus menjadi pelampiasan kekesalan sang bos.


Allan menghela napas panjang, kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lagi. Amir cukup menguras emosinya. Sapuan air wudhu membersihkan dirinya dari rasa kesal. Ia keluar menemui Giany setelahnya.


“Sampai di mana tadi? Aku ajak kamu ibadah ya??”

__ADS_1


“Ibadah?” Giany menatap Allan lekat-lekat.


“Iya, ibadah. Mau aku ajari?” tanya Allan dan langsung disambut anggukan oleh Giany. “Kamu mandi dulu, aku sudah siapkan air hangat, setelah itu dandan yang cantik, wangi, terus ...” Ia menggantung ucapannya, membuat kerutan di dahi Giany tercipta.


“Terus apa, Mas?”


“Nanti aku beritahu. Kerjakan dulu yang tadi aku bilang.”


Giany mengangguk dan tanpa bertanya lagi masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Hingga beberapa menit berlalu, ia keluar dalam keadaan sudah bersih. Allan tampak sudah siap dengan baju koko dan sarung, sama seperti semalam saat ia mengajari Giany beribadah di sepertiga malam terakhir. Giany melirik arah jarum jam. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


Sajadah membentang di tempat kosong di sisi tempat tidur. Menghadap kiblat, keduanya larut dalam ibadah. Giany merasakan betul nikmat yang ia dapat dari ibadah bersama sang suami.


Giany mencium punggung tangan Allan setelah menjalankan shalat sunnah dua rakaat itu. Hangat, tentram dan damai. Kini mereka duduk saling berhadapan di atas sajadah.


“Pernikahan seperti apa yang kamu harapkan?” Pertanyaan dari Allan membuat Giany mematung. Ya, wanita itu tidak pernah memikirkan sebelumnya tentang pernikahan seperti apa yang ia harapakan. Yang ia tahu, pernikahan yang diinginkan semua wanita adalah yang membawa kebahagiaan. Hanya itu, tidak ada yang lain.

__ADS_1


Lembut, Allan mengusap ubun-ubun Giany. Mengecup kening dengan penuh kasih sayang, lalu berbisik mesra, “Pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah.”


Giany mengangkat kepala, menatap ke dalam manik hitam suaminya. Ia diam membisu.


“Sakinah itu ketenangan. Keluarga yang sakinah membuat seorang suami saat lelah mencari nafkah mendapatkan ketenangan saat pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Giany, aku ingin kamu selalu menjadi rumah tempatku untuk pulang. Mawaddah adalah cinta. Sebuah pernikahan adalah ladang untuk saling memberi dan menghujani cinta yang halal. Mengubah sya*hwat menjadi berpahala. Mawaddah itu fitrah manusia. Dan warahmah adalah mendapatkn rahmat atau berkah. Berkah dari kasih sayang yang diwujudkan dengan saling menjaga, saling melindungi, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.”


Giany menjatuhkan air mata. Bukan kesedihan, tetapi rasa bahagia. Allan meraih jemarinya. Menggenggam dan meletakkan di dada. “Kamu mau kan, kita belajar bersama, untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah? Dan kita bisa menuju jannah bersama?”


🌻


🌻


🌻


note:

__ADS_1


Shalat yang dikerjakan Allan dan Giany adalah shalat Sunnah dua rakaat. Yang mana sering dilakukan pasangan suami istri sebelum menjalankan ibadah halalnya untuk pertama kali.


__ADS_2