
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Allan selesai dengan tugasnya. Ia baru saja selesai mengumandangkan adzan untuk menyambut kelahiran seorang bayi.
Sementara di depan, Giany tetap setia menunggunya, meskipun sedari tadi Allan sudah memintanya untuk pulang lebih dahulu.
Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, melewati sebuah jalan yang cukup ramai oleh kendaraan.
Giany melirik Allan. “Mas ... boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh ... tanya aja,” jawab Allan santai.
“Kenapa ya, Mas ... kebanyakan dokter kandungan itu laki-laki?”
Kening Allan reflek mengerut mendengar pertanyaan itu. Ia melirik Giany sekilas, lalu kembali terfokus pada jalan di depannya. “Kenapa tanya begitu?”
“Tidak apa-apa. Cuma mau tahu saja kenapa.”
Allan tersenyum. Melalui tatapan Giany, ia dapat menebak maksud pertanyaan itu. “Kamu mau bilang laki-laki mau jadi dokter kandungan supaya bisa pegang-pegang wanita ya?” Kemudian terkekeh ketika mendapati semburat merah di pipi Giany. Ia layaknya seorang penguntit yang ketahuan.
__ADS_1
Giany pun gelagapan dibuatnya, terkejut karena ternyata Allan dapat menebak apa yang ada di benaknya. “Bu-bukan begitu, Mas ... Maksud aku—” Ia tak melanjutkan lagi karena sudah merasa malu.
“Bukan kamu saja kok yang berpikiran seperti itu. Isu gender pada dokter kandungan memang menjadi permasalahan yang sering muncul di masyarakat.”
“Haa ...” Mata Giany membulat, langsung menatap suaminya.
“Iya. Sudah sejak dulu. Bahkan banyak pasangan yang tidak mau konsultasi ke dokter kandungan laki-laki.”
Seketika Giany menunduk. Ingin memuaskan semua tanda tanya di benaknya, tetapi sudah malu duluan. Allan menyadari itu sejak Giany menemaninya hari ini. Ia paham, Giany mungkin terkejut setelah seharian menemaninya bekerja dan bertemu banyak pasien wanita dengan permasalahan kesehatannya masing-masing.
“Mau tanya apa lagi. Tanya saja tidak apa-apa.”
“Risih kenapa? Giany ... Dokter kandungan itu sudah melihat ratusan organ intim wanita dengan berbagai bentuknya. Kamu tahu, bagi seorang dokter kandungan, organ intim tidak lebih dari organ reproduksi wanita dan memandangnya sebagai objek ilmu kedokteran.”
Jawaban Allan pun membuat Giany menghela napas lega. Tetapi tak serta merta memuaskan pertanyaan di benaknya. “Kenapa Mas memilih menjadi dokter kandungan?”
“Tidak ada alasan khusus. Semuanya hanya karena mau menyelamatkan nyawa pasien, terutama ibu dan anak. Selain itu dokter bekerja di bawah sumpah.”
__ADS_1
“Sumpah apa, Mas?”
“Apa perlu aku sebutkan semuanya?”
“Banyak ya?”
“Em ... Aku sebutkan garis besarnya saja ya, biar kamu tidak bingung.” Giany mengangguk, Allan pun menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Giany. “Salah satunya adalah merahasiakan segala sesuatu yang diketahui karena keprofesian, terus tidak membeda-bedakan pasien dari agama, suku gender, kedudukan sosial atau jenis penyakit, dan satu lagi yang penting yaitu menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.”
“Jadi Mas bekerja di bawah sumpah ya?”
“Bukan hanya aku, tapi semua dokter. Jadi kamu jangan pikir yang macam-macam, karena tujuan dokter hanya menyelamatkan nyawa orang saja.” Ia meraih jemari Giany dan mengecup punggung tangannya.
Akhirnya, seluruh keraguan yang sempat menghinggapi benak Giany sirna. Ia mengingat lagi kejadian di rumah sakit tadi. Meskipun Allan bekerja di bawah tekanan suami pasien, tetapi ia tetap sepenuh hati menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.
“Tenang aja, Sayang ... Arnold cuma bisa bangun kalau sama kamu.”
“Masss!!!”
__ADS_1
****
hayooo siapa yang malu periksa ke dokter kandungan laki-laki?? Mari curhat yuuukkkk