Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 149


__ADS_3

Allan melirik Giany yang duduk di sebelahnya, lalu kembali terfokus pada jalan di depan. Giany belum mengucapkan sepatah kata pun sejak sepuluh menit lalu.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju pusat rehabilitasi untuk memenuhi permintaan Ayra yang ingin bertemu dengan putrinya. Namun, sejak tadi Giany mendiamkan suaminya.


"Jadi masih marah nih ceritanya?" Allan membuka suara, membuat Giany menoleh.


"Marah kenapa, Mas? Marah sama suami itu kan dosa."


"Kalau tidak marah kenapa dari tadi diam terus? Horor loh ini suasananya. Mobil berasa kuburan."


"Perasaan Mas aja." Giany menoleh ke belakang dan tersenyum. Maysha menatap mereka bergantian sambil memakan snack.


Ponsel milik Giany berdering tanda pesan masuk. Ia segera mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tas.


"Bu Giany ... Maafin saya, kemarin lupa menyampaikan pesannya ke Dokter Allan. Saya hampir seharian di ruang bersalin." ~Selma


Giany teringat lagi kejadian semalam ketika Allan membentaknya. Meskipun begitu, ia sama sekali tak menyalahkan Suster Selma. Giany lalu mengetik pesan balasan.


"Tidak apa-apa, Suster. Maaf sudah merepotkan."


Menyadari raut sedih di wajah Giany yang tiba-tiba, Allan menatapnya sekilas. "Kenapa? Siapa yang kirim pesan?"


"Suster Selma, Mas. Dia minta maaf, katanya lupa menyampaikan pesanku kemarin."


"Oh ..." Ia diam sejenak. "Tadi Selma juga menghubungi aku. Dia bilang lupa menyampaikan pesan kamu. Maaf ya, Sayang. Aku membentakmu tanpa bertanya." Tangan kirinya terulur membelai wajah istrinya. Ia tampak penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Mas. Lupakan saja soal semalam." Walaupun Giany sudah memaafkan, namun Allan masih diliputi rasa bersalah.


Mobil sudah memasuki parkiran. Giany meraih selembar tissue, lalu mengusap bibir Maysha dari sisa snack.


"Makan snack-nya nanti lagi ya, Sayang. Kita masuk dulu ketemu ibu."

__ADS_1


"Iya, Bunda."


***


Mereka duduk menunggu di dalam sebuah ruangan. Tak berselang lama, Ayra muncul dari balik pintu. Hampir menangis ketika melihat Maysha reflek menunjukkan reaksi terkejut saat dirinya masuk. Maysha membenamkan wajahnya di dada Giany.


Ayra menyadari bahwa Maysha masih belum melupakan kejadian beberapa waktu lalu, saat dirinya ingin mencelakai Giany di restoran yang menyebabkannya berurusan dengan hukum.


"Tidak apa-apa, Sayang, jangan malu-malu! Ibu mau peluk Maysha. Ayo, peluk ibu juga," bujuk Giany dengan lembut.


Perlahan Maysha menoleh. Ayra sudah berjongkok di hadapannya dengan wajah sedih dan penuh harap. Ia meneliti tubuh putrinya yang tampak sangat bersih dan terawat. Tubuhnya juga lebih berisi dibanding saat terakhir kali bertemu.


"Ibu ..."


Panggilan itu membuat lelehan air mata mengalir di pipi Ayra. Tak dapat membendung perasaan bahagia yang membuncah, ia memeluk putrinya dalam tangis, menciumi pipinya berulang-ulang.


"Kamu sudah bisa bicara, Nak?" Ayra terisak. Ini adalah sebuah kejutan yang sangat membahagiakan baginya.


Maysha mengangguk pelan, lalu mengusap air mata yang mengalir di wajah ibunya. Ayra meraih jemari Maysha dan mengecup punggung tangannya.


"Maysha juga sayang Ibu. Ibu cepat sembuh, ya ..."


Ayra larut dalam tangisan. Memeluk Maysha lagi demi melepaskan kerinduan yang menggunung. Ini adalah pertama kalinya Maysha mau memeluknya, karena selama ini Maysha selalu menolak bahkan sampai mengamuk.


Setelah lebih tenang, ia duduk di sebuah kursi di dekat Giany dan membawa Maysha ke pangkuannya. Sesekali ia tampak mencium puncak kepala putrinya.


"Giany ... Aku minta maaf untuk semua perbuatanku. Kesalahanku terlalu besar. Tapi meskipun begitu, kamu tetap mau merawat anakku sepenuh hati dan memberinya kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari aku."


"Tidak ada yang perlu dipersalahkan, Bu. Saya mengerti posisi Bu Ayra."


"Terima kasih, Giany. Aku mau memperbaiki diri untuk Maysha. Supaya nanti Maysha tidak malu mengakui aku sebagai ibunya."

__ADS_1


Giany menyahut dengan anggukan. Ia pun merasa iba dengan kondisi Ayra. Tetapi kini, Ayra sudah lebih baik.


Tadi, sebelum bertemu, Dokter sempat menjelaskan bahwa Ayra mengalami banyak perkembangan. Ia sudah terbebas dari ketergantungan obat-obatan terlarang.


****


Setelah berbincang dalam suasana hangat layaknya sebuah keluarga, Allan dan Giany berpamitan.


Baik Maysha dan Ayra tampak sangat bahagia. Begitu pun dengan Allan dan Giany.


"Saya pulang dulu ya, Mbak Ayra. Insha Allah setiap hari minggu saya akan bawa Maysha ke mari," ucap Giany. Kini, panggilannya untuk Ayra berubah atas permintaan Ayra. Mereka sepakat untuk menjadi sebuah keluarga demi membesarkan Maysha bersama.


"Terima kasih sekali lagi, Giany!" Ayra memeluk Giany dan Maysha. "Terima kasih, Allan."


Allan mengangguk seraya tersenyum. Kemudian menoleh ke arah pintu yang terbuka. Alisnya berkerut mendapati siapa yang baru saja.


"Freddie?"


Allan menatap curiga buket bunga mawar merah di tangan pengacaranya itu. Namun, kemudian Freddie sembunyikan di belakang punggung dengan gelagapan.


"Hai, apa kabar?" sapanya dengan senyum getir.


****


Hai hai siapa yang kangen SiAlan dan BuAlan?


Maaf ya, aku bukannya mau gantungin cerita. Maafin banget!


Kenapa aku baru up, karena kemarin bener-bener lagi mentok ide dan kalau dipaksain akan merusak jalan ceritanya.


Aslinya BSMI ini sudah tamat dari episode 141 kalau sesuai outline. Tapi karena banyak banget pembaca yang minta lanjut dan DM di IG. Jadi aku kasih bonchap deh. hehe

__ADS_1


Makasih atas dukungan ke Allan Giany. Oh ya, untuk novel ini gak usah di vote lagi ya. Karena sudah ada logo End-nya.


Salam sayang selalu.


__ADS_2