Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 47


__ADS_3

Hari ini sidang perceraian Giany dan Desta digelar. Giany menghadiri persidangan dengan ditemani Allan dan Bu Dini. Sebelumnya Allan juga sudah meminta bantuan Bibi Sum sebagai saksi bila diperlukan. Dan untungnya, wanita itu tidak menolak untuk memberi kesaksian, walaupun akan melawan tuannya.


Bu Dini duduk dengan gelisah menunggu Giany yang kini tengah berada di dalam ruang sidang. Giany sudah lebih dari satu jam berada di dalam ruangan itu, namun belum ada tanda-tanda akan keluar.


“Allan …” panggilnya sambil menarik lengah putranya.


“Kenapa, Bu?”


“Giany bagaimana ya? Kira-kira gugatannya dikabulkan atau …”


“Pasti dikabulkan, Bu. Kita kan ada bukti visum, saksi Bibi Sum dan Pak Mulyo. Lagi pula si Desta itu kan sekarang sedang di sel. Jadi akan memudahkan.”


“Iya sih.”


Tak lama Giany bersama Pak Mulyo dan Bibi Sum keluar dari dalam ruang sidang. Raut wajah Giany terlihat lesu dan tak bersemangat.


“Bagaimana, Giany?” tanya Bu Dini yang langsung berdiri menghampiri Giany. “Gugatan kamu dikabulkan?”


Giany menganggukkan kepala. “Iya, Bu …”


Mendengar ucapan Giany, wanita paruh baya itu pun bernapas lega. Ada senyum kebahagiaan yang memancar di wajah teduhnya. Sedangkan Allan masih tampak datar. Entah karena berita itu biasa-biasa saja baginya, atau dirinya hanya ingin menyembunyikan kebahagiaannya untuk menjaga perasaan Giany saja.


Ini berita yang sangat membahagiakan. Aku harus kasih bonus untuk Amir dan Joko ini … batin Allan bersorak.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga Hadikusuma. Betapa tidak, misi merebut istri orang akhirnya menunjukkan hasil memuaskan. Kini perjuangan Allan dalam merebut hati Giany akan dimulai.


Malam itu Giany sedang membereskan seragam sekolah Maysha, karena besok merupakan hari pertamanya masuk sekolah. Sedangkan Allan sedang menikmati kebersamaannya dengan Maysha di ruang keluarga.


"Permisi, Bos ..." Suara Amir menghentikan kegiatan Allan sejenak. Ia menoleh, kemudian menatap sinis laki-laki itu.


"Tidak usah bicara kamu ... Biasa nya ucapan kamu bikin mood saya hilang!" seru Allan dengan cepat, sebelum Amir mengeluarkan sesuatu dari mulutnya yang bagi Allan sangat beracun.


"Penting, Bos!"


"Tidak usah bilang penting-penting segala. Kamu ini benar-benar suka bikin kadar kebahagiaan saya berkurang ya?"


Nyali Amir seketika menciut mendengar ucapan sang bos. Tetapi bukan Amir namanya jika kenal hal bodoh bernama 'kapok'.


"Selain si Desta, langsung suruh masuk saja!" Belum sempat Amir menyelesaikan kalimatnya, Allan sudah menyela duluan.


Amir menggaruk kepala tanda bingung. "Bos yang bilang ya, suruh langsung masuk."


"Iya, saya yang suruh. Siapapun, selain si Desta!"


"Yang datang ... mertuanya Bu Giany, Bos!"

__ADS_1


Raut wajah Allan yang tadinya ceria pun berubah saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Amir. Ia menatap tajam, seolah manik hitamnya adalah belati yang sanggup mencabik-cabik tubuh Amir.


Si Bos kenapa lagi, coba. Kan aku tidak sebut orang tua suaminya Bu Giany.


"Ma-maaf, Bos!" Ia membenarkan ucapannya. "Maksud saya, orang tuanya Pak Desta ada di depan, katanya mau ketemu Bu Giany."


"Mau apa mereka bertemu Giany?"


"Katanya sih penting, Bos! Apa saya suruh pulang saja?"


"Jangan ... biarkan saja kalau mereka mau ketemu Giany."


"Yakin, bos?"


Pertanyaan Amir yang seolah menantang itu membuat Allan menoleh dengan kesal. "Kamu sedang mengukur seberapa dalam kesabaran saya, ya?"


Amir dengan cepat menggeleng. Sementara Maysha sejak tadi senyum-senyum sendiri mendengar sang ayah marah-marah tidak jelas.


"Tidak, Bos."


Allan menarik napas dalam. Meskipun tidak suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Desta, tetapi ia adalah pribadi yang sangat menghormati orang tua.


"Ya sudah, cepat sana, suruh mereka masuk. Jangan galak kamu sama orang tua, kualat tahu rasa!"

__ADS_1


"Baik, Bos!"


🌻


__ADS_2