Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
Membongkar Kebusukan Alan?


__ADS_3

“Ulang tahun Darmawan Group?” Allan menghela napas setelah membaca sebuah kartu undangan yang baru saja diberikan oleh seorang rekan kerjanya, Dokter Willy.


“Iya. Undangan sudah tersebar kemana-mana. Termasuk untuk semua orang yang bekerja di bawah naungan Darmawan Group.”


“Kamu akan datang?” tanya Allan.


Dokter Willy mengangguk, tentu saja dirinya wajib hadir di acara penting itu, sebab dirinya adalah pimpinan rumah sakit milik keluarga Darmawan, sekaligus sahabat baik dari pemilik rumah sakit itu.


“Sebagai salah satu bagian dari Darmawan Group, kita wajib hadir. Lagi pula tidak enak kalau sampai tidak datang. Apalagi pertunangan Rayhan akan diumumkan.”


Allan menyeruput secangkir the melati hangat di tangannya. Sebenarnya dirinya agak malas menghadiri acara itu. Mengingat perusahaan yang menaungi rumah sakit tempatnya bekerja adalah salah satu perusahaan terbesar di Asia. Tentu saja pesta yang digelar akan sangat mewah dan meriah seperti tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan Allan tidak begitu menyukai pesta mewah dan lebih suka menghabiskan waktu di rumah.


“Kamu datang dengan siapa?” tanya Allan lagi, padahal ia tahu betul, bos sekaligus sahabatnya itu akan datang bersama siapa.


“Tentu saja dengan istriku, Elsa. Memang aku mau datang dengan siapa coba?”


“Sama aku saja lah. Istrimu tidak usah ikut. Biar aku ada temannya,” sahut Allan.


Dokter Willy terkekeh, “Makanya cepat halalkan Giany! Biar kamu punya teman pergi ke pesta dan yang pasti punya teman di atas ranjang!” Kelakarnya tanpa mempedulikan ekspresi wajah Allan.


Sambil berdecak Allan melempar bahu willy dengan kotak tissue. “Kamu pikirannya ranjang terus. Lagi pula kamu kan tahu Giany itu masih istri orang.”


“Kan sebentar lagi dia pisah. Sidang perceraiannya beberapa hari lagi akan digelar, kan?”


Allan mengangguk sebagai jawaban.


“Kalau suaminya tidak hadir dalam sidang nanti, mungkin prosesnya akan lebih cepat. Apalagi Giany punya hasil visum sebagai bukti penganiayaan.”


Allan mengangguk, ia ingat beberapa waktu lalu sempat mengancam hal yang sama kepada Desta agar tidak meminta mediasi dan tidak menghadiri persidangan.


“Terus aku harus bagaimana, Wil?”


“Tenang saja. Meskipun kamu adalah pendosa besar karena berniat merebut istri orang, tapi aku akan membantu usahamu. Ajak saja Giany ke ulang tahun perusahaan itu. Tunjukkan ke dia, kalau dia itu punya tempat yang istimewa di hatimu. Jangan bisanya cuma menjalankan modus yang selalu gagal.”

__ADS_1


"Semua modus itu kan ide konyol dari kamu yang gagal terus."


"Bukan modusnya yang kurang canggih. Kamu yang bodoh menjalankan."


Allan berdecak kesal. “Jadi aku ajak Giany ke pesta itu saja?”


“Iyalah! Akan ada pesta dansa loh. Kapan lagi bisa sedekat itu dengan Giany. Kamu bawa ke lantai dansa sebagai langkah awal, habis itu kamu ajak naik ranjang deh,” ucap Willy frontal tanpa rasa berdosa, membuat Allan tersedak teh manis yang baru diseruputnya.


“Sialan kamu, Wil!” gerutu Alan diikuti tawa menggema dari Dokter Willy.


🌻


🌻


🌻


"Allan, ini undangan ulang tahun perusahaan Darmawan Group ya?" tanya Bu Dini. Ia baru saja menemukan kartu undangan yang sengaja diletakkan Allan di atas rak TV.


"Iya, Bu."


"Kamu akan datang?"


"Sebenarnya malas, Bu. Apalagi tidak ada teman. Yang lain datang dengan pasangan masing-masing. Masa aku harus datang sendiri. Terlalu kelihatan ngenes nya." Ia menatap Bu Dini dengan memelas seolah minta dikasihani.


"Cari pasangan makanya!"


Ah ibu, bukannya bantuin, malah suruh cari pasangan.


Allan melirik Giany yang tampak sangat acuh kepadanya dan hanya terfokus kepada Maysha saja. Ia menghela napas frustrasi setelahnya. Sikap Giany masih dingin dan kaku.


"Ya sudah, nanti ibu yang temani kamu. Bagaimana?"


Loh, kok malah ibu yang menawarkan diri. Kan mau nya Giany, Bu! jerit Allan dalam batin.

__ADS_1


"Yakin, Bu?" Allan menatap curiga. "Ibu kan tidak suka pesta."


"Nanti kan bisa ajak Giany dan Maysha. Jadi kita perginya ramai." Bu Dini mengedipkan satu kelopak matanya, yang dapat diartikan dengan baik oleh Allan.


Laki-laki itu pun tersenyum penuh makna. Sepertinya kali ini akan ada kemajuan dalam misi merebut istri orang.


"Boleh, deh!" jawabnya berlagak pasrah.


"Giany, bagaimana ... Kamu bisa ikut juga, kan?" tanya Bu Dini.


Giany menatap Bu Dini dan Allan bergantian. Ada rasa tidak enak, antara mau menolak dan menerima ajakan itu. Sebab dirinya merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga kalangan atas.


"Maaf, Bu. Saya lebih baik di rumah saja. Lagi pula pesta seperti itu tidak cocok untuk orang kecil seperti saya."


Kenapa Dokter Allan tidak ajak Babylicious saja ya ... Bukannya Babylicious itu calon ibunya Maysha? batin Giany.


"Ah, kamu ini. Sesekali ikut kan tidak apa-apa. Nanti ibu carikan gaun yang sesuai untuk kamu di Butik Elmira. Iya kan, Allan?"


Allan hanya menyahut dengan senyum tipis, juga anggukan kepala, tetapi dalam hati bersorak gembira.


Bagus Bu, pepet terus!


🌻


🌻


Sementara itu, di sebuah kamar dengan pencahayaan temaram, seorang pria sedang duduk merenung seorang diri. Sambil menggenggam kartu sebuah undangan di tangannya, Desta tersenyum licik.


Sepertinya ia menemukan jalan mulus untuk merebut kembali Giany dari Allan.


"Si Allan itu pasti datang ke acara ini. Ya, aku akan bongkar kebusukan dia di sana. Bagaimana reaksi semua orang kalau tahu, bahwa Dokter Allan Hadikusuma yang terhormat rupanya hanya seorang perusak rumah tangga orang. Citra rumah sakit tempatnya bekerja pasti akan jadi taruhan. Dan Pak Rayhan pasti akan memecatnya."


🌻

__ADS_1


🌻


__ADS_2