Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 151


__ADS_3

Perebut istri orang ....


Mungkin julukan itu akan terdengar mengerikan bagi semua orang. Tetapi tidak bagi Dokter Allan Hadikusuma. Memiliki Giany dalam hidupnya merupakan kebahagiaan terbesar baginya.


Sedangkan bagi Giany, memiliki Allan sebagai suami adalah hadiah terindah dari Tuhan untuknya. Dari Allan, ia belajar banyak hal. Kesabaran, saling terbuka, menerima dan mencintai apa adanya.


Malam ini semua larut dalam rasa bahagia. Tidak ada lagi permusuhan, persaingan dan dendam.


Giany menggandeng lengan suaminya berjalan di atas karpet merah yang membentang dari pintu masuk menuju panggung. Malam ini adalah resepsi pernikahan Desta dan Aluna. Setelah berbulan-bulan menunggu, akhirnya Desta berhasil meyakinkan Aluna untuk menerima pinangannya.


"Selamat ya, Desta ... Aluna ..." ucap Allan menjabat tangan laki-laki itu.


"Terima kasih atas kehadirannya, Pak," balas Desta.


Allan menepuk bahunya seraya tersenyum.


Sama-sama. Ngomong-ngomong kamu kapan kamu kembali ke May-Day? Kamu sangat dibutuhkan di perusahaan loh."


"Insha Allah secepatnya, Pak."


Ya, sejak mengundurkan diri dari May-Day beberapa bulan lalu, Desta menjalani lembaran baru hidupnya dengan membuka sebuah bisnis kuliner. Ia butuh waktu untuk menata hatinya dari rasa bersalah terhadap Giany dan mendiang putranya, Rayyan.


Ia menatap Aluna yang tengah memeluk Giany. Wanita itu tampak cantik sempurna dalam balutan gaun berwarna putih.


"Selamat ya, Mbak Aluna," ucap Giany dengan senyum tulus.


"Terima kasih, Giany. Kamu sebentar lagi lahiran ya?"


"Iya, Mbak. Perkiraannya dalam minggu ini."


"Semoga lahirannya lancar, ya."


"Amin. Terima kasih, Mbak Aluna."

__ADS_1


Setelah mengucapkan selamat, mereka menuruni panggung. Allan menarik kursi agar Giany dapat duduk di sana. Lalu kemudian duduk dengan posisi menopang dagu, melirik ke arah meja tak jauh darinya. Sejak tadi wajahnya terus menekuk bagaikan kanebo kering.


"Kenapa sih, Mas?" tanya Giany menyadari raut wajah suaminya. "Mas Allan sakit?"


Allan hanya menarik napas dalam.


"Kamu lihat itu!" Ia menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Giany pun menoleh, lalu kemudian terkekeh saat menyadari apa yang membuat suaminya merajuk.


"Cemburu ya?" ledek Giany sambil menyuap potongan buah ke mulutnya.


"Bukan cemburu, cuma kesal." Ia mendengus, di hadapannya tersaji pemandangan yang membuat suasana menjadi gerah.


Sejak Ayra menikah dengan Freddie beberapa waktu lalu, Maysha kerap menghabiskan waktu dengan ibu dan ayah sambungnya. Tak jarang hal itu membuat Allan merasa cemburu terhadap Freddie yang berhasil membuat Maysha membagi cintanya.


"Dia pakai cara apa sih, sampai Maysha lengket begitu?"


Giany pun mengatupkan bibirnya demi menahan tawa yang terasa memaksa keluar. Allan terkadang sangat posesif terhadap dirinya ataupun Maysha.


"Mas, Mbak Ayra saja tidak keberatan Maysha membagi cintanya dengan aku, masa Mas malah cemburu sama Pak Freddie. Harusnya kan Mas senang, Maysha bisa menerima Mbak Ayra dan Pak Freddie. Coba lihat, Maysha bahagia sekali kan?"


"Aduh- aduh!" Giany tiba-tiba meringis memegangi perutnya. "Aduh, kenapa tiba-tiba sakit begini?"


"Kamu kenapa?" tanya Allan mengusap-usap perut Giany.


"Perutnya sakit, Mas."


"Loh ... Tapi tadi tidak pernah sakit, kan?"


"Mules sih sedikit-sedikit dari pagi."


"Sakitnya seperti apa?"


"Tadi pagi cuma sakit biasa, Mas. Timbul terus hilang lagi. Tapi tidak begitu sakit seperti sekarang."

__ADS_1


Kening Giany berkerut menahan rasa sakit yang semakin menjalar. Kali ini sakitnya sedikit lebih lama dan teratur. Ia menyandarkan kepala di bahu Allan.


"Itu mulai kontraksi, Sayang. Kenapa kamu tidak bilang?"


"Aku pikir cuma sakit perut biasa."


"Tidak apa-apa, jangan panik. Sini aku elus perutnya dulu." Ia kembali mengusap-usap perut Giany.


Dari tempatnya duduk, Ayra menatap Giany yang sedang meringis. Allan beberapa kali mengusap perutnya.


"Mas, itu Giany kenapa ya? Apa dia sakit?" tanya Ayra.


"Coba kita lihat ke sana."


Mereka kemudian menghampiri Giany yang masih duduk bersama Allan. "Kamu kenapa, Giany?" tanya Ayra khawatir.


"Ini, Mbak. Perutnya sakit."


Mendengar jawaban Giany, Maysha pun langsung memeluk bundanya ketika menyadari bundanya sedang kesakitan.


"Bunda kenapa, Ayah?"


"Bundanya mules, Nak. Dedenya Maysha mau keluar." Allan tersenyum seraya mengusap rambut Maysha. "Ayah mau bawa bunda ke rumah sakit, Maysha mau ikut?"


"Mau, ayah."


"Jangan ah, kan ada Papa Freddie Merkurius yang jagain Maysha." Sambil melirik Freddie dengan ekor matanya, tatapan yang seolah menegaskan bahwa Maysha adalah putrinya.


"Maysha mau ikut, ayah. Mau lihat Dede bayi."


"Hmm boleh tidak ya ..."


Alis Freddie berkerut, menatap Allan yang begitu santai menghadapi Giany. Tak ada raut ketegangan di wajahnya, padahal Giany sudah tampak kesakitan. Ia bahkan masih sempat bercanda dan tertawa bersama Maysha.

__ADS_1


****


__ADS_2