
Pesta berlangsung meriah dengan serangkaian acara menarik yang disuguhkan. Kini tamu pria dan wanita sedang berada di tempat yang berbeda, karena beberapa menit lagi pesta super mewah itu akan ditutup dengan sebuah pesta dansa yang romantis.
Sambil menunggu, Allan menuju sebuah meja yang mana tersaji berbagai jenis minuman.
Deheman serak yang berada dari sosok pria di samping membuatnya menoleh. Wajahnya yang tadi tampak biasa-biasa saja berubah dingin saat menyadari siapa yang tengah menghampirinya.
"Jangan kamu pikir bisa merebut Giany dari saya? Saya bisa saja membongkar kebusukan kamu di sini," ucap Desta dengan percaya diri yang tinggi.
Allan terkekeh, seakan ingin mengejek Desta dengan tawa kecilnya. "Jadi kamu menemui saya hanya untuk mengatakan itu?"
Desta yang geram membalas dengan sorot mata tajam menatap Allan. "Lebih tepatnya memberi peringatan. Kamu pasti akan malu, kalau Pak Rey tahu seperti apa kelakuan kamu. Saya bisa saja membuat kamu dipecat."
"Dipecat? Yakin?"
"Saya punya hubungan yang cukup baik dengan Pak Rey. Jadi kamu terlalu percaya diri."
"Terserah! Lakukan sesukamu!" Allan akan meninggalkan Desta, tetapi baru tiga langkah, ia sudah kembali lagi. "Oh, ya ... Peringatan saya tempo hari masih berlaku. Jangan coba datang ke persidangan apalagi meminta mediasi. Ingat kartu as-mu masih ada digenggaman saya. Dan soal Pak Rey, silakan kamu beritahu dia, kalau saya merebut istri kamu." Setelahnya, Allan menepuk bahu Desta sebelum pergi meninggalkannya.
Desta hanya diam, menatap dengan penuh kebencian. Seolah telah kehabisan cara untuk menghadapi lelaki yang ia sebut pebinor itu.
Sementara Allan kembali ke perkumpulan teman-temannya. Ia melirik ke sudut lain di ruangan itu. Tempat para wanita berkumpul. Pandangannya menyapu sekeliling, tetapi tak menemukan Giany di sana.
"Giany kemana? Kenapa tidak ada?"
Melihat Allan tampak gelisah, Dokter Willy menghampirinya. "Ada apa?"
"Giany kemana ya? Kenapa tidak ada di sana?"
__ADS_1
"Mungkin ke toilet. Tunggu saja. Paling sebentar lagi kembali."
_
_
Giany menatap pantulan dirinya di balik sebuah cermin. Diam-diam ia meninggalkan kerumunan para wanita dan pergi ke toilet seorang diri, demi menghindari pesta dansa. Baginya tidak akan pantas jika berdansa dengan pria lain, sementara dirinya masih berstatus istri orang.
Tadi ia juga sempat bertemu dengan Aluna di sana, yang membuatnya semakin merasa tidak nyaman.
Setelah menghabiskan beberapa menit di toilet, ia beranjak keluar. Namun, langkahnya kemudian terhenti. Sepasang matanya mendadak basah oleh cairan bening. Ketakutan pun menjalar, membuat seluruh tubuhnya terasa meremang.
"Ma-Mas Desta ..." Ia mundur beberapa langkah, ketika Desta semakin dekat dengannya.
"Giany ... Sayang ..."
"Lepaskan aku, Mas!" Giany berusaha mendorong Desta, tetapi laki-laki itu semakin mengeratkan pelukan. Desta bahkan tidak peduli walaupun merasakan tubuh Giany yang gemetar.
"Maafkan aku, Giany! Aku tahu, kamu tidak mau pulang karena dipengaruhi dokter itu, kan?"
Giany semakin ketakutan. Bayang-bayang penyiksaan Desta selama berbulan-bulan bermunculan di benaknya. Menjauh dari kehidupan Desta tak cukup mampu menghilangkan traumanya. Hanya dalam beberapa detik saja sudah terdengar suara isak tangis.
"Tolong lepaskan aku," lirihnya, tetapi Desta tidak peduli.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu istriku dan akan selamanya seperti itu. Aku tidak akan pernah mau kita bercerai!"
Kedua tangan Giany mendorong dada Desta dengan sekuat tenaga, sehingga laki-laki itu mundur beberapa langkah. Lalu dengan cepat berusaha melarikan diri dari sana, tetapi pergerakan Desta cukup cepat. Ia berhasil menghentikan Giany dengan menarik pakaiannya hingga sobek.
__ADS_1
"Dengar aku, kita akan mulai semuanya dari awal!" Mencengkram kuat kedua lengan Giany, membuat wanita itu meringis kesakitan. "Sekarang ayo kita pulang ke rumah!"
Tidak ingin Desta membawanya kembali ke rumah, Giany pun memberontak.
_
Allan melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Acara dansa sudah dimulai, tetapi Giany belum terlihat juga.
"Apa aku susul saja ya?" Pandangan Allan kembali menyapu seluruh seisi ruangan. Ia juga tidak mendapati Desta di meja tempatnya duduk tadi. Hanya ada Aluna yang duduk bersama seorang temannya di sana.
"Apa jangan-jangan ..." Secepat kilat, Allan berlari menuju toilet wanita. Ia khawatir Desta akan mengganggu Giany.
Setibanya di depan depan toilet khusus wanita, Allan mendapati pintu terkunci dari dalam. Ia kemudian mengetuk, namun tidak ada jawaban dari sana. Yakin ada yang tidak beres, ia akhirnya memilih mendobrak pintu kokoh itu.
Dua percobaan gagal, karena pintu yang terbuat dari kayu bayam itu terkunci rapat. Dengan penuh emosi, Allan menendang pintu sekuat tenaga, membuat engsel pintu terlepas, hingga pintu terkuak. Dengan satu tendangan lagi sudah berhasil merobohkan pintu kayu itu.
Mata Allan nyalang menatap Desta yang sedang memeluk Giany, meskipun Giany berusaha melepaskan diri. Kemarahan semakin memuncak kala mendapati pakaian milik Giany yang sudah sobek di beberapa bagian, termasuk bagian dada yang sedikit terbuka, juga rambutnya yang tadi begitu indah kini sangat berantakan.
"Bajingaan!" teriak Allan penuh emosi. Ia berlari, menarik punggung Desta dan menjatuhkan kepalan tinjunya tanpa ampun ke wajah laki-laki itu.
Desta yang terkejut dengan kedatangan Allan berusaha melawan, tetapi lagi-lagi perlawanannya sia-sia. Satu kepalan tinju yang Allan benamkan di perut berhasil membuat Desta tersungkur ke lantai dan sepertinya tak sanggup untuk bangkit lagi.
Allan menarik napas beberapa kali untuk mengurai kemarahan yang sedang menguasai pikirannya. Jika tidak, ia bisa saja membunuh Desta saat itu juga. Tetapi kesadarannya segera kembali saat mendengar isak tangis Giany.
Allan mendekati Giany yang sedang menangis di sudut ruangan itu, lalu melepas tuxedo miliknya dan menutupi bagian tubuh Giany yang terbuka karena ulah Desta.
"Maaf, ini semua salahku," ucapnya penuh sesal. Ia membantu Giany berdiri, lalu membawanya keluar dari sana tanpa peduli apapun lagi.
__ADS_1
🌻🌻