Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 51


__ADS_3

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan ibu kota. Dengan diantar Amir, Bu Dini menjemput Maysha dan Giany ke sekolah. Ia juga akan mampir ke pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan dapur yang sudah mulai menipis.


Maysha merengek dengan manja, mengadukan semua yang terjadi di sekolah. Termasuk kedatangan Ayra secara tiba-tiba. Dan walaupun pengucapan Maysha masih terputus-putus dan tidak jelas, tetapi sang oma mampu mengerti dengan baik. Mendengar pengaduan dari cucu kesayangannya, wanita paruh baya itu terlihat kurang senang.


"Ayra tidak membuat masalah kan di sekolah?" tanyanya.


Giany menggeleng. "Tidak, Bu. Hanya saja Maysha masih menolak keberadaan Bu Ayra."


Bu Dini berdecak kesal. Ia terlihat sangat tidak menyukai usaha Ayra untuk kembali ke tengah keluarga mereka. "Lagi pula mau apa dia mendekati Allan dan Maysha lagi setelah semua yang dia lakukan. Allan dan Maysha sudah bahagia."


"Tapi Bu Ayra kan tetap ibu kandungnya Maysha, Bu."


"Memang benar sih. Tapi kalau mengingat kehancuran yang dia timbulkan, ibu tidak rela kalau dia kembali. Semoga saja Allan cepat menikah lagi. Jadi Ayra tidak akan mengusik kehidupan mereka lagi."


"Menikah lagi?" Tatapan Giany reflek berpindah dari piring di hadapannya kepada Bu Dini.


"Iya. Ibu benar-benar berharap Allan secepatnya menikah. Biar Maysha punya ibu baru."


Giany membungkam seketika. Hanya tangannya yang bergerak mengusap rambut Maysha.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Lama tidak berjalan-jalan keluar membuat Maysha begitu senang. Ia berlarian ke sana ke mari. Sementara Giany menemani Bu Dini membeli beberapa bahan dapur sambil sesekali mengawasi Maysha agar tidak bermain terlalu jauh.


"Kakak!" Maysha datang dan menarik pergelangan tangan Giany.


"Kenapa, Sayang?"


"Ayo ..."

__ADS_1


Giany berhenti sejenak. Ia meletakkan beberapa benda ke dalam keranjang, lalu mengikuti kemana Maysha berjalan. Gadis kecil itu dengan cepat melangkah keluar dari supermarket.


"Maysha mau ke mana?"


Maysha menatap ke sana-ke mari seperti mencari sesuatu.


"Itu ka-kak ... A-da ayah ..." Ia menunjuk ke arah sebuah kafe yang tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.


Kening Giany mengerut, pandangannya mengikuti ke mana arah yang ditunjuk Maysha. Sepasang bola matanya pun memicing saat melihat di depan sana ada Allan yang baru saja keluar dari sebuah kafe bersama seorang wanita cantik.


Itu kan Dokter Allan. Dia bersama siapa? Apa wanita itu yang namanya Babylicious?


"Ka-kak ... Mau ke ayah ..."


Giany menatap Maysha dan mengusap rambutnya. Ingin ke sana, namun takut mengganggu dan Allan mungkin akan marah.


"Mau ke ayah, Kakak ... Ayo!" Maysha terus merengek sambil menarik Giany.


Wanita itu kemudian melirik ke luar sana, pandangannya menyapu sekeliling. Tetapi baik Allan maupun wanita tadi sudah tidak terlihat lagi. "Ayahnya tidak kelihatan lagi, Sayang. Mungkin sudah pergi. Kita ke Oma saja ya?" bujuknya dengan lembut.


Maysha pun mengangguk dengan bibir mengerucut, membuat Giany gemas dan memberi kecupan di pipi gadis kecil nan cantik itu. "


🌻


Saat ini mereka tengah berada di sebuah kafe yang bersebelahan dengan tempat bermain anak-anak. Maysha sedang bermain perosotan dengan beberapa anak lain, sementara Giany dan Bu Dini mengawasi dari sana.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Bu Dini begitu mendapati Giany hanya memainkan makanan dengan garpu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Masih kenyang." Ia menarik napas dalam. Bayang-bayang kebersamaan Allan dengan seorang wanita terus membekas di ingatannya.


Apa wanita tadi itu yang namanya Babylicious ya? Tapi kenapa Maysha seperti kurang senang? Bukannya ibu bilang Maysha juga suka sama Babylicious-nya Dokter Allan?


"Tapi kamu kan belum makan apa-apa, Giany ...?"


"Lagi kurang selera saja, Bu."


"Mau ibu pesankan menu yang lain?"


Giany menggeleng sambil tersenyum. "Tidak usah, Bu." Ia berusaha mengalihkan perhatiannya, tetapi tidak bisa.


"Bu ... Saya mau ke toilet sebentar ya ..."


"Iya."


Giany bangkit, lalu segera menuju toilet. Ia membasuh wajahnya dengan air untuk mengurai rasa aneh yang sejak tadi sangat mengganggunya. Sebuah rasa yang ia tidak tahu asalnya dari mana, dan mengapa bisa hadir begitu saja.


Sadar Giany ... Tidak usah pikir macam-macam!


Selama beberapa menit, Giany berdiam diri di dalam toilet. Ia membasuh wajahnya hingga beberapa kali. Sampai pada titik di mana dirinya merasa lebih baik, barulah ia keluar.


Saat hampir tiba di tempat tadi, terlihat beberapa orang berkerumun di tempat bermain anak. Bu Dini juga tidak berada di tempatnya duduk tadi. Giany membeku, sepasang bola matanya digenangi cairan bening.


"Ma-Maysha ..."


🌻

__ADS_1


__ADS_2