Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
Makanya Jangan di belakang, tapi di samping!


__ADS_3

Giany dan Allan baru saja keluar dari Gudang bersih setelah terjadi kegagalan modus akibat target ternyata tidak takut dengan kegelapan. Raut wajah Allan terlihat kecewa, tetapi ia tetap memasang wajah sok keren seperti biasanya.


“Kalau Maysha juga tidak ada di gudang bersih, jadi dia sembunyi di mana? Saya takut ada apa-apa.”


Allan belum menjawab, ia berjalan dengan malas menuju ruang tengah. Sedangkan Giany berjalan tepat di belakangnya, menatap punggung kokoh itu tanpa suara. Tiba-tiba Allan menghentikan langkahnya, membuat tubuh dan wajah Giany menabrak di punggung Allan. Ia mundur selangkah, hampir saja terjungkal ke belakang, namun Allan menahan pinggangnya.


“Kamu sengaja nabrak saya, ya?” tanya Allan dengan raut curiga. Padahal dirinya lah yang sengaja berhenti agar Giany menabraknya.


Loh, kan dokter sendiri yang langsung berhenti. Batin Giany.


“Ma-maf, Dokter. Saya tidak sengaja,” jawab Giany pasrah sambil mengusap ujung hidungnya yang baru saja terbenam sempurna di punggung Allan.


“Makanya, kalau jalan jangan di belakang, tapi di samping saya.”


Allan berbalik, menyembunyikan seringainya setelah mengucapkan kalimat gombalan itu. Giany yang kurang mengerti bahasa kode hanya mematung, menatap punggung Allan yang sudah menjauh. Pikirannya masih susah payah menangkap maksud laki-laki itu.


Tersadar dari lamunan, ia segera menyusul Allan. Mengikuti langkah kakinya.


“Saya mau cari Maysha di atas lagi. Mau ikut?” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya bernada perintah.


“Iya. Saya mau ikut cari Maysha.”


Allan perlahan menjejaki anak tangga, satu persatu hingga tiba di lantai atas. Giany mengedarkan pandangannya di ruangan itu. Di lantai atas ada dua buah kamar. Salah satunya kamar Allan, dan satu lagi kamar bekas Maysha.


Giany mengikuti Allan masuk ke dalam kamar. Ini adalah pertama kalinya ia memasuki kamar itu. Bau laki-laki pun menyeruak, memanjakan penciumannya saat pertama kali menginjakkan kaki di sana. Kamar Allan terbilang sangat bersih untuk ukuran laki-laki yang tidak memiliki istri, sebab semua tertata rapi dan menarik.


“Sepertinya Maysha memang tidak ada di sini,” ucap Allan saat tidak mendapati tanda-tanda keberadaan putrinya.


“Mungkin di kamar sebelah.”


“Tidak. Maysha tidak pernah lagi masuk ke kamar sebelah sejak kejadian malam itu. Dia menjadi takut setelahnya, makanya saya pindahkan kamarnya ke bawah.”


Giany mengangguk. Ia ikut prihatin mengingat trauma yang dialami oleh Maysha.


Hingga ekor matanya menangkap sesuatu bergerak-gerak di dalam sebuah rak besar tanpa pintu yang terisi oleh beberapa boneka milik Maysha. Giany segera menoleh untuk memastikan apa yang dilihatnya.


Seulas senyum pun terbit di wajahnya kala menyadari Maysha sedang tertidur di dalam sana. Betapa menggemaskannya bocah berusia lima tahunan itu. Tubuhnya mungilnya tertutupi oleh sebuah boneka panda berukuran besar yang ia jadikan tempat untuk bersandar.

__ADS_1


“Maysha, Sayang … Pantas susah ketemu. Dia tidur di sini.” Giany mengusap lembut rambut hitam Maysha. "Dokter, Maysha nya di sini."


Allan tersenyum. Kelembutan Giany terhadap putrinya, membuat Allan begitu terpukau menatapnya. Semakin besarlah cinta yang ia rasakan kepada wanita yang masih berstatus istri orang itu. Tetapi walau begitu, Allan sama sekali tak peduli. Ia akan melakukan apapun demi mendapatkan Giany.


Allan berjongkok di sisi wanita pujaannya itu, sesekali mencuri pandang. Kapan lagi bisa berada dalam posisi sedekat ini dengan Giany.


“Saya bawa Maysha ke kamar bawah, ya …” ucap Giany.


“Tidak usah, Giany. Biar tidur di sini saja untuk malam ini. Kamu ... tidak apa-apa tidur sendiri, kan?”


“Oh, iya ... Tidak apa-apa, Dokter.” Ia mundur perlahan, agar Allan dapat mengeluarkan tubuh Maysha dari rak itu, lalu merapikan tempat tidur dan membenarkan bantal sehingga Allan dapat membaringkan putrinya di sana. Sementara Giany menarik selimut menutupi tubuh Maysha, membuat gadis kecil itu melenguh, kemudian memeluk lengan Giany erat, seolah tidak rela ditinggal.


Alhasil, Giany terpaksa duduk di bibir tempat tidur empuk itu.


Aduh, bagaimana ini? Batin Giany.


"Kenapa?" tanya Allan.


"Ini, Dokter ... Maysha tidak mau melepas tangannya."


"Oh, dia memang sering begitu. Kamu temani saja di sini."


"Maksud saya, kamu temani dulu Maysha di sini sampai tidurnya nyenyak. Nanti juga dilepas tangan kamu, kok."


"Ah, iya ... Baik."


Untuk sementara kamu temani Maysha dulu. Nanti giliran saya yang kamu temani di sini, kalau sudah resmi menjadi ibunya Maysha. jerit Allan dalam batin.


🌻


🌻


🌻


Akhir pekan adalah hari yang dinanti Allan sejak Giany tinggal di rumahnya. Sebab seharian ia bisa menghabiskan waktu di rumah dan memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga. Terutama dengan Giany, alasan yang membuat harinya begitu berwarna.


Allan yang sedang berolahraga pagi di taman belakang. Kebiasaannya di akhir pekan yang tidak pernah berubah sejak dulu.

__ADS_1


"Selamat pagi semua." Sapaan penuh semangat terdengar. Allan yang baru selesai berolahraga pagi menarik kursi dan duduk di meja makan, bergabung dengan yang lain.


Bu Dini menatap heran putra semata wayangnya yang tampak begitu ceria pagi itu. "Kamu hari ini ada rencana keluar rumah, Allan?" tanya Bu Dini.


"Tidak ada. Mau di rumah saja. Kenapa, Bu?"


"Tidak, cuma tanya."


Giany menuangkan teh manis ke dalam cangkir dan menggeser ke hadapan Allan. "Dokter mau sarapan apa?"


Allan melirik menu di meja dengan antusias, untuk pertama kalinya, Giany menunjukkan bentuk perhatian tanpa harus adanya modus dari Allan.


"Roti tawar saja. Kasih selai nanas boleh."


Giany dengan cekatan mengoles selai nanas ke permukaan roti tawar dan meletakkan di piring. Sepertinya ini akan menjadi moment bersejarah dalam kisah percintaan Allan yang rumit. Sedikit perhatian dari Giany saja bisa menjadi sumber semangatnya.


"Terima kasih, Giany!"


Akhirnya diperhatikan juga. Selamat Allan. batin Allan bersorak.


Laki-laki itu menyantap menu sarapan istimewanya dengan lahap, seolah roti tawar berselai nanas buatan Giany adalah menu makanan terlezat di dunia. Allan bahkan meminta tambah lagi dan lagi.


Hingga gangguan tak terduga kembali hadir ...


"Selamat pagi, Bos!" ucap Amir yang baru saja tiba.


"Pagi, Amir ... Ayo, ikut sarapan!" ucap Allan.


"Saya sudah di rumah, Bos. Terima kasih," jawabnya sambil tersenyum. "Ini Bos, mau tanya ..."


"Apaan?" balas Allan dengan mulut penuh roti.


"Aliran listrik ke ruangan belakang yang semalam Bos minta diputus, mau dihidupkan, apa biar mati dulu?"


Giany menatap curiga, terlihat dari alisnya yang mengerut. Begitu pun dengan Bu Dini yang juga terlihat heran.


"Memang kenapa kamu minta Amir matiin listrik di ruang belakang?" tanya Bu Dini membuat Allan menarik napas dalam.

__ADS_1


Apes seapes-apesnya!


🌻


__ADS_2