
Desta mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Ini adalah kesekian kalinya laki-laki itu mendapatkan hadiah bogem mentah dari Allan. Tetapi entah mengapa dirinya tak kunjung jera, seolah kepalan tinju keras milik Allan adalah candunya. Beberapa pengunjung lain pun tampak menatap heran kepada mereka.
"Kamu ini amnesia apa bodoh? Ingat perjanjian yang sudah kamu tanda tangani di atas materai. Jangan sampai saya kirim kamu kembali ke hotel prodeo. Kamu bisa bebas karena Giany kasihan sama orang tuamu!"
Desta terdiam. Ia tahu dan ingat dengan semua ancaman Allan, tetapi melihat Giany bersama laki-laki lain membuatnya tidak tahan, sehingga lupa diri.
"Sekali lagi kamu mengusik istri saya, kamu pasti akan lama mendekam di sel tahanan! Ingat itu baik-baik!" ancamnya.
Allan kemudian membawa Giany pergi dari sana tanpa mempedulikan tatapan semua orang yang mengarah kepada mereka. Meninggalkan Desta yang masih membeku.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, wanita itu banyak diam dan melamun.
Tangan Allan mengulur membelai puncak kepalanya. "Sayang ... Sudah jangan dipikirkan. Sekali lagi dia ganggu kamu, akan aku kirim dia ke sel tahanan."
Giany tak menyahut, walaupun semua ketakutan yang ia rasakan tadi perlahan berkurang.
_
Maysha dan Bu Dini sedang berada di ruang keluarga ketika Allan dan Giany tiba di rumah. Melihat wajah sedih Giany, Bu Dini pun sudah menduga bahwa sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Ia mendadak khawatir, pikirannya sudah mulai menjelajah, mengira tetangga julid lagi-lagi menjahati Giany.
"Ada apa ini? Kenapa Giany sedih? Tetangga mana lagi yang julid?"
"Bukan tetangga, Bu. Tadi habis belanja ke mall dan ketemu si Desta. Dia buat ulah lagi."
"Dia lagi?" Bu Dini menghela napas kasar. Kesal dan marah menyatu. "Kenapa sih dia itu tidak ada jeranya. Allan, kamu harus bertindak supaya dia tidak ganggu Giany lagi."
"Sabar, Bu. Nanti aku urus dia. Yang penting Giany tenang dulu."
Allan meletakkan semua paper bag belanjaan Giany, lalu mendudukkan wanita itu di sofa. Allan pun berusaha menenangkannya. Ia tahu menghilangkan trauma memang sulit, sama seperti trauma yang dialami oleh Maysha.
"Kamu tenang ya ... Aku janji akan cari solusi untuk masalah ini. Kamu mau istirahat di kamar saja?" tawarnya.
Giany hanya mengangguk.
Baru saja Allan akan membawanya ke kamar atas, Amir sudah datang dengan raut muka menyebalkan seperti biasa.
__ADS_1
Allan pun melotot, sebab baginya Amir layaknya burung gagak yang datang membawa pesan buruk. Laki-laki itu baru akan bicara, namun Allan sudah menyela lebih dulu.
"Tidak usah lapor-lapor! Saya tidak tertarik dengan laporan kamu!"
"Tapi, Bos."
"Tidak ada tapi-tapian! Kenapa sih, kamu itu seperti jalangkung. Datang tidak diundang, pulang harus diusir?" ucapnya kesal.
Dengan polosnya, Amir hanya terkekeh tanpa rasa takut. "Jalangkung mintanya diantar, Bos, bukan diusir."
"Malah ngejawab lagi."
"Hehe saya mau lapor, di depan ada Pak Beni."
Allan mengerutkan alis memikirkan nama yang disebut Amir barusan. "Mau apa si Beni kemari? Suruh pulang saja! Saya sibuk!"
"Katanya mau ketemu Bos, penting!"
Allan berdecak, ia melirik Amir dengan kekesalan yang memuncak. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum getir. "Kamu sama si Beni itu sama. Paling senang ganggu kenikmatan orang!"
"Loh Bos, kan saya hanya menjalankan tugas dari Bos."
"Yang penting ganteng, Bos!"
Allan memutar bola matanya. Ingin rasanya mencekik leher Amir, tetapi tidak tega. "Ya sudah, mana si Beni?"
"Di depan, Bos."
"Ya kamu suruh masuk, Mir! Tidak usah pakai lapor-lapor segala."
"Oh, maaf Bos. Soalnya Bos bilang, siapapun yang mau masuk ke rumah, harus lapor dulu."
Allan menatap tajam Amir bagai harimau yang siap menerkam seekor kelinci. Tetapi kelinci jenis yang satu ini tidak pernah berhasil diterkam oleh sang harimau. Entah kelincinya yang pandai, atau harimaunya yang bodoh. Silakan anda pikir masing-masing.
"Kamu benar-benar senang nguji kesabaran saya, ya?"
__ADS_1
"Loh, apa salah saya, Bos? Dijulidin melulu perasaan." Masih berani membela diri.
"Salah kamu banyak! Kamu sering bikin imun dan iman saya turun. Sekarang, kamu keluar, dan suruh Beni menunggu di ruangan. Saya mau bawa Giany ke atas dulu."
"Baik, Bos!"
🌻
🌻
🌻
"Kamu ada urusan apa kemari, Ben? Tidak biasanya kamu ada agenda mengganggu aku?" tanya Allan dengan ketus kepada seorang laki-laki bernama Beni.
Saat ini mereka tengah berada di sebuah ruangan pribadi. Beni menggeser beberapa map ke hadapan Allan.
"Ini data produk baru May-Day yang siap diluncurkan awal minggu depan. Aku rasa sebagai pemilik perusahaan, kamu perlu datang ke acara penting itu."
Allan meraih map dan membaca dengan teliti, kemudian meletakkan lagi ke hadapan Beni. "Buat apa coba aku datang, kan sudah ada kamu sebagai pimpinan tertinggi May-Day!"
"Loh, aku kan harus berangkat ke Selandia Baru untuk mengurus anak perusahaan. Lagi pula kan kamu sendiri yang suruh aku berangkat ke sana untuk menandatangi kerja sama dengan supplier susu untuk produk May-Day. Lupa ya, Bos?"
Allan menghela napas panjang. Mengurus sebuah perusahaan sebenarnya bukanlah sesuatu yang disukai olehnya. Ia bahkan lebih senang bekerja di rumah sakit sebagai seorang dokter dari pada menjadi pemimpin di sebuah perusahaan.
"Kamu cari orang lain saja yang bisa mewakili lah!"
"Akan lebih baik kalau kamu sendiri yang hadir. Lagi pula kamu perlu kenal dengan beberapa calon manager baru di perusahaanmu."
Allan lagi-lagi berdecak. Ia terlihat tidak tertarik dengan urusan perusahaan yang ia bangun beberapa tahun lalu itu. Cukuplah mempekerjakan banyak tenaga ahli di bidangnya masing-masing. Perusahaan itu pun ia bangun sebagai bentuk kecintaannya terhadap dunia kesehatan, terutama bagi anak-anak. Karenanya, May-Day adalah sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis susu dan makanan sehat bagi anak-anak.
"Ya sudah kalau kamu memaksa. Tapi aku hanya perlu datang ke acara peluncuran itu saja kan?"
"Masuk kantor menggantikan aku selama seminggu," ucap Beni menekan, membuat Allan menarik napas dalam. "Oh, ya ... Jangan lupa, hadirkan ikon May-Day. Orang-orang hanya tahu ikon May-Day itu hanya sketsa wajah anak perempuan, tapi sosok aslinya masih jadi misteri sampai sekarang."
"Kamu sudah gila, Ben? Aku tidak mau orang-orang tahu tentang Maysha."
__ADS_1
🌻
🌻