
“Desta!”
Suara panggilan Aluna menghentikan kaki Desta yang berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari gedung kantor. Gadis cantik itu tampak tersenyum tipis sambil melangkah mendekat ke arah Desta.
“Ada apa, Lun?”
“Kamu … Mau datang ke ulang tahun Darmawan Group malam ini, tidak?”
“Iya, kenapa?”
Aluna menunduk, ia tampak ragu untuk mengutarakan apa yang kini ada di benaknya. Sejak beberapa waktu belakangan, Desta terkesan mengabaikan dirinya. Hal yang membuatnya cukup bingung, sebab sebelumnya Desta terus mengejarnya. “Em … Kamu perginya sama siapa?”
“Sendiri,” jawab Desta datar.
“Aku juga dapat undangan, tapi tidak punya teman. Bagaimana kalau kita berangkat bareng?”
Desta tampak berpikir beberapa saat sebelum menjawab, “Boleh.”
Ucapan Desta pun membuat senyuman terbit di wajah Aluna. “Tapi kamu jemput aku, ya …”
Laki-laki berparas tampan itu menarik napas dalam, kemudian menganggukkan kepala dengan malas. “Ya sudah, aku jemput nanti malam jam tujuh.”
Aluna mengangguk antusias, meskipun masih ada kecanggungan di antara keduanya. “Aku tunggu ya.”
Desta kembali mengangguk. “Iya … kalau begitu aku jalan dulu. Masih ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”
Tanpa menunggu jawaban Aluna, Desta berlalu begitu saja. Aluna diam membisu menatap punggung Desta yang telah menjauh. Masuk ke dalam mobil dan melajukannya tanpa menoleh lagi.
Teringat ucapan Rendy beberapa waktu lalu yang memberitahu bahwa Giany telah meninggalkan rumah Desta dan menggugat cerai. Aluna memang tidak ingin menjadi orang ke tiga. Tetapi, setelah mendengar kondisi rumah tangga Desta, entah mengapa ada dorongan dari dalam hatinya untuk merajut kembali hubungan yang sempat kandas dengan mantan kekasihnya itu. Namun, kini Desta seakan menjauhi dirinya.
"Kenapa sekarang Desta menjauh dari aku setelah digugat cerai Giany? Ada apa dengan Desta?"
__ADS_1
🌻
🌻
🌻
Hampir satu jam Allan menatap pantulan dirinya di depan cermin untuk memastikan penampilannya cukup keren. Setelan tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu benar-benar menyempurnakan ketampanannya.
“Aku harus tampil keren malam ini, biar Giany kelpek-kelpek,” gumamnya sambil menyisir rambut.
“Klepek-klepek, bukan kelpek-kelpek!” sambar Bu Dini yang tiba-tiba berdiri di belakang punggung Allan.
Allan mengernyit, “Tidak apa, Bu. Hanya beda pengucapan sedikit. Artinya kan sama saja.”
Bu Dini mengusap bahu putra semata wayangnya itu. Ia dapat melihat gurat kebahagiaan yang memancar di wajah Allan. Belum pernah sebelumnya Allan seperti sekarang. Tidak lagi kaku dan datar.
“Kamu kayak ABG yang sedang jatuh cinta,” ucapnya membuat Allan menunduk malu.
"Ibu bisa saja. Eh, Giany bagaimana, Bu? Sudah siap, belum?"
_
_
Sementara di sebuah ruangan, Giany tengah bersiap-siap dengan dibantu seorang make up artist. Ia boleh merasa terjebak, sebab Bu Dini yang sebelumnya begitu bersemangat berangkat malah batal dengan alasan pusing, begitu pun dengan Maysha yang mendadak tidak mau ikut. Sehingga mau tidak mau Giany menemani Allan.
"Selesai, Mbak. Cantik deh," ucap seorang wanita yang merupakan make up artist.
"Terima kasih."
Giany berdiri menatap pantulan dirinya di cermin. Seakan tidak percaya bahwa sosok yang ada di depan sana adalah dirinya, sebab belum pernah sebelumnya ia berdandan cantik dan menggunakan gaun indah.
__ADS_1
Giany berjalan keluar setelahnya. Begitu membuka pintu, tampak Allan sudah berdiri di depan sana tampak sedang merapikan penampilannya.
Allan menoleh. Ia terpaku menatap Giany yang malam itu bagai bidadari baginya.
Calon ibunya Maysha memang cantik ya ... Tidak percuma merebut istri orang. Allan, Willy benar, kamu memang seorang pendosa besar.
"Sudah siap?" tanya Allan.
Giany menjawab dengan anggukan.
"Em, Giany ... Boleh tidak, malam ini jangan panggil saya dokter."
Alis Giany mengerut, sorot matanya menatap Allan bingung. "Lalu panggil apa, Dokter?"
"Panggil mas dong. Jangan dokter."
"Ah, iya, Dokter. Em ... maksud saya, Mas!" jawabnya gelagapan.
Dan, panggilan itu saja sudah membuat Allan seakan melayang. Sepertinya yang klepek-klepek bukanlah Giany, melainkan Allan sendiri.
Bagus, Allan. Selangkah lebih maju.
Bu Dini, Bibi Misa dan Maysha yang mengintip dari balik sebuah pilar di lantai atas mengacungkan jempol ke arah Allan, membuat Allan membalas dengan menaikkan jempolnya. Tentunya, tanpa sepengetahuan Giany.
"Ya sudah berangkat yuk ..." ucap Allan diikuti anggukan oleh Giany.
Lengan Allan menyiku, bermaksud agar Giany menggandeng lengannya.
Biasanya kalau ke acara besar, setiap pasangan berjalan beriringan, saling menggandeng lengan. Ini adalah cara yang gagah bahwa seorang lelaki harus melindungi wanitanya. batin Allan harap-harap cemas.
Tetapi hal sebaliknya justru terjadi, ketika Giany dengan santai berjalan keluar lebih dulu meninggalkan Allan. Senyum yang menghiasi wajah tampannya pun memudar. Laki-laki itu hanya mematung menatap punggung Giany. Kemudian melirik ke atas sana, tampak Bu Dini, Bibi Misa dan Maysha tertawa kecil melihat usaha Allan yang selalu gagal.
__ADS_1
Sabar Allan, sabaarrr!!!! Kamu keterlaluan Giany! jerit Allan dalam batin.
*****