Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 79


__ADS_3

Siang hari di jam istirahat, Joko datang menemui Allan di rumah sakit. Ia akan memberikan laporan terbaru mengenai kasus yang menjerat Ayra yang melibatkan beberapa tetangganya. Setelah mengakui telah menyuap beberapa warga untuk menyebar fitnah terhadap Allan dan Giany, pihak kepolisian pun memanggil beberapa orang yang namanya disebut Ayra.


“Ada tiga orang yang terlibat, Bos. Namanya Pak Hery, Pak Jefri dan Pak Burhan. Mereka juga sudah mengaku menerima sejumlah uang dari Bu Ayra.”


Allan tampak terkejut mendengar dua dari tiga nama yang disebut Joko, namun setelahnya terlihat senyum penuh makna di sana. “Bukannya nama itu yang ibu-ibunya habis julid sama Giany ya?” gumam Allan. Ia kemudian menatap Joko. “Lalu bagaimana dengan mereka sekarang?”


“Saat ini mereka semua sudah berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan sebagai saksi, Bos. Soal klarifikasi di media yang bos minta, mereka juga setuju sebagai bentuk penyesalan.”


Allan menganggukkan kepalanya. "Bagus! Kalau bisa klarifikasinya hari ini juga, kalau perlu kamu bayar beberapa awak media untuk meliput. Dan satu lagi, minta istri-istri mereka untuk menemui Giany dan minta maaf secara langsung. Supaya mereka sadar, untuk tidak mengusik istri Allan Hadikusuma lagi."


"Baik, Bos."


Joko kemudian menggeser sebuah map berwarna cokelat ke hadapan sang bos. Allan dengan cepat meraih benda itu dan membukanya.


"Ini sudah siap huni kan?"


"Sudah. Bos tinggal bilang kapan mau pindah."


Allan terlihat sangat puas dengan hasil kerja Joko. Laki-laki satu itu memang selalu dapat diandalkan dalam pekerjaan apapun. Sepertinya Allan harus memberi bonus yang besar atas kerja kerasnya.

__ADS_1


"Semoga Giany suka dengan kejutan ini," ucapnya sambil menatap foto itu dengan wajah berbinar. "Terima kasih ya, Joko. Nanti saya transfer bonus ke rekening kamu."


"Baik, Bos. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu."


Laki-laki bertubuh tinggi besar itu kemudian keluar dari ruangan Allan. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan hari ini, termasuk memberi pelajaran pada tetangga yang senang mengusik kehidupan bosnya.


🌻


Berita menyebar dengan cepat. Hari itu juga di hadapan awak media dan ditayangkan langsung di beberapa stasiun TV, Ayra mengakui semua perbuatannya. Sebagai seorang model terkenal, tentunya kejadian ini sangat memalukan bagi Ayra. Hampir semua acara gosip memberitakan tentang dirinya.


Tampak pula tiga orang pria yang ia suap untuk memuluskan rencana jahatnya menjauhkan Giany dari Allan.


"Itu kan Pak Burhan, Pak Hery sama Pak Jefri." Mata Bu Dini membulat, raut wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat. "Oh, ternyata mereka yang menyebar fitnah. Pantas saja istri-istri mereka berani menghujat kamu. Suaminya sudah dibayar mahal sama si Ayra. Dasar mata duitan!"


Giany pun sama terkejutnya. Ia tidak menyangka bahwa suami dari ibu-ibu tetangga yang menghujatnya terlibat dengan Ayra.


"Rasakan mereka. Memang enak harus berurusan dengan hukum." Bu Dini bersungut-sungut memaki ibu-ibu tetangga yang membuat menantunya sedih sepanjang hari. "Rasanya ibu mau sumpal saja mulut mereka."


"Tidak usah, Bu. Yang penting mereka sudah klarifikasi." Giany berusaha meredam kemarahan mertuanya.

__ADS_1


"Tidak bisa. Pokoknya ibu mau labrak mereka, biar tahu rasa."


Baru saja Bu Dini berencana melabrak para tetangga, Bibi Misa sudah datang dari arah depan.


"Dokter, Bu ... Di depan ada Bu Burhan, Bu Jefri, sama Bu Hery."


Sontak mata Bu Dini melotot tajam. Kekesalan terlihat jelas di wajahnya. Sedangkan Allan tampak masih duduk santai di sofa bersama Giany.


"Mau apa lagi mereka kemari? Awas kalau hanya mau minta maaf dan minta tolong tuntutan untuk suaminya dicabut," gerutu Bu Dini dengan kesalnya.


"Katanya mau ketemu Bu Giany."


Mendadak wajah Giany menjadi pucat. Ia masih sangat takut untuk bertemu dengan tetangga-tetangga nya itu. Giany bahkan tidak mau keluar rumah sepanjang hari.


"Mas ..."


"Jangan takut, kan ada aku di sini. Selama ada Pak Allan, mereka tidak akan berani menghujat Bu Allan," ujarnya dengan kedipan mata sambil melingkarkan tangan dengan posesif di bahu Giany sebagai bentuk perlindungan.


"Suruh mereka masuk!" perintah Allan.

__ADS_1


🌻


__ADS_2