
“Aku capek, Mas ...” lirih Giany sambil menarik selimut dan membalut tubuhnya hingga batas leher.
“Ya sudah tidur saja, Sayang ... Nanti aku bangunkan.”
Ia menatap wajah wanita itu dengan penuh cinta, merapikan rambut yang berada di sekitar wajah dan menyelip ke belakang telinga. Satu hal yang Allan sadari, rambut panjang yang berantakan itu membuat Giany menjadi lebih wowseksi. Terlebih saat ia tertidur pulas akibat kelelahan setelah mempertanggungjawabkan perbuatannya membangunkan si Arnold.
Ya, jika Giany kehabisan tenaga setelahnya, maka berbeda dengan Allan yang menjadi sangat segar. Laki-laki itu mengecup lagi, kali ini tanpa sedotan. Tiada nikmat yang dapat ia dustakan lagi. Kehadiran Giany dalam hidupnya adalah sebuah hadiah indah yang harus dijaga.
****
Ting Tong
Suara bel berbunyi. Giany yang saat itu sedang membereskan ruang tengah segera membukakan pintu. Sontak ia terkejut melihat siapa yang ada di depan. Ia menunduk setelahnya.
Betapa tidak, tiga pasang suami istri yang merupakan tetangga sebelah rumah sedang bertamu ke rumahnya. Merekalah yang menyebabkan Giany hingga kini malu keluar rumah atau sekedar menyapa tetangga lainnya.
“Bu Burhan, Bu Hery, Bu jefri ... Ada apa ya?” tanya Giany agak ragu. Ia sedang berpikir bahwa tetangganya itu sedang membuat masalah baru.
“Maaf, Bu Giany ... Kami kemari untuk berterima kasih kepada Dokter Allan.”
__ADS_1
Berterima kasih? Memang Mas Allan habis melakukan apa untuk mereka? batin Giany.
“Silakan masuk dulu.”
Ia mempersilakan para tetangganya masuk dan duduk di ruang tamu, lalu menuju ruang TV untuk memberitahu Allan.
“Mas, ada Bu Burhan, Bu Hery dan Bu Jefri di depan.”
Allan masih duduk santai, sementara Bu Dini sudah melotot. Rupanya ia masih menyimpan rasa tak terima setelah menantu kesayangannya dihina habis-habisan oleh para tetangga. “Mau apa lagi mereka kemari?” tanya Bu Dini ketus.
“Katanya mau berterima kasih, Bu.” Ia lalu menatap suaminya. “Memang Mas habis melakukan apa?”
“Tidak ada. Mungkin mereka cuma mau say goodbye sama Bu Allan. Kan Bu Allan mau pindah ke rumah baru,” ujar Allan seraya tertawa kecil, lalu kemudian berdiri dari duduknya.
“Selamat malam, Dokter Allan, maaf mengganggu,” ucap Pak Burhan.
“Selamat malam, silakan duduk Bapak-Ibu ... Maaf rumah saya berantakan, kami sedang beres-beres?”
“Loh, Dokter Allan mau pindah ya?” tanya Pak Burhan setelah melihat tumpukan kotak barang yang berjejer.
__ADS_1
“Iya, Pak. Kami sekeluarga mau cari suasana baru.”
Allan mengeratkan tangannya yang merangkul bahu Giany setelah menyadari istrinya sejak tadi diam sambil menunduk. Ia tahu, meskipun masalah beberapa waktu lalu sudah beres, namun Giany bukanlah seseorang yang mudah melupakan trauma akibat ulah tetangganya.
“Jadi rumah ini akan dijual?” tanya Pak Jefri
“Tidak, Pak Jefri. Kedepannya rumah ini akan saya jadikan panti asuhan.”
“Oh ... Begini, Dokter ... Kami kemari untuk meminta maaf atas kesalahan kami selama ini, dan juga mau berterima kasih karena Dokter Allan sudah memberi kesempatan untuk tetap bekerja di May-Day.”
Giany yang terkejut reflek menatap orang-orang di hadapannya. Ia tidak menyangka bahwa ketiga tetangganya itu bekerja di perusahaan Allan.
****
Jangan salfok sama "merubah sedotan menjadi semburan dan merubah nasib Arnold swasanagerah menjadi Arnold Swasanaseger."
Karena sejatinya itu hanyalah pompa air.
iya pompa air woee bukan anu!!!
__ADS_1
kan kan kan dibilangin gak percaya