
Wajah orang-orang itu sontak memucat saat mendengar ucapan kepala sekolah. Malu? Tentu saja. Dan yang pasti mereka sedang dalam masalah jika sampai Allan memutuskan memindahkan Maysha ke sekolah lain dan akhirnya berhenti menjadi donatur tetap.
Mereka diam, saling memberi kode satu sama lain melalui lirikan mata.
“Bapak dan Ibu ... Saya minta maaf sebelumnya, saya meminta mediasi dari kepala sekolah supaya tidak ada salah paham." Ia menjeda ucapannya dengan helaan napas. "Anak saya, Maysha, memang sedang dalam pemulihan akibat trauma berat. Saya mendaftarkan Maysha ke sekolah biasa dan bukan ke SLB karena saya harap Maysha bisa tumbuh normal seperti anak lain. Sampai sekarang, Maysha masih rutin menjalani pengobatan. Jadi, mohon maaf kalau Maysha membuat beberapa orang tidak nyaman,” ucap Allan.
Ruangan itu seketika hening. Tiada seorang pun yang berani membuka suara. Allan menjelaskan dengan santai, tetapi layaknya sebuah pukulan telak.
“Soal ibu kandungnya Maysha yang sekarang sedang ditahan, saya mengerti ... bahwa apa yang dilakukannya beberapa waktu lalu adalah sebuah kesalahan besar dan untuk itu saya mohon maaf. Saya bersedia bertanggungjawab apabila ada pihak yang merasa dirugikan karena kejadian itu. Tapi saya mohon agar kekhilafan yang dilakukan ibunya Maysha tidak dijadikan alat untuk melakukan pembullyan terhadap anak saya.”
Salah satu dari mereka kemudian memberanikan diri membuka suara. “Maaf, Dokter. Saya benar-benar tidak tahu kalau Maysha adalah anak Dokter.”
“Sekalipun bukan anak saya, seharusnya tidak diperlakukan seperti itu, Bu ... Anak yang lahir dari keluarga kurang beruntung atau dari keluarga berada itu sama. Karena semua anak sangat berharga di mata orang tuanya, kan ...” Ucapan Allan kembali membuat mereka menunduk malu.
“Saya minta maaf, Dokter dan Bu Giany kalau ucapan saya kemarin menyinggung perasaan. Saya tidak akan mengulangi lagi.”
__ADS_1
Giany menatap wanita di depannya dengan sorot mata tak bersahabat.
“Makanya kalau mau bicara dipikir dulu. Kalau mulut tidak bisa mengucapkan yang baik-baik, usahakan biar tidak sampai mengucapkan kalimat yang bisa menyakiti hati orang,” ucap Giany masih dengan kekesalan yang sama.
Mendengar nada bicara Giany, Allan meraih jemarinya dan menggenggam sambil memberi kode agar lebih tenang. “Maafkan istri saya. Dia sangat sensitif jika berhubungan dengan anak kami.”
“Tidak apa-apa, Dokter,” sahut ibu yang satunya.
"Dokter Allan, saya sebagai pemilik yayasan minta maaf untuk yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini."
Allan mengangguk. "Tidak apa-apa. Semoga kedepannya tidak terjadi lagi."
Allan menggeleng pelan. "Tidak usah, Pak. Kalau bapak dan ibu tidak keberatan, Maysha akan tetap bersekolah di sini. Tentunya, saya berharap tidak ada lagi pembullyan terhadap anak saya, maupun anak lain."
"Baik, Dokter. Kedepannya kami akan lebih berhati-hati."
__ADS_1
Allan kemudian melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjuk ke angka sebelas. Siang ini ia ada janji dengan Freddie untuk bertemu dengan Ayra.
Setelah berbincang sebentar dan saling meminta maaf, Allan dan Giany pun meninggalkan gedung sekolah. Namun sepertinya kekesalan dalam hati Giany belum juga hilang sepenuhnya. Entah dengan alasan apa, ia bahkan sedang kesal terhadap Allan.
“Kenapa sih, Sayang ... Dari tadi diam terus,” ucap Allan sambil memperhatikan jalan di depannya.
“Aku masih kesal, Mas. Mereka itu keterlaluan tapi bisanya cuma minta maaf.”
Allan terperanjat mendengar ucapan Giany. Untuk pertama kali ia melihat sisi lain dari istrinya itu. Giany sosok wanita lemah lembut dan penyayang ternyata bisa menjadi garang saat anaknya diusik.
“Ya sabar, Sayang ... Namanya juga manusia punya khilaf.”
Giany membuang muka ke arah berlawanan dan hal itu benar-benar mengejutkan Allan. Tetapi bukannya marah, ia malah merasa sikap Giany yang seperti ini lebih menggemaskan. Kapan lagi bisa melihatnya merajuk seperti sekarang.
“Bu Allan ... Itu bibirnya, jangan begitu coba, jadi mirip ikan cup*ang yang lagi mangap-mangap di permukaan air.” Ia tertawa gemas setelahnya, membuat Giany melayangkan cubitan di pinggang.
__ADS_1
“Massss!!!”
*****