Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 143


__ADS_3

Senyum ceria selalu menghiasi wajah menggemaskan si Kecil Maysha saat menyambut kedatangan ayahnya yang baru pulang setelah seharian bekerja. Allan duduk di sofa dan meletakkan Maysha di pangkuannya. Memeluknya penuh kasih sayang dan mengucap syukur dalam hati. Kini Maysha sudah pulih sepenuhnya. Berbicara pun sudah normal layaknya anak seusianya. Ia juga tak pernah lagi mengalami tantrum.


“Maysha main apa?”


“Main rumah-rumahan. Lihat, itu tendanya baru dibeliin bunda. Bagus kan, Ayah?” Ia menunjuk sebuah mainan tenda anak yang dipesan Giany melalui online shop.


“Bagus. Kapan-kapan ayah boleh nginap di situ, kan?”


Bibir Maysha mengerucut lucu, membuat Allan tidak tahan untuk segera mengecup pipi gempilnya.


“Itu kan punya Maysha. Ayah punya kamar yang besar, masa nginap di tendanya Maysha.”


“Kan pinjam. Ayah muat kok tidur di situ.”


“Ish, tidak boleh! Ayah badannya besar, nanti tenda Maysha rusak. Itu bunda belinya jauh, tahu ... .” Maysha beranjak turun dari pangkuan sang ayah, lalu membuka penutup tenda. Ia akan tunjukkan beberapa mainan lain yang juga baru tiba tadi siang. Giany memesan banyak mainan untuknya. “Ayah, sini lihat!”


Allan pun berjongkok di sisi tenda. Sementara Maysha berdiri di sisi satunya. Ukuran tenda setinggi Allan saat berjongkok dan setinggi Maysha saat berdiri.


“Bunda beli mainan yang banyak buat Maysha. Ada alat masaknya, ada boneka barbienya.”


Allan ikut melihat isi tenda dan menunjukkan reaksi seolah sangat terpukau dan iri dengan banyaknya mainan Maysha. “Hmm ...Maysha terus yang dibeliin. Ayah tidak pernah. Mau protes sama bunda ah.”

__ADS_1


“Memang ayah mau dibeliin mainan apa? Nanti Maysha bilang bunda.”


“Hmm ... Mainan apa ya ...” Allan tampak berpikir sejenak. “Nanti ayah bilang sendiri sama bunda deh. Memang bunda mana, Sayang?”


“Bunda lagi pergi tadi diantar Pak Joko.”


“Sama oma?”


Maysha menjawab dengan gelengan kepala. “Bunda sendiri. Kalau oma lagi ke rumahnya oma Lili di sebelah.”


“Oh ...” Ia mengangguk mengerti, walaupun tampak kerutan di alisnya. Selama ini Giany tidak pernah keluar rumah tanpa meminta izinnya.


Allan lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan memeriksa pesan masuk. Namun, terakhir saling berkirim pesan adalah saat Giany mengingatkannya untuk makan siang.


“Lama, Ayah! Dari kemarin.” Walaupun menjawab dengan serius, tetapi membuat Allan tertawa. Putrinya itu belum dapat membedakan waktu antara tadi dan kemarin. Melihat angka di jam saja, Maysha belum mengerti.


“Ya sudah, Sayang. Ayah mau ke kamar dulu ya ...”


“Iya, Ayah.”


Baru saja Allan akan menuju kamarnya di ujung lantai satu, sudah terdengar suara mobil berhenti di depan. Ia lantas menuju teras dengan diikuti Maysha di belakang tubuhnya. Tampak Joko turun dari mobil seorang diri tanpa Giany.

__ADS_1


“Joko, ibu ke mana? kenapa tidak ikut pulang dengan kamu?”


“Tadi ibu habis dari makam orangtuanya, Bos. Setelah itu bertemu teman wanitanya di mall.”


“Mall mana?”


“Depok Town Square.”


Kerutan di dahi Allan terlihat semakin dalam. Mau apa Giany di kawasan Depok yang terbilang cukup jauh dari rumahnya. Butuh satu jam lebih perjalanan untuk tiba di sana. “Depok itu kan jauh itu, Jo! Trus kenapa kamu tidak tunggu saja, malah ditinggal?”


“Ibu yang suruh saya pulang duluan. Katanya nanti kalau mau dijemput juga telepon.”


Allan mengangguk meskipun masih tampak bingung. “Ya sudah, terima kasih. Biar nanti saya saja yang jemput.”


“Baik, Bos.”


Ia lalu menggendong Maysha dan masuk kembali masuk ke dalam rumah, mendudukkannya di sofa. Begitu turun, gadis kecil itu masuk ke dalam tenda dan bermain di sana. Sementara Allan mencoba menghubungi Giany, namun setelah mencoba beberapa kali tidak juga tersambung.


“Kamu kemana sih Giany? Kenapa tidak bilang dulu kalau mau pergi.” Allan memijat pangkal hidungnya dan mencoba mengingat kejadian kemarin, seraya menebak dalam benaknya bahwa Giany sedang merajuk setelah pertemuan dengan Indah kemarin.


Tidak, jangan berpikir buruk dulu, Allan. Giany wanita yang cukup dewasa dalam berpikir. Dia bukan wanita yang lebih mementingkan kecemburuannya. Apa lagi itu hanya kejadian masa lalu.

__ADS_1


🌻


Bersambung


__ADS_2