Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 148


__ADS_3

Pagi ini semua berjalan seperti biasanya. Giany bangun paling awal demi menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu, membuat sarapan di dapur. Meskipun suaminya sudah mengingatkan untuk tidak banyak beraktivitas melelahkan karena kehamilannya masih muda. Tetapi Giany tetap melakukannya dengan senang hati. 


 Selepas menghidangkan menu sarapan di meja makan, ia bergerak menuju kamar Maysha. Memandikan dan mendandaninya dengan cantik. Sebuah dress indah berwarna biru dan pita di rambut membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Ini adalah akhir pekan, sesuai janji Giany akan menemani Maysha untuk mengunjungi Ayra di panti rehabilitasi. 


“Wah cantiknya anak bunda.” Sebuah kecupan sayang ia berikan di kening, juga bagian wajah lain. Rasanya tak bosan menyesap keharuman menyejukkan yang menguar dari tubuh gadis kecil itu. “Hmmm ... wangi lagi.” 


“Bunda juga wangi,” balas Maysha dengan membenamkan bibirnya di pipi kanan sang bunda. 


“Bunda kan belum mandi, apanya yang wangi?” 


“Wangi, Bunda. Kayak baunya ayah.” Ia mengendus aroma tubuh Giany melalui pakaiannya. “Tuh kan ... kayak baunya ayah.” 


Mau tak mau Giany terkekeh mendengar perkataan polos Maysha. Tentu saja bau parfum ayahnya melekat di tubuh Giany, karena Allan tak pernah melepasnya dari pelukan saat tidur. Ya, Allan sangat suka wewangian, ia bahkan menggunakannya saat akan tidur. 


“Ya sudah, Sayang ... Maysha ke meja makan duluan ya. Bunda mau ke kamar dulu lihat ayah.” 


“Jangan lama-lama, Bunda.” 


“Iya, Sayang.” 


*** 


Allan sedang mengenakan pakaian ketika Giany masuk ke dalam kamar. Hari ini Allan terlihat cukup santai dalam balutan kemeja lengan pendek dan celana jeans. 


“Sini aku bantu, Mas.” Giany mendekatinya dan berdiri di hadapan Allan. Ia membantu mengancingkan kemejanya, sehingga Allan menatap dengan senyuman. Lega, karena setelah kejadian semalam, Giany sama sekali tak berubah. Masih sangat perhatian dan penuh kasih sayang. 

__ADS_1


“Terima kasih, Sayang,” ujarnya. “Sekarang kamu mandi ya. Tadi aku sudah siapkan air hangat di kamar mandi untuk kamu.” 


“Iya, Mas.” 


Saat Giany akan melangkah, Allan melingkarkan tangan di pinggang dan memeluknya dari belakang. Membenamkan ciuman yang dalam di punggung lehernya. Giany bergidik, ia tak pernah tahan jika Allan menyentuh area itu dengan bibirnya. 


“Jangan, Mas! Geli tahu ...” 


“Biar saja, aku suka.” Laki-laki itu membalikkan tubuh Giany dan mendekapnya erat, mengusap rambut dan punggung dengan lembut. Tiada yang lebih indah bagi Allan selain saat-saat ini. Hingga ... 


Huek! Giany tiba-tiba menutup mulut dengan telapak tangan ketika indra penciumannya menangkap sesuatu yang aneh. 


“Kenapa, Sayang? Kamu mual?” 


Allan mengendus aroma tubuhnya dan bertanya-tanya pada diri sendiri dalam hati. Mencoba menemukan apa yang aneh pada dirinya. “Biasa saja aromanya. Aku kan hanya pakai satu merk parfum dengan satu aroma saja.” 


“Tapi kenapa perasaanku beda?” tanyanya seraya mengapit hidung dengan dua jarinya agar penciumannya terhindar dari aroma menyengat itu.


“Mungkin hanya perasaan kamu saja, Sayang. Kamu sedang tidak enak badan?” 


Giany menggeleng dengan cepat. “Tidak. Aku baik-baik saja.” 


Wanita itu lalu menurunkan dua jarinya yang sejak tadi berada di hidung. Detik itu juga aroma menyengat terasa menusuk ke lubang hidung. Giany pun terpaksa merasakan lagi sensasi mual. 


“Ganti bajunya saja, Mas. Aku tidak tahan bau parfum Mas yang ini.” Ia segera masuk ke kamar mandi demi menuntaskan rasa mual di perut. 

__ADS_1


Sedangkan Allan terus mengendus aroma tubuhnya sendiri dengan bingung.


_


_


"Maysha mau sarapan apa, Sayang?"


"Mau roti aja, Bunda."


Giany meraih selembar roti tawar. "Selainya mau rasa apa?"


"Coklat. Yang banyak coklatnya, Bunda," jawab Maysha menunjuk selai coklat di hadapannya. Giany pun mengoles selai coklat ke permukaan roti tawar dan kemudian meletakkan roti di atas piring.


"Makannya pelan-pelan ya, Sayang."


"Iya."


Sementara Allan diam mematung dengan bibir mengerucut setelah menyadari sesuatu.


Pagi ini Giany enggan dekat dengannya dengan alasan aroma parfum yang menyengat. Walaupun Allan harus mandi lagi dan tak menggunakan parfum, namun Giany masih enggan duduk di sisinya dengan berbagai alasan yang tak masuk akal.


Kayaknya ini embrio mulai balas dendam nih. Julid amat sama ayahnya. gerutu Allan dalam batin.


🌻

__ADS_1


__ADS_2