Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 144


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Giany belum juga kembali. Allan sudah gelisah menunggu. Sudah beberapa kali ia melirik arah jarum jam di dinding dan entah sudah berapa kali pula mencoba menghubungi nomor sang istri. Akan tetapi tidak tersambung.


Prasangka buruk pun mulai menguasai pikirannya. Hari sudah berganti malam dan Giany di luar seorang diri di tempat yang cukup jauh dari rumah. Terlebih ia dalam keadaan hamil dan akhir-akhir ini sering merasa pusing.


"Aku harus cari Giany. Ini sudah malam," ucapnya pada diri sendiri.


Tanpa menunggu lagi, ia menyambar kunci mobil yang berada di atas meja dan segera keluar kamar. Di ruang tengah ada Bu Dini yang sedang menemani Maysha bermain.


"Mau ke mana, Allan?" tanya Bu Dini begitu melihat Allan melewati ruang tengah.


"Mau jemput Bundanya Maysha, Bu."


"Ayah, mau ikut jemput bunda!" Maysha dengan cepat berlari memeluk sang ayah.


"Jangan, Sayang. Maysha di rumah saja, ya ... Ayah cuma sebentar kok." Allan mencoba membujuk seraya mengusap puncak kepalanya.


"Ya udah, tapi cepat pulang ya, Ayah."


"Iya, Sayang."


Selepas berpamitan, ia mempercepat langkahnya keluar dan naik ke mobil. Amir segera membuka gerbang ketika melihat tuannya akan keluar.


"Amir, kalau ada kabar dari ibu, cepat hubungi saya, ya!"


"Siap, Bos!"


Ia menutup kembali kaca jendela mobil dan segera meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan Allan terus mencoba menghubungi Giany, namun tak kunjung tersambung.


Khawatir, laki-laki itu menginjak pedal gas dalam, sehingga mobil melesat di tengah keramaian lalu lintas dan menyalip beberapa kendaraan di depannya. Allan tak peduli lagi dengan umpatan para pengendara lain yang kesal dengan ulahnya.


Kurang dari satu jam, ia telah tiba di daerah yang tadi disebut Joko.

__ADS_1


"Ini kan cukup luas. Harus cari di mana, coba." Allan menghela napas frustrasi. Ia mengusap wajahnya demi mengurai rasa khawatir yang kian bertambah.


Memasuki gedung itu, ia melirik setiap toko yang dilewatinya, sambil sesekali memikirkan kemungkinan di mana istrinya berada.


"Tunggu! Bukannya Giany pernah kerja di sini ya? Tadi Joko bilang dia ketemu teman wanitanya."


Ingatannya menjelajah masa lalu. Giany pernah menceritakan masa lalunya saat bekerja di sebuah toko sepatu di pusat perbelanjaan itu. Allan pun menuju bagian informasi yang berada di dekat tangga eskalator untuk menanyakan letak toko sepatu yang pernah disebutkan Giany.


"Kalau toko sepatu itu letaknya di lantai dua, Pak. Di dekat restoran ujung," jelas pria berseragam biru navy itu. "Bapak nanti belok kiri, terus lurus saja. Nanti ketemu tokonya."


"Oh, iya. Terima kasih, Pak."


"Sama-sama," jawabnya dengan ramah.


Lekas menuju lantai dua, pandangan Allan menyapu setiap toko yang dilewatinya. Selama belum menemukan Giany, ia sama sekali belum dapat bernapas lega. Hingga menemukan sebuah toko sepatu yang diyakininya adalah tempat Giany pernah bekerja.


Kedatangan Allan berhasil mencuri perhatian beberapa orang. Apalagi saat mengaku sebagai suami Giany. Salah satu dari mereka pun mengakui baru bertemu Giany beberapa jam lalu.


"Beberapa jam lalu?"


"Iya, Mas."


"Apa Giany bilang mau ke mana?"


"Tidak bilang."


Allan menarik napas dalam. "Ya sudah, terima kasih. Saya permisi."


"Silahkan, Mas."


🌻

__ADS_1


Allan menyandarkan punggungnya di mobil. Ia melirik jam di ponsel. Sudah pukul sembilan malam, namun belum ada kabar dari Giany. Ponselnya pun belum dapat dihubungi hingga saat ini.


Memikirkan di mana keberadaan istrinya membuat napasnya terasa sesak. Demi apapun, ia akan melakukan apapun demi menemukan Giany dan membawanya pulang.


Ponsel berdering, tertera nama Amir di layar ponsel. Dengan harapan akan menerima kabar baik, ia pun menggeser simbol hijau.


"Bos, Bu Giany barusan pulang." Ucapan Amir lantas membuat segala kekhawatiran di benak Allan sirna.


"Dia baik-baik saja, kan?"


"Sepertinya ... Baik, Bos."


Allan menghela napas lega. Kemudian menutup panggilan dan menyalakan mesin mobil.


Satu jam kemudian ia tiba di rumah. Suasana sudah sepi, sepertinya Maysha dan yang lain sudah tidur. Allan menuju kamar dan membuka pintu. Giany yang tadinya duduk di tepi pembaringan langsung berdiri ketika Allan memasuki kamar.


Allan menatap Giany dari ujung kepala ke ujung kaki. Penampilan Giany terlihat sangat berbeda dan Lebih cantik dari biasanya. Tetapi senyum indah yang menghiasi wajahnya dibalas Allan dengan tatapan dingin.


"Dari mana kamu?" tanya Allan tanpa ekspresi.


Dari tatapan dingin suaminya saja sudah membuat bulu kuduk Giany terasa meremang. Selama mengenal Allan, ia belum pernah melihat tatapan dingin itu.


"Ma-Mas ... A-ku ..."


"Dari mana?!" tanya Allan sekali lagi, dan kali ini nyaris membentak hingga Giany tersentak dibuatnya.


Saat itu juga cairan bening telah menggenangi bola matanya.


"Aku tanya kamu dari mana saja?!"


Giany membeku. Bentakan itu menciptakan rasa layaknya belati tajam yang menyayat . Tanpa sadar air matanya terjatuh, walaupun masih tampak senyum di sana. Niat memberi kejutan pada sang suami tak sesuai harapannya.

__ADS_1


🌻


__ADS_2