
Setelah mendapat kabar dari Bu Dini tentang Maysha, Allan pulang satu jam lebih cepat. Ia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian saat Giany masuk ke dalam kamar.
“Mas, aku mau bicara serius,” ucap Giany.
Allan lalu membawanya untuk duduk di sofa. Ia tahu Giany sedang kesal pada ibu-ibu yang ada di sekolah tadi. “Ada apa Bu Allan? Sepertinya serius sekali ...”
Giany membuang napas kasar, lalu mengerucutkan bibir. Yang mana terlihat sangat menggemaskan bagi Allan.
“Serius, Mas. Jangan bercanda dulu.” Ia melayangkan cubitan di perut dan membuat Allan harus memohon ampun.
“Ya sudah, hal serius apa yang mau dibicarakan sama Pak Allan?” Masih berusaha bercanda, padahal Giany sudah di ambang batas kekesalan.
“Maassss!”
“Ampun, Sayang ... Beberapa waktu belakangan ini kamu kok jadi galak. Padahal Bu Allan itu orangnya ramah loh ...”
Mendadak wajah Giany sudah berubah mendatar, sehingga Allan mengusap rambutnya. “Ya sudah, sekarang serius. Kenapa sih?”
“Mas, aku mau minta Maysha pindah sekolahnya.”
Mendengar permintaan Giany, Allan lantas menatapnya. “Loh, kenapa pindah?”
“Aku tidak mau siapapun menghina Maysha seperti tadi. Mereka semua keterlaluan. Aku kesal, Mas ... mereka bilang Maysha tidak layak sekolah di sana.”
Allan membelai wajah Giany sambil tersenyum. “Sabar, Sayang ... Omongan seperti itu tidak usah dipikirkan.”
“Bagaimana aku tidak memikirkan, Mas? Ibu mana yang senang kalau anaknya jadi bahan hinaan. Aku memang bukan ibu yang melahirkan Maysha. Tapi aku tetap tidak terima perbuatan mereka.”
Allan terdiam. Ia tahu resiko apa yang akan dihadapi oleh Maysha di lingkungan sekolah setelah kasus yang menimpa Ayra. Sebagai anak, Maysha sudah pasti terkena imbas dari perbuatan orang tuanya.
“Tidak usah pindah. Besok aku akan bicara dengan pihak yayasan soal masalah ini. Lagi pula kalau kita pindahkan Maysha ke sekolah lain, belum tentu dia aman, kan ... Isu tentang Ayra sudah menyebar luas. Media banyak yang cari tahu tentang kehidupan pribadinya.”
__ADS_1
“Tapi kasihan Maysha. Dia pasti tertekan kalau sekolah di sana, Mas.”
“Aku tahu ... Aku akan cari jalan terbaik. Kamu harus sabar, Sayang. Kalau kamu balas perbuatan mereka, apa bedanya kamu sama mereka.”
"Aku tidak tahan dengar Maysha dicemooh. Makanya tadi aku langsung bawa pulang saja." Giany mengusap air matanya, kemudian meraih jerami Allan. “Mas, boleh aku minta sesuatu?”
“Apapun untuk kamu.”
Giany menarik napas dalam, ia tahu apa yang akan dimintanya mungkin akan berat untuk dikabulkan oleh Allan. “Apa Mas bisa membantu Bu Ayra untuk keluar dari tahanan?”
Allan terdiam beberapa saat.
“Bisa sih ... tapi harus ada jaminan. Selain itu Ayra harus bayar ganti rugi kebakaran di restoran.”
“Apa Mas bisa bantu? Tolong Mas, demi Maysha,” rengek Giany dengan wajah memelas.
Melihat Giany meminta sambil menangis, tentu saja Allan tidak akan tega.
“Aku usahakan ya ... Sekarang jangan sedih lagi. Soalnya kadar kecantikan Bu Allan jadi berkurang kalau lagi sedih,” ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Giany. "Soal Maysha tidak mau sekolah, nanti kita bujuk sama-sama."
🌻
🌻
Keesokan harinya, Allan menepati janji kepada Giany. Menghubungi seorang pengacara dan meminta membantu Ayra. Allan juga bersedia membayar uang jaminan, denda dan uang ganti rugi bila ada.
Sebenarnya ia tidak mau lagi berurusan dengan Ayra. Tetapi demi Giany dan Maysha lah sehingga dirinya rela melakukannya.
Ayra sedang duduk bersandar di balik jeruji besi ketika seorang anggota kepolisian datang dan membawanya menuju sebuah ruangan. Begitu masuk, tampak seorang pria yang asing baginya.
“Siapa, ya?” tanya Ayra.
__ADS_1
“Bu Ayra ... Saya Freddie Merkurius, pengacara yang ditunjuk Dokter Allan Hadikusuma untuk membantu ibu menjalani proses hukum.”
Bola mata Ayra membulat mendengar ucapan pria itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa Allan akan membantunya dan menyewa seorang pengacara. “Allan Hadikusuma?”
“Iya, Bu. Kalau Ibu setuju, maka saya akan membantu Ibu untuk bisa keluar secepatnya. Dokter Allan juga bersedia membantu membayar uang jaminan, ganti rugi atau denda bila ada.”
"Te-terima kasih, Pak ..."
Tapi, kenapa Allan tiba-tiba mau membantu? Apa ini artinya Allan sudah memaafkan aku ....
Di sisi lain, Allan dan Giany sudah tiba di sekolah. Hari ini Maysha menolak masuk akibat kejadian kemarin. Ia bahkan menangis jika diminta berangkat ke sekolah.
Memasuki ruangan pemilik yayasan, Allan dan Giany disambut dengan sangat hormat.
"Silakan duduk, Dokter Allan, Bu Giany," ucap sang pemilik yayasan.
Allan dan Giany kemudian duduk di kursi tamu. Di sana juga sudah ada kepala sekolah, guru pembimbing dan juga beberapa orang tua murid.
Mereka berkumpul atas permintaan pemilik yayasan setelah menerima pengaduan dari Allan terkait beberapa siswa dan orang tua murid yang kemarin menghina putrinya.
"Bapak-ibu ... Beliau adalah Dokter Allan Hadikusuma dan istrinya, Bu Giany Namira. Mereka adalah orang tua dari Maysha Hadikusuma."
Allan menjabat mereka dengan ramah, tak seperti Giany yang ketus. Wanita itu masih sangat sakit hati akibat penghinaan mereka terhadap anak sambungnya. Sementara ibu-ibu yang kemarin juga membalas sikap ketus Giany dengan cara yang sama.
Awas kalian semua! batin Giany.
"Bapak-ibu, kita berkumpul di sini untuk membicarakan perihal putri Dokter Allan dan Bu Giany yang kemarin mendapat perundungan dari beberapa siswa dan juga sikap tidak menyenangkan dari orang tua murid kepada Bu Giany."
Beberapa orang tua siswa itu tampak tidak terima dan menunjukkan sikap arogan. Berbeda dengan Allan yang selalu santai. Menyadari kecanggungan yang ada, sang kepala sekolah lalu melanjutkan.
"Sebelumnya perlu Bapak-ibu ketahui, bahwa Dokter Allan adalah donatur tetap yayasan ini," ucapnya membuat orang tua siswa itu menunduk malu. Tentunya pemilik yayasan akan memberi mereka teguran keras karena takut jika Allan sampai berhenti menjadi donatur.
__ADS_1
Syukurin! Sekarang kalian malu kan, setelah tahu ayahnya Maysha adalah donatur tetap sekolah ini. Astagfirullah ... Aku kenapa jadi sensian begini sih? dalam batin Giany.
🌻