
“Bunda, mau ini juga!” Maysha menunjukkan sebuah boneka barbie, membuat Giany kembali menunjukkan senyumnya. Ada rasa bahagia saat Maysha dengan manjanya meminta ini dan itu kepadanya. Apa sebahagia ini menjadi seorang ibu?
Ia teringat masa kecilnya di mana dirinya hidup dalam serba keterbatasan. Saat menemani ibunya berbelanja ke pasar, ia juga akan meminta ini dan itu. Tetapi kadang malah tidak mendapatkan apapun karena kondisi keuangan yang terbatas. Ayahnya hanya seorang pekerja buruh harian, berbeda jauh dengan Maysha yang memiliki seorang ayah yang terbilang kaya. Sehingga apapun yang ia inginkan dapat terwujud.
“Sayang ... Maysha kan sudah punya banyak boneka di rumah. Coba Maysha lihat kakak yang ada di depan.” Giany menunjuk ke arah seorang anak yang sedang duduk di depan mini market dengan pakaian lusuh. “Mungkin kakak itu juga tidak punya boneka, bagaimana kalau uang buat beli boneka kita pakai buat bantu kakak itu saja? Kakak itu pasti senang kalau Maysha mau bantu. Maysha mau kan?”
“Mau, Bunda.”
“Ya sudah, kita beli sesuatu buat kakak itu ya ...” ucap Giany membuat Maysha mengangguk.
Tak lama berselang dua orang wanita yang juga sedang berbelanja menghampiri Giany dan Maysha.
“Eh ada pengantin baru lagi belanja ya ...” ucap salah satu dari mereka.
Giany menoleh, kemudian tersenyum ramah kepada dua wanita berbadan gemuk yang merupakan tetangganya itu. “Iya, Bu. Sedang belanja beberapa keperluan.”
Tatapan dua wanita itu terarah pada troli belanjaan Giany yang isinya hampir penuh. Mereka kemudian saling melempar lirikan satu sama lain.
“Senangnya ya, Bu Giany ini. Dari yang hanya pengasuh bisa menjadi nyonya rumah.” Bibirnya tersenyum, tetapi tatapannya sangat sinis. Jangan lupakan nada bicaranya yang seolah menyindir halus. "Sekarang Bu Giany bisa belanja apapun tanpa mikirin isi dompet."
“Iya, Bu. Lagian siapa yang tidak mau sama Dokter Allan. Sudah kaya, ganteng, dokter pula. Kalau saya jadi Bu Giany, pasti saya juga rayu-rayu sampai dapat.”
"Iya, kapan lagi ada kesempatan dapat suami kaya. Menggoda sedikit kan tidak apa-apa."
Giany terdiam, beberapa tetangga memang tidak menyukainya. Terlebih setelah berita miring yang beredar tentang dirinya. Tuduhan berselingkuh, merayu pemilik rumah dan kumpul kebo. Ia bukan tidak bisa melawan, tetapi Maysha sedang ada bersamanya dan tidak ingin hal ini berimbas padanya.
Tidak ingin semakin tertekan, Giany memilih untuk pergi secepatnya dari sana. “Maaf, Bu. Saya duluan. Ayo Maysha.”
__ADS_1
Giany merangkul Maysha beranjak menuju kasir meninggalkan dua tetangganya itu. Sambil membayar belanjaan, tidak henti-hentinya ia mendengar sindiran yang menyakitkan.
🌻
Allan sedang duduk santai di ruang keluarga sambil membaca koran. Ia melirik arah jarum jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Giany dan Maysha belum juga kembali dari mini market.
Joko kemudian datang, membuat Allan mengerutkan alis. Jika Amir betugas di bagian laporan tidak penting dan cenderung menyebalkan, maka Joko bertugas untuk laporan penting.
“Mau apa kamu?” tanya Allan.
“Mau lapor, Bos. Bu Ayra sudah tertangkap polisi.”
Allan menatap Joko dengan serius, kemudian menghela napas panjang. Terlihat raut kelegaan di wajahnya. “Baguslah kalau sudah tertangkap.”
“Bu Ayra juga sudah mengaku bersalah atas kebakaran di restoran dan membuat Bu Giany terkurung di kamar mandi. Selain itu, dia terbukti menggunakan obat terlarang jenis shabu. Ah, satu lagi ... Bu Ayra juga sudah mengakui menyuap beberapa warga di sini untuk menyebar fitnah untuk Bos dan Bu Giany.”
“Ayra benar-benar sudah keterlaluan. ”
“Selanjutnya saya harus apa, Bos?”
“Biarkan Ayra diproses sesuai hukum yang berlaku.”
Tak lama berselang, Giany datang dengan membawa beberapa kantongan belanjaan. Ia meletakkan di dapur, lalu tanpa sepatah kata pun naik lantai atas sambil menangis. Membuat Allan terheran. “Maysha, bunda kenapa?”
“Tidak tahu, Ayah. Tadi ketemu tante terus bunda nangis.”
“Tante siapa, Nak?”
__ADS_1
“Tidak kenal.”
Allan dan Joko pun saling melirik bingung. “Tunggu sebentar, saya ke atas dulu.” Ia segera beranjak menyusul Giany. Begitu membuka pintu kamar, Giany tampak sedang duduk menangis di tempat tidur.
“Sayang, kamu kenapa nangis?” Ia memeluk Giany sambil menyandarkan kepala di bahunya.
“Aku ketemu tetangga di mini market dan mereka bilang ...” Ucapannya menggantung. Ia tak sanggup mengungkapkan hinaan tetangga kepadanya.
Allan mengusap punggung istrinya itu. Meskipun Giany tidak mengungkapkannya, tetapi Allan sudah mampu menebak seperti apa hinaan tetangga yang memiliki mulut pedas.
“Sudah jangan nangis. Nanti aku bereskan mereka. Memang tetangga mana yang menghina kamu tadi?”
“Bu Burhan sama Bu Hery.”
"Ibu-ibu namanya Burhan dan Hery?"
"Bukan, Mas. Itu nama suami mereka, tetangga kan panggilnya pakai nama suami."
“Oh ..." Allan berdecak kesal. "Beraninya mereka menghina Bu Allan.” Meskipun kesal, tetapi ada senyum tipis di sana. Julukan Bu Allan lumayan keren sebagai tanda kepemilikan.
Giany menyeka air mata, kemudian menatap lekat wajah suaminya. “Mas, aku tidak pernah merayu kamu kan? Kita juga tidak kumpul kebo di rumah ini. Kita menikah karena didesak Pak Lurah dan warga.”
“Iya, Sayang. Kamu tidak pernah merayu aku. Malah aku kok yang modusin kamu terus. Nanti aku kasih pelajaran Bu Burhan sama Bu Hery, biar tidak berani ganggu Bu Allan lagi.”
🌻
🌻
__ADS_1