
Allan belum sanggup mengeluarkan sepatah kata pun mendengar ucapan Giany. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa wanita itu akan pergi meninggalkan rumahnya. Menyadari gurat kesedihan yang terlihat di wajah Giany, Allan membawanya ke sebuah ruangan untuk bicara empat mata.
"Kenapa harus pergi? Memang kamu ada tempat yang dituju?" tanya Allan.
Giany menggelengkan kepalanya. Ia memang tidak ada tempat yang dituju atau pun teman dan keluarga untuk mengadu. Satu-satunya tempat yang ia miliki hanyalah di rumah Allan.
"Saya tidak enak dengan Dokter. Saya baru beberapa hari bekerja di sini tapi sudah membuat kesalahan dengan lalai menjaga Maysha. Padahal, di rumah ini saya diperlakukan dengan baik."
Allan menarik napas dalam. Sepertinya ia mulai menebak apa yang ada di benak Giany. "Itu bukan salah kamu, Giany. Maaf, saya tadi kesal bukan karena Maysha terluka."
Giany mengusap air mata yang baru saja mengalir di wajahnya. Bahkan ia tak mengerti, mengapa sikap Allan dingin tadi membuatnya merasa sedih.
Melihat air mata Giany membuat Allan tidak tahan. Ingin rasanya menghapus cairan bening itu dengan tangannya sendiri. "Lagi pula, kamu tega meninggalkan Maysha? Dia akan sangat sedih kalau kamu pergi dari sini. Kamu kan tahu, selain kamu, mana ada yang bisa meluluhkan Maysha."
"Bukannya Maysha sudah ada calon ibu ya, Baby-licious? Ibu bilang, Maysha suka sama dia."
Sebuah kalimat bernada cemburu baru saja lolos dari bibir Giany tanpa sadar, yang membuat Allan tersedak udara.
"Memang ibu bilang apa tentang dia?" Bukannya menjawab, Allan malah menyahut dengan memberi pertanyaan menjebak.
"Ibu bilang ..." ucapan Giany terputus. Ia seolah sedang mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan kalimat itu dari bibirnya.
"Bilang apa?" tanya Allan tak sabar.
"Ibu bilang, Maysha suka sama dia, ibu juga setuju kalau Dokter menikah lagi dengan Baby-licious itu."
"Ibu cuma bilang begitu?"
"Ka-katanya, Dokter juga suka sama dia." Giany menunduk setelah menjawab.
Allan mengusap punggung lehernya. Sebuah gerakan yang reflek timbul saat sedang malu. Tetapi tentu saja, bahasa tubuh Allan belum dapat diartikan oleh Giany.
__ADS_1
"Kalau menurut kamu sendiri, bagaimana?"
Mendapat pertanyaan itu, Giany memberanikan diri menatap Allan. Kedua alisnya saling bertaut membentuk busur panah, yang mana terlihat menggemaskan bagi Allan.
"Mana saya tahu, Dok. Kan saya tidak kenal siapa Babylicious. Namanya saja saya tidak tahu."
Dan, jawaban itu pun membuat Allan membuang napas kasar. Giany memang tidak peka.
"Iya juga sih. Kamu memang belum kenal dia." Allan tersenyum penuh makna. "Babylicious itu baik hatinya, kalau bicara halus, dan yang pasti ibu dan Maysha suka. Kapan-kapan saya kenalin deh. Soalnya si Babylicious ini agak pemalu orangnya."
Setelah mengucapkan kalimat pujiannya untuk Babylicious, Allan memperhatikan gerak-gerik Giany. Meneliti bahasa tubuh wanita itu dan mencari tanda kecemburuan dari sana.
Kamu cemburu kan, bahasa tubuh seseorang yang sedang cemburu itu adalah napasnya lebih cepat, melipat tangan, menyentuh hidung, bersandar di kursi setengah frustrasi.
Allan mencoba mengingat, penjelasan dari sebuah buku yang sengaja dibelinya untuk membaca bahasa tubuh seseorang.
"Maaf, Dokter. Saya harus ke dapur dulu membantu ibu dan Bibi Misa." Tanpa menunggu jawaban, Giany keluar begitu saja dari ruangan itu.
Nah itu dia ciri-ciri terakhir, pergi begitu saja.
Setelah memastikan Giany sudah benar-benar keluar, Allan tertawa kecil. Sepertinya ia sangat puas melihat raut kecemburuan di wajah Giany.
"Sabar Allan, tinggal tunggu ketok palu. Sekarang jalankan rencana selanjutnya. Pendekatan! Kira-kira Maysha bisa bantu tidak, ya?"
🌻
🌻
🌻
🌻
__ADS_1
Makan malam berlangsung dengan diamnya Giany. Entah pikiran apa yang menghinggapi benaknya, yang jelas wajahnya sangat murung. Sangat berbeda dengan Allan. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah tampannya.
Sesekali Giany mencuri pandang pada Allan, kemudian menunduk lagi setelahnya.
Babylicious itu istimewa sekali bagi Dokter Allan ya. Membahasnya saja sudah bisa membuat kemarahan Dokter Allan setelah Maysha terluka langsung hilang. Kenapa aku jadi minder begini ya?
Bu Dini dan Bibi Misa pun diam. Hanya tatapan heran mereka yang bergantian ke arah Allan dan Giany.
Makan malam selesai. Seperti biasa Allan akan menghabiskan waktu dengan bermain bersama Maysha di ruang keluarga. Sementara Bu Dini menonton acara televisi favoritnya. Sementara Giany berada di kamar Maysha. Entah sedang apa.
"Maysha kita main petak umpet yuk," ajak Allan membuat Maysha mengangguk antusias.
"Maysha yang sembunyi, ayah yang jaga. Mau tidak?"
"Ma-uu," jawab Maysha.
Allan tersenyum senang sambil mengusap rambut putrinya. "Maysha mau tidak, ayah kasih tahu tempat sembunyi yang susah di temuin? Ayah pasti susah cari nya kalau Maysha sembunyi di sana."
Walaupun sedang dijebak sang ayah, tetapi Maysha menyahut dengan sangat senang. Bermain petak umpet memang mengasyikkan jika berhasil menemukan tempat yang sulit dicari.
"Sini ayah bisikin tempat sembunyi yang aman." Maysha mendekat, membuat Allan segera berbisik di telinga gadis kecil itu. "Nanti Maysha sembunyi di---" Allan berbisik penuh semangat.
"Sekarang Maysha mengerti, kan?"
Gadis kecil itu kembali mengangguk. Ia meraih tangan sang ayah dan memintanya menutup mata. Sepertinya ide gila Allan kali ini akan sukses besar.
"Ayah tutup mata ya. Maysha cepat sembunyi..Ayah hitung sampai sepuluh."
Maysha segera bangkit dan bergegas menuju sebuah tempat yang tadi dibisikkan Allan untuk bersembunyi.
🌻
__ADS_1