
“Hahaha!”
Allan tertawa terbahak setelah membaca pesan dari Desta. Rasanya begitu puas dengan hasil kejahilannya tadi. Entah mengapa ingin menyiksa Desta lebih lagi.
“Syukurin! Memang enak digampar?! Dulu kamu seenaknya nampar orang, sekarang giliran kamu.”
Ia tertawa lagi sepuasnya. Hingga beberapa saat berlalu, semuanya kembali tenang. Ia melirik Giany yang sudah terlelap dalam balutan selimut. Membelai rambut dan mengecup kening.
Menyibak selimut hingga menampilkan perut yang masih rata. Tangannya terulur mengusapnya lembut. Ia kecup dan bersandar di sana tanpa menindihnya.
“Nak ... Ngidamnya jangan begini dong. Masa ayah ngidam ngerjain orang. Mana ayah jadi senang begini lagi,” bujuk Allan kepada anaknya yang sedang tumbuh di perut Giany. “Tapi kamu tenang aja, Nak. nanti kalau ada kesempatan kita kerjain lagi manusia nyebelin itu. Kamu juga kesel ya karena dia pernah jahat sama bunda? Sama, ayah juga kesel. Kamu yang sabar ya ...”
Merebahkan kepala di atas bantal, Allan kembali memikirkan bagaimana ekspresi Desta setelah mendapat tamparan dari Aluna. Ia tersenyum puas sambil memaki dalam hati. Laki-laki itu menggeser posisi bantal hingga sejajar dengan perut Giany dan kembali merebahkan kepalanya di sana.
“Tidak apa-apa kalau ayah yang ngidam, bukan bunda. Tapi jangan dibikin julid ya ... Ayah mau ngidamnya bikin bunda bahagia saja. Kasihan bunda waktu hamil pertama,” ucapnya sekali lagi sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri. Menempelkan wajahnya di perut.
Allan tertidur setelah sesi curhat dengan calon anaknya.
🌻
🌻
🌻
Perlahan kelopak mata Giany mulai terbuka ketika indra penciumannya menangkap aroma masakan. Ia meraba tempat di sebelahnya. Kosong, tidak ada sosok suami yang selama ini selalu berada di sisinya saat baru terbangun.
__ADS_1
“Mas ...” panggilnya dengan suara serak. Ia bangun dan bersandar di tempat tidur. Efek kehamilan kali ini membuatnya merasa malas bergerak. Bahkan saat shalat subuh tadi Allan harus membangunkan dengan memercikkan air ke wajahnya, dan selepas ibadah ia tertidur lagi.
Giany meraih jubah piyama dan keluar dari kamar. Pandangannya berkeliling ke setiap sudut villa besar dan mewah itu. Kakinya melangkah mengikuti aroma masakan. Hingga tiba di sebuah ruangan yang pintunya terbuka setengah. Bau masakan itu berasal dari sana. Giany segera memasuki dapur dan mendapati suaminya sedang sibuk memasak.
Setelah menjalani ibadah subuh tadi Allan sudah menghilang dari kamar dan menuju dapur untuk membuat sarapan. Seolah ingin membayar derita Giany pada kehamilan pertamanya, kali ini ia ingin memanjakan dan menjadikannya wanita paling bahagia di dunia.
Senyum tipis terbit di sudut bibir Giany. Ia mendekat dan memeluk Allan dari belakang, menyandarkan kepalanya dengan manja.
Tahukah kalian wahay penduduk Galaxi Noveltoon, diperlakukan seperti itu oleh Giany mampu membuat manusia bernama Dokter Allan Hadikusuma merasa melayang ke nirwana. Ia merasa sangat dibutuhkan sebagai suami. Ya, Sesederhana itulah cara membahagiakannya.
“Sayang ... sudah bangun ya ...” ucapnya tanpa menoleh. Ia terfokus kepada masakannya.
“Mas masak apa?”
“Tapi Mas kan bilang tidak boleh makan daging yang setengah matang saat sedang hamil.”
“Memang sebaiknya tidak. Makanya ini dagingnya aku masak dulu sampai matang, terus baru dipanggang.”
“Oh ...”
“Lepas dulu tangannya coba, aku susah masaknya ini.” Allan membawanya untuk duduk di sebuah kursi di sebelahnya. “Duduk sini dulu ya. sebentar lagi jadi kok.”
Allan kembali berkutat dengan kegiatan memasaknya. Giany menatapnya dengan senyuman. Hanya satu hal yang ia rasakan saat ini, bahagia. Karena Allan memberinya apa yang bahkan tidak pernah terlintas dalam angannya.
“Dapat daging dari mana, Mas? Bukannya ini tengah hutan ya?”
__ADS_1
“Kayaknya si Maliq suruh penjaga villa simpan banyak bahan makanan di freezer, biar kita betah di sini.”
“Temannya Mas baik ya.”
“Iya. Cuma kadang nyebelin, suka nyulik orang.”
“Loh kok gitu?”
“Namanya juga mafia,” jawab Allan santai, sedangkan Giany selalu merinding saat suaminya menyebut kata mafia. Bukankah mafia adalah seseorang yang sangat jahat dan kejam? Ia penasaran, bagaimana Allan dapat memiliki teman seorang mafia.
Sesi memasak selesai, Allan meletakkan steak daging ke hadapan Giany. Dari baunya saja sudah membuat Giany tidak sabar untuk melahapnya. Ia meraih garpu dan pisau, memotong dengan penuh semangat dan membuka mulut lebar-lebar.
“Eh sebentar!” sambar Allan dengan cepat, membuat garpu menggantung di udara.
“Kenapa Mas?”
“Berdoa dulu, Sayang ... biar makannya berkah masuk ke badan. Kamu mau makannya ditemani setan?”
Mata Giany memicing mendengar ucapan suaminya. “Makan ditemani setan? Hehe, berarti setannya Mas Allan donk.”
“Gianyyyy!!!” ucap Allan gemas seraya mengacak rambut Giany.
🌻
🌻
__ADS_1