
Hari itu Allan datang ke kantor lebih awal bersama Beni untuk untuk mencari tahu penyebab lift mengalami malfungsi. Pak Ardan baru saja masuk ke dalam ruangan untuk melaporkan hasil penyelidikannya.
“Selamat pagi, Pak Allan, Pak Beni ...” ucapnya dengan ramah.
“Pagi, Pak Ardan,” balas Allan dan Beni bersamaan.
“Bagaimana liftnya, Pak?” tanya Beni.
“Lift sedang proses perbaikan. Mungkin besok sudah bisa digunakan kembali,” jawab Pak Ardan.
Mereka kemudian duduk di sofa. Allan menuangkan teh hangat ke dalam cangkir dan menggeser ke hadapan Beni dan Pak Ardan. “Apa sudah ketahuan penyebabnya, kenapa lift mengalami malfungsi?”
Pak Ardan menyeruput teh hangat pemberian Allan, nikmat melewati kerongkongan. Seolah teh hangat itu memberinya kekuatan untuk menjelaskan kepada sang bos. “Sudah, Pak. Lift error karena kelebihan muatan. Staf bagian gudang memindahkan barang dari lantai sepuluh ke lantai dasar tanpa mempedulikan kapasitas lift.”
Jawaban Pak Ardan pun membuat Beni menghela napas kasar. Sudah terlihat aura kemarahan di sana, berbeda dengan Allan yang masih cukup santai.
“Panggil kepala staf gudang dan beberapa orang yang bertanggungjawab dalam hal ini!” ucap Beni.
“Ba-baik, Pak.”
__ADS_1
Pak Ardan kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Dalam beberapa menit kemudian, tiga orang pria sudah masuk ke dalam ruangan dengan saling mendorong satu sama lain layaknya ibu-ibu kompleks yang ketahuan melakukan kesalahan.
Kontan mata mereka melotot saat melihat siapa yang sedang duduk di sofa bersama Beni dan Pak Ardan.
“Do-Dokter Allan?” ucap salah seorang di antaranya.
Allan mengerutkan dahi. Ia juga tidak menyangka bertemu tiga orang itu di kantor. “Pak Burhan, Pak Hery, Pak Jefry?”
Pak Ardan dan Beni melirik Allan penuh tanya. “Pak Allan kenal mereka?” tanya Pak Ardan.
“Kenal lah, Pak. Mereka tetangga saya,” jawab Allan sambil tersenyum.
“Mari silakan duduk.” Allan menunjuk sofa di depannya.
Pak Burhan, Pak Hery dan Pak Jefry masih mematung. Terlihat cukup syok bertemu bos besar yang ternyata adalah Allan. Seorang dokter yang dikenal bergaya hidup sederhana yang menjadi tetangga mereka.
Mereka bukannya tidak mengetahui bahwa Dokter Allan Hadikusuma adalah pemilik May-Day. Karena saat peluncuran produk baru telah melihat Allan di tayangan TV. Tetapi, sebagai karyawan dengan jabatan rendah, tentu dipikirnya tidak mungkin akan bertemu dengan sang bos di kantor, sehingga Allan tidak mungkin akan tahu bahwa mereka adalah salah satu staf May-Day. Namun, kejadian kemarin telah memaksa mereka saling berhadapan.
“Saya tidak menyangka kalau ternyata Pak Burhan, Pak Hery dan Pak Jefri adalah salah satu staf May-Day,” ucap Allan ramah.
__ADS_1
“I-iya, Dokter. Senang bertemu,” jawab Pak Burhan kaku dan gemetar.
Jika Allan sangat ramah, maka Beni terlihat sedang menahan kemarahan. Sebagai pemimpin tertinggi perusahaan, ia tidak dapat menerima keteledoran sekecil apapun, terlebih kelalaian kemarin membahayakan keselamatan Bu Bos.
“Jelaskan ke saya, apa yang membuat kalian begitu lalai dalam bekerja. Apa kalian tidak sadar kalau kesalahan kalian kemarin sudah membahayakan Bu Giany?” ucap Beni setengah membentak.
Pak Burhan, Pak Hery dan Pak Jefri pun menunduk. Antara takut dan merasa bersalah. Entah harus kemana menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Ma-maaf, Pak. Saya bersalah," ucap Pak Burhan yang merupakan kepala staf gudang.
"Enak ya, tinggal minta maaf. Kalian digaji untuk bekerja sebaik-baiknya. Kalian harus bertanggungjawab untuk semua kerusakan dan kerugian yang kalian timbulkan!"
"Kami siap, Pak Beni!"
“Kalian saya pecat saat ini juga!” ucap Beni membuat Allan menatapnya terkejut.
🌻🌻🌻🌻
Demi kalian, aku akan ngasih bonus kreji up hari ini.
__ADS_1
Salam uyel uyel dari Kota Daeng! 🤭😚