Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 87


__ADS_3

Bu Dini baru saja masuk ke dalam kamar. Ia cukup heran melihat Allan yang sudah rapi dengan setelan jas, sementara Giany masih berpakaian santai.


“Allan, Giany tidak ikut dengan kamu ke peluncuran produk baru?”


“Tidak, Bu.”


“Kenapa? Kamu kan bisa sekalian mengumumkan pernikahanmu dan mengenalkan Giany.”


Allan membenarkan dasi yang melilit di kerah kemeja, kemudian menatap sang ibu. “Bu ... Maysha saja yang menjadi ikon May-Day aku sembunyikan, apalagi Giany. Aku tidak mau media sampai mencari tahu tentang Giany ataupun keluarga kita.”


“Oh ... Ya sudah kalau begitu. Ibu pikir kamu akan mengajak Giany pergi.”


“Tidak lah, Bu. Kalau dulu aku bawa Giany ke acara Darmawan Group, itu karena media tidak tahu siapa Allan Hadikusuma." Ia kemudian mendengus kesal. "Gara-gara si Beni ini, aku terpaksa menunjukkan diri sekarang.”


Bu Dini hanya terkekeh. “Lagian kamu juga aneh. Menyembunyikan identitas terus, kayak anak sultan saja.”


“Lebih enak hidup seperti sekarang, Bu. Sederhana, jauh dari gangguan media, hidup juga lebih tenang.”


"Iya sih, kamu benar."


Allan melirik arah jarum jam di pergelangan tangan. Sebentar lagi acara akan dimulai. Ia tidak boleh terlambat.


🌻


🌻


🌻


Allan tiba di sebuah hotel mewah tempat diadakannya peluncuran produk baru May-Day. Beberapa petinggi perusahaan dan para pemegang saham pun menyambutnya dengan hormat, karena ini adalah pertama kalinya Allan memunculkan diri sebagai pemilik perusahaan setelah May-Day didirikan.


Banyak pula diantaranya yang langsung menghampiri untuk berkenalan. Sebagian hanya menatap dari jauh. Entah karena malu atau tidak berani menyapa sang bos. Padahal Allan sangat lah ramah kepada siapapun.

__ADS_1


Suasana semakin ramai, para tamu penting sudah berdatangan memadati ruangan luas itu. Beberapa awak media pun sudah sedari tadi mengambil gambar dan video. Tentunya mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mencari tahu sosok misterius di belakang suksesnya May-Day, yang selama ini tidak terendus media.


Allan sedang mengobrol dengan beberapa rekan bisnis yang juga merupakan teman lamanya. Sesekali terdengar tawa kecil di sana.


"Ada angin apa sampai mau datang ke acara seperti ini? Biasanya kan lebih senang di rumah," ucap Rayhan, seorang teman Allan yang juga merupakan salah satu pemegang saham.


"Ini semua gara-gara si Beni. Dia sedang keluar negeri."


"Untung Pak Beni keluar negeri. Jadi bos yang sesungguhnya keluar dari persembunyian. Haha!" kelakar Wira, salah seorang teman lainnya.


"Oh ya, kenapa istrimu tidak diajak kemari?"


"Istriku lebih senang di rumah dari pada bepergian keluar," jawabnya santai. Padahal ia memiliki beberapa alasan kuat mengapa tidak membawa serta Giany ke acara penting itu.


Di sudut yang berbeda, Desta baru saja tiba bersama Aluna, Rendy dan seorang teman lainnya. Mereka memilih duduk meja tengah. Desta telah menyiapkan diri dengan baik hari ini, ia diberi kepercayaan untuk memegang pemasaran produk baru oleh Pak Ardan. Mungkin ini akan menjadi kesempatan baginya untuk bisa dekat dengan sang bos besar.


"Aku dengar pemilik May-Day akan datang ke peluncuran produk ini ya?" tanya Aluna.


"Kira-kira seperti apa bos kita ya? Aku sangat penasaran."


Desta hanya terdiam mendengar pembicaraan Alun dan Rendy, walaupun ia sama penasarannya dengan mereka.


Tiba-tiba sepasang matanya memicing saat mendapati seseorang yang kini menjadi rival dalam hidupnya.


Mau apa dokter sialan itu ke peluncuran produk baru May-Day? Baiklah, akan aku beri dia pelajaran yang berharga malam ini yang akan sulit dia lupakan. ucap Desta dalam batin.


Ia lalu berdiri dari duduknya.


"Mau kemana, Des?" tanya Aluna.


"Sebentar, aku ada urusan." Desta menerbitkan senyum sinis saat mendapati Allan sedang berdiri seorang diri di sudut ruangan, sepertinya sedang menerima telepon.

__ADS_1


Perlahan ia mendekat tanpa tahu kejutan apa yang sedang menantinya. Yang mungkin akan membuatnya terkena serangan jantung dadakan.


"Saya tidak menyangka kalau orang seperti kamu bisa diundang ke acara penting seperti ini."


Suara Desta membuat Allan menoleh. Sontak raut wajahnya berubah datar. "Kamu tidak ada kapoknya berurusan dengan saya, ya? Yang kemarin masih kurang?"


Desta terkekeh. "Kemarin kamu menang. Tapi lihat saja hari ini. Kamu belum tahu siapa saya."


"Penting bagi saya untuk tahu siapa kamu?" jawabnya santai.


"Saya bisa menendang kamu keluar dari sini."


Allan hanya menyahut dengan senyuman tipis. Hingga pembicaraan itu terhenti oleh kehadiran seorang pria.


"Desta, Pak Allan, rupanya kalian sudah saling kenal ya? Wah, saya baru mau mengenalkan," ucap Pak Ardan.


"Sepertinya tidak perlu, Pak. Saya sudah tahu siapa dia. Seorang dokter kandungan yang bekerja di RSCH milik keluarga Darmawan. Selain itu dia adalah seorang ..." Ia sengaja menggantung ucapannya seolah menyindir.


Allan membuang muka malas. Sementara Pak Ardan terlihat cukup heran menyadari nada bicara Desta yang terdengar sarkas.


Habis kamu kali ini! dalam batin Desta.


"Kamu tidak pernah memberitahu saya kalau kamu mengenal Pak Allan," ucap pria berusia 40 tahunan itu.


"Maaf, Pak. Tapi saya rasa itu tidak penting," jawab Desta penuh kesombongan.


Alis Pak Ardan mengerut. Ia meraba tengkuknya saat menyadari tatapan datar Allan. Terlebih Desta sebagai bawahannya terkesan kurang sopan terhadap bos besar.


"Desta, sepertinya kamu belum tahu, Dokter Allan Hadikusuma adalah bos kita, pemilik May-Day Group sekaligus pemegang saham terbesar. Pak Allan, ini Desta, dia adalah calon manager marketing yang saya rekomendasikan."


Kontan bola mata Desta melebar mendengar ucapan Pak Ardan. Gelas minuman yang ada di genggamannya terjatuh ke lantai. Jangan lupakan wajahnya yang telah berubah pucat dalam beberapa detik saja.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2