Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 56


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Giany telah memulai hidup baru tanpa adanya bayang-bayang Desta. Sejak keluar dari sel tahanan, Desta benar-benar tidak pernah mengusik kehidupan Giany lagi. Apalagi bila mengingat ancaman mematikan dari Allan yang sudah cukup untuk menakutinya.


Kini Desta sedang fokus mengejar karier dan jabatan tinggi yang sudah di depan mata.


_


Malam hari ... selepas jam makan malam selalu dimanfaatkan Allan untuk bermain bersama putri kesayangannya. Tawa ceria Allan dan Maysha menggema memenuhi setiap sudut. Mereka saling berkejaran ke sana kemari. Hingga sebuah ide kembali tercetus di benak Allan. Ia menangkap tubuh Maysha.


"Maysha mau ayah bantu cari tempat sembunyi, tidak?" tanya Allan membuat Maysha mengangguk antusias.


"Sini ayah bisikin." Maysha mendekatkan telinganya agar dapat mendengar bisikan dari Allan. "Nanti Maysha sembunyi belakang punggung Kakak Giany. Pasti ayah susah tangkapnya kalau Maysha sembunyi di sana."


Alis Maysha mengerut. Ia terlihat cukup bingung mendengar ucapan sang ayah. "Tidak ma-u, A-yah suka bo-hong!" ucapnya terputus-putus.


Allan terperanjat, lalu menggaruk kepala tidak jelas. "Sejak kapan ayah suka bohong? Kalau tidak percaya coba aja sembunyi di belakang kakak Giany."


"Be-nar?" Maysha menatap curiga.


"Iya."


"Oke."


"Ya sudah, cepat sana!"


Maysha pun segera berlari menuju dapur di mana Giany sedang membuat kue klappertart kesukaan Allan. Gadis kecil itu berlindung tepat di belakang punggung Giany dan tentu saja semua itu hanyalah modus dari Allan.


Terkejut dengan Allan dan Maysha yang tiba-tiba berada di dapur, tanpa sengaja Giany menumpahkan adonan kue dan tepat mengenai wajah Allan yang sedang menunduk saat hendak meraih tangan Maysha.


"Ma-maaf, Dokter, saya tidak sengaja." Giany terlihat panik menyadari wajah Allan penuh dengan adonan kue.

__ADS_1


Allan menyembunyikan seringainya. Memang ini yang ia harapkan. "Kamu sengaja kan, menumpahkan adonan kue di wajah saya?" tuduhnya.


"Tidak! Kan dokter yang tiba-tiba datang."


"Saya tidak mau tahu. Kamu tanggung jawab dong!" ujarnya pura-pura ketus.


"I-iya saya bantu bersihkan." Giany meraih beberapa lembar tissue, kemudian mulai mengusap wajah Allan.


Seperti ini kan enak. Kapan lagi bisa dielus-elus begini...


Allan bersorak dalam batin. Padahal hanya diusap menggunakan tissue, tetapi sudah cukup untuk membuatnya merasa melayang di udara.


Seketika rasa bahagia Allan menghilang begitu melihat Amir masuk ke dalam, sepasang matanya sudah melotot tajam. Amir baru akan mengeluarkan kalimat andalannya, tetapi sudah dipotong duluan oleh Allan.


"Mau apa lagi kamu kemari?!" tanya nya ketus.


"Mau lapor, Bos!"


Amir hanya tersenyum getir. Tetapi raut wajahnya kemudian terlihat sangat serius. "Bos, itu di depan ada banyak warga, Pak RT dan ada Pak Lurah juga seperti yang waktu itu. Katanya mau bicara dengan Bos."


Alis Allan mengerut pertanda bingung, lalu tiba-tiba terlihat sangat kesal. "Ada apa lagi, sih? Senang ya mereka ganggu orang malam-malam."


"Sepertinya ... masalahnya cukup penting, Bos."


Allan menghela napas panjang, kemudian segera beranjak keluar menuju teras. Dan benar apa yang dikatakan Amir. Ada puluhan warga yang datang bersama RT dan lurah setempat. Allan menatap mereka satu persatu. Di antaranya ada yang saling berbisik, ada pula yang menyebut kata kumpul kebo secara terang-terangan di hadapan Allan.


"Maaf, ada apa ini sebenarnya?" tanya Allan mulai kesal.


Seorang pria yang merupakan lurah setempat segera menjawab, "Dokter Allan, saya menerima laporan dari warga, bahwa Dokter Allan telah melakukan kumpul kebo dengan seorang wanita bernama Giany Namira. Bahkan menurut laporan warga, Giany Namira tinggal di rumah Dokter saat masih berstatus istri orang."

__ADS_1


Rahang Allan mengeras mendengar tuduhan yang baginya sangat keji itu. Ia tidak habis pikir ada warga yang tega menuduhnya.


"Mana orangnya yang melaporkan saya, Pak? Saya mau bicara!" seru Allan tak terima.


"Maaf, Pak Lurah ... Kami memang pernah menerima pengaduan dari suami Bu Giany bahwa Dokter Allan sudah membawa pergi istrinya tanpa izin," ucap seorang pria diikuti anggukan beberapa orang pria lainnya yang membenarkan.


Adu mulut antara Allan dan beberapa warga pun tak terhindarkan. Mereka semua seolah bersatu melawan Allan.


"Bukannya masalahnya sudah jelas waktu itu ya? Kalian kan sudah melihat buktinya sendiri bahwa Giany adalah korban kekerasan dari suaminya sendiri? Bahkan waktu itu bekas penganiayaan masih terlihat jelas di tubuh Giany."


"Tapi walaupun begitu tidak dibenarkan bagi warga untuk melakukan kumpul kebo! Kami lihat sendiri Dokter Allan sering pergi berdua bersama wanita itu. Belum lagi kalian serumah, jadi hal-hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi," seru beberapa orang warga secara bersamaan.


"Pak Lurah, jangan sampai ada warga yang mencoreng nama baik kelurahan kita. Apalagi seorang dokter."


Allan semakin menggeram, kedua tangannya sudah mengepal hingga gemetar menahan amarah. "Kalian kalau mau menuduh pikir-pikir dulu. Mana mungkin saya kumpul kebo. Kalian lihat sendiri di rumah ini saya tidak tinggal berdua dengan Giany. Ada ibu saya, anak dan seorang asisten rumah tangga. Ada dua penjaga rumah juga. Kalau kumpul kebo itu tinggalnya berdua, bapak-bapak."


"Dokter Allan, lebih baik kita bicarakan masalah ini di rumah saya, untuk mencari jalan keluarnya," ucap Pak Lurah.


Allan mendengus, ia melirik Giany yang tampak sangat terkejut.


_


Dari jarak aman, seulas senyum kepuasan terbit di wajah seorang wanita.


Tidak terima dengan penolakan membuat Ayra gelap mata. Sekeras apapun usahanya, tetap tidak dianggap oleh Maysha maupun Allan.


Wanita itu akhirnya mengambil jalan pintas, menyuap beberapa orang warga untuk menyebarkan fitnah dan menuduh Allan dan Giany melakukan hubungan terlarang. Dengan harapan Giany akan diusir dari lingkungan tempat Allan tinggal.


"Kali ini pasti berhasil. Giany akan diusir oleh warga setempat," gumam Ayra sambil tersenyum licik.

__ADS_1


🌻


__ADS_2