
“Memangnya Mas merasa tersindir?” Giany langsung tertawa kecil setelah mengucapkan pertanyaan itu.
“Iya lah. Orang kamu sengaja.”
"Tidak." Giany kemudian mengeluarkan beberapa kotak makanan yang dibawanya untuk Allan. Ia pun mulai menyuapi makan suaminya yang mendadak menjadi sangat manja melebihi Maysha.
Allan membuka mulut lebar-lebar dan mengunyah dengan penuh semangat untuk setiap suapan yang mendarat ke mulutnya. Hingga tak terasa semua makanan yang dibawa Giany habis tanpa sisa.
“Makasih, Sayang. Masakan kamu memang paling enak.”
"Sama-sama, Mas."
Ia mengusap puncak kepala Giany dengan penuh kasih sayang. Seperti inilah sosok istri yang diharapkan Allan menjadi pendamping hidupnya hingga ajal memisahkan. Giany wanita yang sederhana dan hampir tidak memiliki obsesi dalam hidupnya selain harapan bahagia.
Menjadi istri seorang Allan Hadikusuma pun tidak membuatnya lupa diri. Giany bisa saja hidup dalam kemewahan dan serba dilayani bagai seorang ratu. Tetapi wanita itu malah tidak memanfaatkan segala kenyamanan dan fasilitas yang diberikan Allan. Ia tetap memasak, mengurus Maysha, dan melayani suami layaknya seorang istri pada umumnya.
Dan Allan ... Ia mungkin memanjakan Giany dan memberi semua, tetapi tetap mengajarkan untuk selalu melihat ke bawah. Agar saat jatuh mampu bersabar, dan saat sedang di atas selalu bersyukur.
“Oh, ya ... Ini kartu ATM kamu, sudah dibuatkan yang baru,” ucapnya sambil memberikan sebuah kartu.
“Makasih, Mas.”
“Tapi maaf, Sayang. Itu bukan black card seperti di novel-novel. Aku tidak sekaya itu,” kelakarnya membuat Giany menyandarkan tubuhnya dengan manja dan memberi kecupan di wajah suaminya.
“Yang penting Mas Allan tidak seperti suami kejam, dingin dan arogan seperti di novel-novel.”
__ADS_1
Tidak, Sayang. Kamu akan kujaga selamanya. Susah tahu dapat kamu, sampai harus pakai misi merebut istri orang segala. Istri karyawan sendiri lagi. Allan, Allan dasar pendosa! jerit Allan dalam batin.
Allan terkekeh. Jika mengukur kadar kebucinannya yang lebih banyak dari air asin di lautan dan lebih dalam dari Palung Mariana, maka mustahil jika ia dapat berbuat kasar kepada Giany.
Mereka telah menjadi pasangan paling unyu dalam galaksi Bima sakti. Mengalahkan Romeo dan Juliet, Layla dan Qais, Cleopatra dan Mark Anthony, Odysseus dan Penelope, Jack dan Rose, Goku dan Cici.
Puas memeluk, Allan kemudian duduk kembali di kursi, menyalakan laptop dan membuka beberapa email sambil sesekali melirik Giany.
Bibirnya tersenyum manakala mendapati Giany yang tampak begitu antusias menatap beberapa bangunan tinggi yang berdekatan dengan gedung kantornya melalui jendela. Apapun tentang Giany, yang ada dalam pandangan Allan hanya ... Menggemaskan.
“Sayang ...” panggilnya membuat Giany menoleh.
“Iya, Mas.”
“Sini dulu sebentar.”
“Mas, ini kantor loh.”
“Memang kata siapa di sini kuburan?”
“Nanti ada yang lihat.”
“Tenang saja. Karyawan kantor ini tidak ada yang kayak si Amir, yang suka nyelonong. Kalau mau masuk, pasti ketuk pintu dulu.”
"Mas tahu dari mana? Mas Allan kan baru di kantor ini."
__ADS_1
"Kan tidak sopan kalau tidak ketuk pintu. Karyawan mana selain si Amir yang punya keberanian ekstrim begitu?"
Laki-laki itu kembali menghujani Giany dengan kecupan, jangan lupakan tangannya yang melingkar di tubuh Giany dengan posesifnya. Seolah ingin menunjukkan kepada semua benda yang ada di dalam ruangan itu bahwa inilah Bu Allan, maharani dalam hidupnya, miliknya seorang.
Bahkan Allan tak lagi sadar bahwa di ambang pintu telah berdiri seseorang yang menatap kemesraan mereka dengan perasaan sedih bercampur cemburu.
Desta membeku. Ingin segera keluar, namun Allan terlanjur menyadari keberadaannya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Giany ada di dalam. Lagi pula pintu ruangan itu terbuka setengah. Baru mau mengetuk, tetapi sudah disuguhkan oleh pemandangan yang menyakiti mata dan hatinya, yang membuat sendi-sendinya terasa lemas.
Selembut itukah Allan memperlakukan Giany? Pikiran-pikiran itu membekas di benaknya.
“Loh, Desta ... Sejak kapan kamu di situ? Kok tidak ketuk pintu?”
“Maaf Pak, pintunya terbuka. Saya pikir ..." ucap Desta dengan sisa keterkejutannya.
"Oh, ya sudah tidak apa-apa."
"Ini ada yang harus ditandatangani.”
"Bawa kemari."
Desta segera menggeser map ke hadapan Allan, lalu dengan cepat Allan membubuhkan tanda tangannya.
Sementara Giany semakin menempelkan tubuhnya pada Allan, membenamkan wajahnya di bahu suaminya. Giany bukan bermaksud pamer kemesraan, tetapi ketakutannya kepada Desta masih mendominasi.
“Tidak apa-apa, Sayang. Jangan takut,” bisik Allan lembut.
__ADS_1
Tidak apa-apalah pamer kemesraan sedikit. Biar Desta tahu cara memperlakukan istri. supaya kedepannya, kalau menikah lagi, dia bisa memperlakukan istrinya lebih baik dan tidak kasar melulu. batin Allan.
🌻